goresan tulisan sederhana

Jumat, 02 Desember 2016

Terselip Doa Dalam Hujan

Seminggu dan beberapa hari yang lalu Bandung lagi senang dikunjungi hujan yang sangat deras beriringan dengan hembusan angin yang saat itu gemar sekali bersuara. Hari itu cuaca Bandung sedang tak menentu. Kadang panas dan kadang hujan. Siang itu tepat pukul 12.00 saya keluar untuk memutuskan membeli makan siang yang akan saya makan di ruangan saja. Males keluar, itu adalah kata yang tepat untuk menggambarkan situasi saat itu. Takutnya saat saya keluar, hujan tiba-tiba datang. Mungkin itu sebuah doa. Saat saya memutuskan untuk keluar, kurang lebih 10 menit, hujan tiba-tiba deras. Maka saya memutuskan untuk tetap berada di warung itu karena saya tidak membawa payung. Pikir saya hanya sebentar saja dan bersebelahan dengan gedung kantor, maka memutuskan untuk tidak membawanya. Menunggulah saya kurang lebih 20 menit. Eh datanglah seorang yang saya kenal membawa payung. Rejeki anak sholeh! kalau kata orang. :D 

"Bu, lagi nunggu apa?" Eh iya, saya sedang nunggu hujan nih, tiba-tiba hujan gini." "Muhun bu". Dia seorang laki-laki yang bekerja di kantor saya. Dia memang bukan staf seperti kami yang sehari-hari diam di ruangan. Dia ke sana kemari, diminta bantuan semua orang untuk membeli ini itu atau membawakan sesuatu. Bagi saya berteman dengan mereka menyenangkan. Tak canggung bersenda gurau atau saling menyapa. Mungkin pekerjaan mereka tidak sama dengan kami, tapi mereka selalu ada saat kami butuhkan. Kalau bertemu dengannya setiap pagi di lobby atau di lift, dengan *someah-nya diapun menyapa. Siang itu saya berdua dengan teman, berteduh di warung itu. Akhirnya dia menawarkan diri bagaimana kalau diantar ke kantor secara bergantian. Kamipun menyetujuinya. Saya diantar paling terakhir. Pakai payung berdua dengan seorang yang mungkin dia merasa tidak sepadan dengan saya, dia merasa canggung. Bagaimana tidak? kayak di FTV atau film-film India gitu, sepayung berdua. hahaha tapi bukan itu masalahnya. Saya sih tidak merasa "kagok" karena saya menganggap mereka seperti teman dan sayapun lebih muda darinya. 

Sepanjang perjalanan ke gedung kantor dia bertanya dan menyelipkan sedikit doa kepada saya. "Ibu teh belum menikah kan ya? Saya doakan ibu yah semoga mendapatkan suami yang baik, yang mencintai ibu tulus lahir dan batin." Sejenak saya tertegun dengan ucapannya. Mendoakan orang dan berdoa disaat hujan itu InsyaAllah doa yang tak tertolak. Itu mungkin yang saya rasakan. "Bu, biasanya doa orang-orang seperti kami suka dikabulin lho. Apalagi ini lagi hujan" ~ "Wah.. Aamiin ya kang! terima kasih karena udah ngedoain saya nih.." balas saya. Doa singkat itu, berakhir pas saat kami sampai di samping lobby kantor. Saya sempat berpikir kenapa ya tiba-tiba dia mengucapkan kata itu?

Ini bukan tentang siapa kita, apa jabatan, dan pekerjaan kita. Ketika ada orang-orang yang secara tulus mendoakan kita, secara tidak langsung kita berarti mendapatkan keadaan yang baik dihadapan mereka. Kejadian hari itu mungkin bukan apa-apa bagi orang lain, tapi bagi saya ini adalah sebuah hikmah. Jangan pernah sungkan dan berhenti untuk mengucapkan terima kasih serta mendoakan orang lain disaat kita masih bisa mendoakannya. ☺ Karena doa itu datangnya dari mana saja bukan karena siapa kita. Semoga segera dikabulkan ya kang! ;-) Salam dan Syukriya! ☺☝

*someah: ramah


                                                          https://rumaysho.com/wp-content/uploads/2013/11/hujan_9.jpg


Share:

Jumat, 18 November 2016

PINK | Mengungkap Sebuah Kasus

Kali ini saya akan membahas resensi film Bollywood lagi. ☺ Film ini sempat ada selama satu minggu di bioskop Indonesia rilis ditanggal yang sama. Seperti biasa film Bollywood tak selama film-film lainnya tinggal di bioskop Indonesia. Ya.. lagi-lagi karena kurangnya penonton film Bollywood.. he.. hee..

Kali ini saya akan membahas mengenai film India bergenre drama thriller berjudul Pink, rilisan September 2016, besutan sutradara Aniruddha Roy Chowdhury dan penulis Ritesh Shah. Film ini dibintangi oleh Aktor Senior yang namanya sudah tidak asing didunia Bollywood, Amitabh Bachchan bermain dengan aktor/aktris film pendatang baru. Film Pink ini mengisahkan tentang seorang pengacara paruh baya Deepak Sehgal (Amitabh Bachchan) yang menderita bipolar disorder yang ingin berjuang memecahkan kasus pelecehan seksual yang dialami tiga orang gadis dari gangguan pria yang memiliki kekuatan/pengaruh kuat di India. 

Tiga gadis tersebut Minal Arora (Taapsee Pannu), Falak Ali (Kirti Kulhari) dan Andrea (Andrea Tariang) tinggal bersama sebagai penyewa rumah di Delhi Selatan dan bekerja profesional di bidangnya masing-masing. Suatu malam, Rajveer dan teman-temannya mabuk dan berusaha menggerayangi Arora dan dua teman sekamarnya yang menyebabkan pertikaian dan kekerasan. Rajveer kemudian mencoba untuk melakukan hubungan intim dengan Minal, gadis tersebut menolak. Lalu Minal mengambil botol dan mengenai mata Rajveer, tahu terluka parah tiga gadis tersebut meninggalkannya.

Merasa diabaikan, Rajveer dan teman-temannya ingin membalaskan dendam mereka dengan mencoba mengancam mereka dan pemilik rumah. Minal bahkan diculik dan dianiaya oleh teman-teman Rajvir dalam mobil yang bergerak. Minal (dengan dukungan dari temannya) akhirnya melapor kepada polisi setempat tentang Rajvir dan teman-temannya. Namun, polisi membalikkan tuduhan mereka karena telah menghilang saat kejadian malam itu dan menganggap Minal sebagai buronan. Dalam beberapa persidangan Rajveer menyampaikan laporan tidak menyenangkan mengenai tiga gadis tersebut. Rajveer merasa orang yang berpengaruh di India, ia memanfaatkan kesempatan itu. Minal kemudian dikenakan biaya untuk percobaan pembunuhan dan bisa menghadapi hukuman penjara selama lebih dari 10 tahun, jika terbukti bersalah. Akhirnya gadis-gadis lain diberi label sebagai terdakwa. Deepak seorang pengacara senior dengan pembawaanya yang dingin, ini juga menjadi keraguan bagi tiga gadis tersebut apakah Deepak berhasil menolong mereka?

Bagaimana kelanjutannya? Silakan menonton ya kawan.. hehehe   

Amitabh Bachchan sudah tidak diragukan perannya memainkan tokoh ini. Begitu pula lawan mainnya yang apik dalam memerankannya dengan segala emosinya. Film ini berhasil menjadi film box office di India dan dunia dan meraih keuntungan yang besar. Film-film di India selalu saja mengecoh para penonton dengan jalan cerita yang tidak mudah ditebak. Saya bertanya-tanya mengapa mengambil judul film "PINK", apa karena tentang perempuan? dan menurut sutradara dan penulis cerita, kita akan tahu maknanya setelah menontonnya. Singkat penjelasan artinya tentang kekerasan atau pelecehan seksual kepada wanita dalam bahasa gaul jalanan. 

 "...the various urban dictionaries online define “pink” as a reference to forced and often cruel or threat based occupation of a vagina by an unwelcome penis. That’s about as hard-hitting as it gets, there are other racial undertones also, which I first heard about, way-way back in the ’70s." In simpler terms, "vagina of the sort that is bought, with violence." -- sumber: > "Meaning of Pink" <

Kekurangan dari film ini cukup membosankan bagi penonton-penonton yang tidak senang dengan genre film seperti ini. Kekuatan dari film ini adalah bagaimana seorang Deepak yang sedang sakit atau memiliki gangguan psikologis, mengungkap kasus tiga gadis yang juga tetangganya, didukung dengan bagaimana ia berjuang dan ikhlas membantu mereka. Ini bukan hanya soal pelecehan, kasus kriminal, tapi juga soal hati nurani. ☺




PINK | 2016 | Sutradara: Aniruddha Roy Chowdhury | Penulis Naskah: Aniruddha Roy Chowdhury, Shoojit Sircar, Ritesh Shah| Pemain: Amitabh Bachchan, Taapsee Pannuu, Kirti Kulhari, Andrea Tariang, Angad Bedi, Vijay Varma, Raashul Tandon, Tushar Pandey | 
  
Share:

Senin, 24 Oktober 2016

di-OSPEK Lagi!

Di-ospek lagi! heuheu Ospek menurut banyak sumber memiliki arti yakni Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus. Iya saya memang tak menjadi mahasiswa lagi, namun saya bekerja dilingkungan Kampus. Jadi ini seperti "ospek" dalam arti yang tak sesungguhnya. Pada tanggal 13-15 September 2016 yang lalu Alhamdulillah akhirnya saya mengalami kembali yang namanya di-Ospek :D. Saya mengikuti masa orientasi atau pelatihan dan pendidikan (Diklat) untuk Pegawai Unpad NonPNS. Semenjak Unpad menjadi Perguruan Tinggi Negeri (PTN) berbadan Hukum atau PTNBH semua urusan kepegawaian diserahkan kepada kebijakan PTN tersebut. Sebelumnya, ITB dan UPI juga mengikuti pola serupa. Saya sudah bekerja di Unpad sejak tahun 2012, sebagai Tenaga Honorer. Dulu saya juga harap-harap cemas apakah kelak saya akan diangkat menjadi PNS atau Pegawai Tetapnya, saya juga mencari pekerjaan ke sana ke sini, tapi kini Alhamdulillah semua terjawab walaupun dengan proses panjang yang berliku dan terjal.. :D

Saya bekerja selama 4 tahun ini sebagai staf IT disalah satu Fakultas Unpad yang tidak hanya mengurusi website atau database saja, tapi juga sebagai desainer dan layouter jurnal ilmiah. Alhamdulillah saya menikmati setiap prosesnya. Toh kunci bahagia adalah menikmati setiap prosesnya, bukan? hehehe Sebagai alumni di kampus yang sama saya juga bangga bisa turut membangun Universitas ini dan berkencimpung di dalamnya. Tidak lagi canggung menyanyikan Hymne Unpad saat ada pelantikan atau acara-acara besar yang diadakan Unpad.

Diklat tersebut yang dilaksanakan di Dago-4, tempat yang mana dulu saya menimba ilmu kini sudah di renovasi menjadi Unpad Training Center. Selain nostalgia dengan kampus saya juga nostalgia dengan namanya di-ospek. Harus masuk jam 7 pagi, tidak boleh telat, memakai baju putih rok hitam dan dasi,  memakai name tag, lari-lari,  mengingat baris berbaris, dsb. Pagi-pagi ini dimulai dengan teriakan Pak Kapten dan tim Kopassus lainnya untuk menertibkan kami yang sudah tak lagi mahasiswa.. Apabila ada yang terlambat silahkan melaksanakan hukuman, jalan jongkok.. hehe Buat saya kesempatan ini adalah menarik dan takkan terulang. Pengalaman ini juga saya rasakan saat saya dulu menjadi siswa/mahasiswa dan kemudian jadi aktivis, si senior yang melakukan hal serupa ke junior di sekolah atau kampus dulu mengospek. Sudah terlatih. hahaaha

Hari pertama Pak Kapten membagi kami menjadi 4 kompi/grup di mana semua teman-teman berpencar tak lagi satu bagian, satu sama lainnya tak begitu mengenali hanya satu atau dua orang saja saling kenal. Hari itu memang terasa pemalu, artinya kami semua belum saling kenal hanya mengenali teman-teman yang sama disatu fakultas/bagian. Saling mengenal melalui nametag yang dipakai pada saat Diklat. Hanya saling menyapa dan tersenyum manis. Sebelum acara pembukaan dimulai saya dipilih oleh Pak Kapten menjadi Protokoler acara tersebut, tanpa persiapan. Ntah mengapa beliau memilih saya untuk memandu pembukaan tersebut, mungkin muka saya yang sudah biasa memegang microphone kali ya.. haha Ini harus dibuktikan bahwa dalam kondisi apapun kita harus tetap bisa dan meyakinkan diri kalau kita bisa melakukannya, percaya pada diri sendiri.. Hari pertama diisi dengan kegiatan perkenalan, mengenal Unpad, dan diisi dengan banyak permainan-permainan logika. 

Hari kedua suasana ruangan sudah mulai mencair, rata-rata diantara kami sudah saling mengenali satu sama lain. Sudah mulai mengeluarkan jati diri masing-masing.. hehe Duduk makan siang sudah tak lagi bersama dengan teman satu bagian, tapi berbagai bagian di Unpad. Saling bercerita tentang pekerjaan atau pribadi masing-masing. Setiap pagi kami harus menghafal teman-teman satu kelompok, minimal menghafalkan wajah mereka, karena tim Kopassus akan memeriksa teman-teman dari kita. Melatih kekompakan dan kepedulian satu sama lain. Hari kedua diisi dengan materi pengenalan Aparatur Sipil Negara (ASN), Pelayanan Prima, dan Revolusi Mental. Kami kembali dikelompokan menjadi tiga kelompok untuk membuat tag-line untuk Unpad yang kelak katanya akan dipasang di Unpad. ;)

Hari ketiga diisi dengan materi etos kerja, bagaimana menjadi seorang karyawan yang baik. Kami sebagian besar sudah saling bertukar nomer handphone untuk mengakrabkan diri ketika acara Diklat ini berakhir. Semua peserta/teman-teman menunjukkan kemampuan mereka dalam sesi tanya jawab atau pertanyaan-pertanyaan yang diberikan pemateri tiga hari itu. Hari ketiga ini diisi dengan penuh canda tawa, tertawa lepas, dan melupakan ketegangan-tegangan hari pertama. Terjadi kehebohan selfie dan tongsispun di mana-mana.  Tidak ingin kehilangan momen yang indah ini, yang mengenakan baju putih dan hitam dan mengabadikan teman-teman lelaki dengan rambut 1 cm yang mengakibatkan nama mereka sering tertukar karena wajah mereka semua mirip. :D

Tiga hari memang waktu yang cukup singkat untuk dilakukan Diklat mengenal satu sama lain dengan ratusan teman-teman seperjuangan ini dari belahan bagian di Unpad yang luas. Menurut saya karena di hari ke-3 lah kita mulai akrab satu sama lain. Tak boleh memegang handphone selama acara berlangsung, hanya diperbolehkan saat istirahat atau break pemateri, kalau mau izin ke toilet harus mengangkat tangan ke tim Kopassus, di dalam ruangan tetap ada PBB yang tak boleh tertinggal yaitu "siap grak dan istirahat ditempat", tepuk pramuka yang menjadi hits sejak jaman dulu dan takkan pernah terlupakan. Diklat ini telah mengajarkan saya banyak hal, mulai dari disiplin, fokus, bekerja dalam situasi apapun, adanya tekanan, keakraban, toleransi, kekeluargaan, kerja sama, dan juga memiliki integritas. Nah, saya kembali merasakan di-ospek setelah sekian lama tak lagi merasakannya.  :)


Ini adalah tentang sense of belonging, ketika kita sudah mencintai maka kita akan merasa memilikinya. "Unpad Ngahiji Unpad Kahiji" --- bukan promosi yah, tapi itu tagline hahaa.. Semoga apa yang saya kerjakan di sini menjadi manfaat untuk semua orang. Aamiin.. Salam! :)


 





Share:

Jumat, 30 September 2016

Memaknai Kehilangan

Manusiawi rasanya kalau merasakan kehilangan. Satu kata yang sederhana tapi begitu besar maknanya. Saat kita merasa "kehilangan", kehilangan apapun pasti rasanya tidaklah menyenangkan. Terasa begitu menyesakkan, menyesal, sedih, menangis, galau, berdiam diri atau apalah itu, semua akan terasa jadi satu. Mungkin menghilangkan perasaan kehilangan itu tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Butuhlah sejuta detik untuk bisa merasakan bahwa semua akan baik-baik saja atau semua akan membaik. Ketika kita sudah bisa mengobati perasaan kehilangan itu, berarti kita sudah bisa memaknai arti kehilangan yang sesungguhnya. Semua punya presepsi yang berbeda soal kehilangan. Bukan soal tidak bisa "move on" dari kehilangan tapi setiap orang punya 'sense' yang beda tentang kehilangan. Bukan hanya hilang dalam bentuk fisik tapi semua yang kita rasapun ikut hanyut sejalan dengan waktu. Mengubah rasa kehilangan menjadi sebuah teman itu adalah hal yang tidak bisa diterima perasaan. Iya.. Waktu-waktu itu, di mana semua 'perasaanmu' dimanja oleh setiap cerita-cerita yang indah dan kemudian hilang seketika oleh putaran jam yang berlalu pergi meninggalkan 'perasaan' hilang dan tak mungkin kembali itu adalah kehilangan. Waktu tak pernah salah meninggalkan semua itu untuk kita. Hanya kita termanja oleh cerita-cerita yang harus selalu diperankan dengan apik baik antagonis atau protagonis. Kehilangan telah menjadikanmu bertambah kuat ketika waktu memberikanmu kesempatan untuk tetap 'hidup' dalam kehilangan yang sebenarnya tak benar-benar hilang. Cukup dengan kata maaf dan memaafkan. Semua 'kehilangan' itu akan tetap ada di dalam hati. Tak perlu diminta atau bahkan meminta, sekalipun jutaan detik sudah dilewati. Bisa jadi sebuah 'kehilangan' itu kini menjadi teman baikmu. :) Begitulah hidup yang harus dimaknai setiap perjalanannya supaya tak tersesat. Karena yang hilang dari kita itu berarti bukan milik kita, pasti sudah ada yang benar-benar memilikinya...

Satu hal yang tetap harus diingat adalah saat kita merasa kehilangan dengan rasa apapun, ada yang tak pernah meninggalkan kita, Tuhan....


http://www.wallpaperup.com/55986/Road_Line_Macro_Night_Lights_buildings.html




Share:

Sabtu, 24 September 2016

Neerja | Perempuan Muda Super Hero

Kali ini saya akan membahas resensi film Bollywood. Mungkin bagi sebagian penonton Indonesia gak banyak yang menggemari film Bollywood, tapi saya menyukainya sejak dulu. hehehe. Ketimbang nonton film Korea, saya lebih suka menonton Bollywood sekalipun sampai 2-3 jam. Menyukainya bukan hanya karena bintang filmnya tapi karena ceritanya yang terkadang diluar dugaan penonton. 

NEERJA, film Bollywood rilisan 2016 yang diangkat dari kisah hidup seorang Neerja Bhanot. Film Neerja disutradarai oleh Ram Madhvani dan naskahnya ditulis oleh Saiwyn Quadras bersama Sanyukta Shaikh Chawla. Film ini dibintangi oleh aktris cantik favorit saya, Sonam Kapoor, lalu Shabana Azmi, Shekhar Ravjiani, Kavi Shastri, dan Sadh Orhan. Rilis di bioskop India dan Indonesia (CGV Blitz) tanggal 19 Februari 2016. Film ini sukses menembus box office India. Namun, Pemerintah Pakistan melarang film ini tayang dengan alasan sudah menyudutkan Negara Pakistan dan umat muslim.

Film Neerja menceritakan tentang kisah nyata dari tragedi pembajakan pesawat PAN AM 73 yang terjadi pada tanggal 5 September 1986 di Pakistan, tepatnya dua hari sebelum ulang tahunnya. Pesawat ini rute India, transit Karachi, menuju New York dan memuat penumpang sekitar 379 orang. Neerja Bhanot adalah pramugari muda berusia 22 tahun dan ditugaskan sebagai kepala kabin baru selama penerbangan India-New York. 

Awalnya saya tidak mengetahui kalau film Neerja ini diambil dari nama asli Neerja Bhanot. Ternyata dia adalah salah satu pahlawan perempuan yang berhasil menyelamatkan nyawa para penumpang karena keberanian dan kecerdasaannya. Atas keberaniannya, iapun telah dianugerahi penghargaan Ashoka Chakra dari pemerintah India, Pakistan, dan berbagai penghargaan lainnya termasuk Amerika Serikat. Teroris tersebut menyandera penumpang di dalam pesawat. Teroris itu merupakan anggota dari Abu Nidal Organization. Mereka membajak pesawat dengan bermaksud untuk menyelamatkan teman-teman mereka yang ditahan di suatu negara. Mereka datang menyelundup masuk melalui pintu belakang bandara. Usaha mereka untuk sampai di negara tersebut gagal, pilot dan kopilot telah berhasil keluar dari pesawat karena mengetahui bahwa terjadi pembajakan di dalam pesawat. Dengan begitu pesawat tidak bisa lagi lepas landas. Mereka menunggu beberapa jam di dalam sambil menyandera semua penumpang dan kru pesawat karena pilot dan kopilot tak kunjung datang. Satu persatu penumpang ditembaki. Di saat-saat itulah, Neerja menunjukkan sebagai kepala kabin yang tenang dan cerdas. Dia memberikan beberapa kode-kode kepada penumpang untuk tetap tenang, mengikuti semua yang diinginkan teroris dan agar segera bisa keluar dari situasi mengecam ini. Beradu argumen dan permainan karakter pemain menambah suasana film ini semakin seru dan menengangkan. Di tengah mencekamnya aksi teroris ini, penulis script memainkan karakter dari seorang Neerja Bhanot dengan kehidupan pribadinya. Flashback ini menghidupkan cerita dari film yang menumbuhkan karakter Neerja yang juga kuat dan cerdas. Saat sebelumnyapun ibunda Neerja sudah memiliki firasat yang kurang baik atas penerbangan ia kali ini. Kejadian demi kejadian pun terjadi, beberapa orang luka-luka, dan terbunuh akibat kekesalan para pembajak, pihak bandara terlalu lama memberikan pertolongan untuk mengatasi aksi ini. Neerja berhasil membuka pintu darurat dan menginstruksikan para penumpang untuk keluar menuju pintu tersebut. Sebagai kepala kabin ia telah menjalankan tugasnya dengan baik, menyelamatkan para penumpang, para kru kabin, dan anak-anak di dalam pesawat. Mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan anak-anak. Kelanjutannya? Silakan menonton ya kawan.. hehehe  

Sonam Kapoor (Neerja Bhanot) berhasil memerankan tokoh Neerja dengan sangat baik. Begitupun dengan akting para pembajak berhasil membuat penonton tegang dan greget serta emosi. Ada cuplikan perkataan yang dikatakan Neerja di film itu yang begitu menginspirasi adalah "bukan seberapa lama kita hidup di dunia, tapi seberapa bermanfaat nya kita selama hidup di dunia." Dan itu terbukti di usianya yang sangat muda, Neerja telah meninggalkan nama harum yang terus dikenang oleh setiap generasi dan menjadi inspirasi bagi mereka yang mendedikasikan dirinya bagi kemanusiaan. 





Neerja | 2016 | Sutradara: Ram Madhvani | Penulis Naskah: Saiwyn Qadras, Sanyukta Shaikh Chawla| Pemain: Sonam Kapoor, Shabana Azmi, Shekhar Ravjiani, Kavi Shastri, dan Sadh Orhan | 
  

Share:

Minggu, 11 September 2016

Sensasi Beda Sekolah

Menulis di detik-detik terakhir tantangan bertema #AkudanSekolahku dari #1minggu1cerita adalah luar biasa.. Mulai 'agak' sibuk menjelang hari Raya Idul Adha besok hari.. :D

Boleh dibilang saya adalah penduduk nomaden di Indonesia ini haha. Lahir, besar, dan keturunan dari kota-kota yang berbeda. Saya lahir di Bandung, dibesarkan dibeberapa kota di Indonesia, dan garis dari keturunan Minangkabau yang tak pernah tinggal di sana. Ini karena pekerjaan ayah saya yang selalu berpindah-pindah. Lahir di Bandung karena ibu saya melahirkan saya beberapa hari setelah Idul Fitri padahal kami masih tinggal di Surabaya karena ayah saya bekerja di sana. Ikut lahir di Bandung, karena saat itu ikutan "mudik" yang notabene keluarga ibu saya sudah merantau dari Sumatera Barat ke Bandung sejak puluhan tahun lalu.  Kemudian sejak umur 2 bulan saya kembali dibawa orangtua untuk hijrah kembali ke Surabaya. 

Mungkin hal yang membuat saya bingung ketika menulis CV adalah saat menuliskan riwayat sekolah. Mengapa? karena saya masuk di sekolah mana lalu lulus bisa di sekolah yang berbeda. hehehe. Berawal TK Pertiwi II Bandung, kemudian melanjutkan ke SD Soka V Bandung, pindah SDN Semolowaru Surabaya, dan akhirnya harus pindah lagi SD Hang Tuah X Sidoarjo. Nah itu baru SD, dalam 6 tahun sekolah saya bisa 3 kali pindah sekolah. :D Lanjut ke SLTP Al-Falah Sidoarjo lalu pindah ke SMP Taman Asuhan P. Siantar (Sumatera Utara). Alhasil saya memutuskan untuk menuliskan riwayat sekolah terakhir di CV saya. Bercerita sedikit soal kehidupan SD ke SMP, untuk soal adaptasi mungkin saya bisa disebut "mahir" dalam hal ini, kenapa tidak? Sudah terbiasa pindah-pindah mewajibkan saya harus bisa cepat punya teman. Kalau satu kota sih mungkin lebih cepat, tapi kalau beda kota? Itu masalahnya. haha Di SLTP Al-Falah Sidoarjo adalah sekolah muslim full day yang kelasnya di pisahkan antara laki-laki dan perempuan. Nah, kalau punya kecengan, ketemunya paling pada saat upacara atau makan siang. hahaha di sekolah ini juga jiwa olahraga saya bertambah muncul. Senang olahraga sejak kecil mendorong saya untuk ikut turnamen sekolah bidang bulutangkis. Beberapa turnamen diikutkan walau tak sampai dapat mendali. Gugur selalu di semifinal. Gapapa ambil pengalaman saja. Sejak itu sempat berpikir untuk jadi atlet bulutangkis saja. :D 

Sejak memutuskan untuk pindah dari SMP di Surabaya ke SMP di Pematang Siantar, kota kecil di Sumatera Utara permasalahannya adalah pada bahasa, dari yang jawa medog trus jadi melayu. Banyak kosa kata yang sangatlah berbeda. Awal perkenalan saja saya sudah jadi bahan tertawaan teman-teman saat itu, karena logat saya. Butuh adaptasi yang lama untuk menyesuaikan logat. Kadang juga suka gak nyambung, karena beda pemahaman dan bahasa. tapi saya tak berhenti berjuang, akhirnya saya bisa belajar bahasa melayu/batak dengan logat jawa. hahaa  




Ketika akan masuk ke sekolah menengah atas akhirnya saya dan orangtua memutuskan untuk merantau ke Bandung agar SMA saya tidak lagi pindah-pindah, karena saat itu ada isu bahwa orangtua saya akan dipindahkan kembali ke beda kota. SMAN 22 Bandung adalah pilihan yang tepat untuk tumbuh menjadi remaja menuju dewasa di sana.  Dengan segala macam orang di sana. Niat saya dan orangtua juga adalah supaya saya bisa masuk Universitas Negeri di kota Bandung. Hidup remaja tanpa tinggal bersama orangtuapun menjadi kendala. Bakal lebih sering nangis dan homesick. Setiap hari ditelepon, sms, dan tak henti-hentinya memberikan nasihat kepada anak perempuannya ini. Harus bisa jaga diri. Dilahirkan dari anak pertama dan perempuan satu-satunya. Awalnya saya tidak lagi ingin pindah-pindah sekolah, cape mungkin yah, harus cari teman baru, adaptasi lingkungan dan bahasa, serta watak teman-teman. Agak sedikit ada penolakan dalam diri yang berakibat nilai di semester awalpun tak seindah yang lain. :D karena adaptasi di saat usia remaja itu agak lebih sulit. Masalah logat dari melayu ke sunda, dari keras ke lembut, suka banyak yang salah paham karena logat, dan lagi-lagi jadi bahan candaan teman. Tak jarang suka berpikir harus lebih kuat dari mereka yang sudah lama di sini. Perbedaan itu ada dan belajar menyamakannya. Lalu di SMA sayapun dipanggil "Butet" walau saya bukan orang batak. hahaha ciri khas. Di SMA inilah saya mengeksplor diri dengan banyak mengikuti kegiatan, seperti; basket, badminton, OSIS, DKM, dsb. Tujuannya selain bersosiaisasi juga cari banyak teman. ;)  Maklum orang perantauan dan ngilangin rasa homesick. :D Di sini juga saya menemukan hoby, olahraga. Mengikuti berbagai turnamen basket dan juga badminton antar sekolah.



Lalu Alhamdulillahnya saya masuk Universitas Padjadjaran Bandung Jurusan Teknik Informatika (D3). Awalnya saya tidak begitu berminat dengan jurusan ini, dulu jurusan ini tak cukup diminati karena masih sedikit universitas yang membuat prodi ini. Dulu, saya ingin masuk jurusan kedokteran atau komunikasi. hehehe. Sebelum saya diterima jurusan Teknik Informatika, saya sudah diterima di Universitas yang sama dengan jurusan Broadcasting. Bahagia bangeeet, selain karena suka, tesnya juga seperti kerja di bidang broadcasting. Namun, pertimbangan orangtualah yang saya ambil. Akhirnya saya melepasnya dan mengambil jurusan IT beberapa bulan setelah itu. Menyesal? sedikit  Kejebak dan salah jurusan? awalnya iya tapi lama-lama sih menikmatinya.. :D Saya yakin pilihan orangtua akan lebih baik dari apa yang kita pikirkan... hehehe So, enjoy your life. Himpunan adalah keluarga ke-2 saya untuk bisa terus beradaptasi dengan watak dan lingkungan... hehehe



Setelah lulus D3 saya melanjutkan ekstensi (S1) ke Universitas Komputer Indonesia dengan jurusan yang sama. Saat itu ekstensi di Unpad tidak lagi dibuka. Maka kami harus mencari alternatif lain untuk melanjutkan kuliah. Kalau gak langsung dilanjutkan takut keburu malas. hehe Kuliah ini ada kuliah yang paling berat untuk saya. Saat itu saya masih bekerja di perusahaan swasta yang cukup disiplin soal waktu. Susah untuk ijin, gak ada toleransi soal keterlambatan, dll. Bekerja di salah satu penerbitan buku ternama di Indonesia menjadi tim redaksi adalah hal yang membanggakan dan cukup menguras tenanga dan waktu, nonstop. Kuliah setiap Senin-Sabtu dari jam 5 sore sampai 10 malam. Pikiran dan tenaga harus pintar membaginya karena selain jarak yang cukup jauh dari rumah ataupun kantor ke kampus, waktu, tugas, dan fisik. Yaaa kuliah di jurusan Teknik Informatika banyak tugas-tugas yang bukan hanya tulisan tapi juga membuat aplikasi. Rasanya waktu saat itu begitu cepat. Saya hanya punya waktu dari jam 10/11 malam sampai subuh untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah. Kalau ketiduran, saya harus mengerjakannya siang hari jam istirahat. hahahaa Rasanya saat itu pengen cepet-cepet lulus. Belom lagi tekanan dosen yang "gak" membedakan mahasiswa karyawan dengan reguler. Kuliah di teknik juga membuat pola hidup saya kurang baik, banyaknya tugas juga menyebabkan kurang tidur dan berakibat insomnia. :( apalagi saat ekstensi, seperti kelelawar, mata harus terus standby hingga subuh menjelang. Tapi, saya tak menyesal dengan semua itu, pasti ada pelajaran dibalik semua perjalanan. 




Saat ini saya sudah lebih dari 4 tahun bekerja di lingkungan yang dulu jurusannya saya inginkan, FK Unpad/RSHS. Di sana saya juga seperti sekolah, mempelajari artikel-artikel tentang kedokteran dan kesehatan. Mempelajari secara otodidak tentang kesehatan dan pengobatan. Saling bertukar pikiran dengan para dokter di sana yang juga atasan saya dari berbagai spesialis. Rasanya sih pengen kembali untuk melanjutkan sekolah ke S2. Pengennya sih gak jurusan yang sama, udah "kebul" otaknya haha. Tapi ada niatan jadi dosen juga sih.. hehe Hmhm. tapi sekarang serba mahal, pengennya cari beasiswa supaya gak jadi beban pikiran juga, rasanya gaji gak nutupin buat bayar uang semesteran nanti. hahaha Nikah ajalah dulu baru sekolah lagi, tapi siapa tahu jodohnya nyasar di sana #eh.. hahah  Semoga tercapai  bisa sekolah lagi. Yang penting niat dulu yah :) Aamiin... 

Intinya, ketika suatu hari saya traveling lagi ke kota-kota tersebut saya punya banyak sahabat di sana.. Dan pengalaman ini adalah pengalaman hidup paling berharga karena belajar tentang budaya Indonesia, belajar mengusai berbagai macam bahasa daerah, harus bisa mandiri, dan saya tidak kesulitan lagi untuk bergabung dengan orang-orang yang bukan satu asal dengan saya dengan cara memahami dengan bahasa mereka. hehe ~~~@dudepanai


Share:

Rabu, 31 Agustus 2016

Cerpen: Memahamimu dalam Dingin

Banyak yang mengatakan kalau pagi selalu menawarkan cerita baru. Iya sama seperti pagi ini. Aku seperti ditawarkan banyak hal untuk menghabiskan satu hari ini sampai malam tiba. Besok pagi dan pagi, pagi lainnya. Ketika kemarin merupakan hal yang tersulit yang harus dilewati, tapi malam tidak pernah memberhentikan gelapnya sampai pagi menjelang. Seperti biasa aku memulai sabtu ini dengan menghirup udara segar diantara reruntuhan keringat banyak orang yang lewat. Setiap weekend aku menyempatkan untuk menyegarkan badanku. Empat sampai lima kilometer sudah cukup. Aku selalu menyukai tempat ini, Sabuga. Trek lari yang paling nyaman di kota ini, Bandung. Selain karena nyaman sekalian memandang masa depan, kata kebanyakan pemuda dan pemudi di sini sih.

            “Eh nyu kamu udah berapa keliling?”
            “Bentar aku lihat handpone aku dulu. Udah 3mi nih hehe. Tapi aku mau 
              udahan aja yah. Capek. Kalau kamu mau lanjut aku tunggu di sana yah, bi..”
            “Oke neng...” dia berlari sambil memegang kepalaku.

Sapaan itu yang selalu diberikan kepadaku. Neng adalah panggilan bahasa sunda dari cantik dalam bahasa indonesia. Kegemarannya dalam berlari mungkin tidak bisa ditahankan. Setiap weekend dia menghubungiku untuk janjian berlari pagi. Dia rela harus menjemput, walau dia harus muter balik ke arah rumahku. Lelaki hitam manis bertubuh tinggi, berambut lurus, berkacamata, dan berlesung pipit itu adalah Rama Arka Abimana. Aku biasa memanggilnya Abi. Walau teman-teman yang lain lebih senang memanggilnya Rama. Aku dan dia sudah bersahabat kurang lebih dua tahun. Sosok laki-laki ter-cool yang pernah aku temui. Pertemuan aku dengannya secara tidak sengaja saat aku dan dia sama-sama satu kelompok dalam kegiatan kampus saat itu. Kamu yang selalu tersenyum dan sikapmu yang cool saat itu membuat aku tak ingin berkenalan denganmu. Tapi Tuhan berkata lain. Aku ternyata harus bersahabat denganmu. Walau awalnya basa-basimu itu membuat aku ingin sekali menjauhimu. Sebagai anak Pecinta Alam saat itu aku harus terbiasa dengan kelakukan laki-laki yang pendiam tapi cool atau sok cool-lah itu serasa beda tipis, iya seperti kamu Abi.
         
            “Heh... kamu kok ngelamun sih. Masih pagi neng..”  
            “Woy... bi.. enggak kok Cuma lagi memandangin orang-orang lari.”
            “Bohong... pasti lagi memandang pada satu orang deh” candanya
            “GR heh. Orang cool yang paling GR seantero Bandung”

Aku lagi membayangkan seandainya waktu itu akan berakhir cepat. Akankah tetap terasa sama?

            “Hayu kita balik neng Naisha.. Tapi kita ketempat makan biasa yah. Laper nih”
            “Jangan nasi padang yah!”
            “Sama aja bohong kalau abis lari trus makan nasi padang! hahaa” candanya

Siang ini tidak begitu panas. Matahari pun terasa malu-malu memunculkan sinarnya. Kali ini aku harus rela menemaninya seharian bersama motor scooter hitam tahun 80an kesayangannya berkeliling Bandung. Terutama mencari tempat makan kesukaannya diatas bukit sana. Tukang Bubur. Kata sebagian orang yang datang berkunjung ke Bandung, kalau sarapan pagi di sini paling enak makan bubur ayam panas. Tak seperti mengendarai motor pada umumnya, Abi selalu mengendarainya dengan penuh perasaan tidak terburu-buru, santai, dan tetap stay cool. Jika ke tukang bubur itu membutuhkan waktu setengah jam kalau sama Abi sih butuh waktu 45 menit. Katanya kalau naik motor di Bandung mah harus dinikmati. Nikmatinnya sama aroma pagi dan suara angin rasa sepoi-sepoi. Bagiku keadaan ini terlalu singkat untuk diabaikan. Menikmati setiap angin yang menusuk tubuh. Sesekali merentangkan tangan dan berteriak. Sengaja membagikan senyum kebahagian. Kebahagian karena akhirnya bisa naik motor ini keliling Bandung. Mungkin bagi setiap wanita menginginkan dibonceng naik motor besar atau mobil, tapi bagiku naik motor scooter ini adalah sederhana. Bahagia. Kalau lagi di motor ini, ngobrolnya harus agak kencengan sedikit karena gak kedengeran. Jangan pernah ngebahas rahasia aja, bisa-bisa penghuni jalan tau semua.

            “Neng. Kenapa kamu teriak-teriak?”
            “Engga papa. Cuma lagi pengen teriak aja.”
            “Kirain mau loncat dari motor..”
            “hahhaa enggalah nanti aku masuk TV nya berdua kamu dong. Jadi seleb 
              dadakan..”
            “Sial.. ogah banget...”

Beginilah nasib orang pakai scooter tahun ajaran Patimura. Diliatin banyak orang. Gara-gara suara kita terlalu stereo dan speakernya terlalu kenceng.         
           
            “Hayu neng kita turun makan bubur dulu..”
            “Aduh bi, aku tiba-tiba kenyang”
            “Emang kamu makan apaan, kenapa jadi tiba-tiba kenyang?”
            “Makan angin dari scootermu..”
            “Ha..ha..ha..” seketika dia memukul pundakku sembari tertawa
            “Malah ketawa, serius...”
            “Udah ah makan, nanti malah masuk angin beneran..”

***
Setiap weekend seperti ini pasti dihabiskan dengan lari, lari, dan lari. Mengikuti kemauan Abi. Tapi aku tak pernah merasa keberatan dengan keadaan seperti ini. Mungkin ini kelewatan. Mungkin ini menyenangkan tapi aku menikmatinya. Menikmati juga dengan segala tingkah laku dan moodnya yang sesekali sulit aku tebak. Selama berteman lama denganku, aku tak pernah melihat Abi atau bahkan menceritakan sosok perempuan lain di hatinya. Mungkin hatinya masih pada Keara perempuan yang menjadi cinta pertamanya. Aku menyadari tidaklah mudah mencintai orang lain dikala hatinya masih menggantung pada satu nama. Padahal aku tahu Keara tak lagi mencintainya bahkan membencinya ketika hubungan hari itu berakhir. Tak ada lagi sms atau panggilan masuk di handphonenya. Aku tahu hati Abi begitu terluka kala ia harus mengalah pada teman lama yang tanpa dia tahu, Keara sudah bertunangan dengan lelaki itu. Sejak kejadian itu Abi menjadi orang yang sensitif dan moody. Mungkin kenapa tak ada teman perempuan lain yang bisa bersahabat lama dengannya karena sifat moody-nya. Dia bisa menjadi laki-laki yang sangat puitis, bahkan perhatian, atau bahkan cuek. Termasuk padaku. Aku sudah cukup mengerti tentang itu.

Saat itu hujan cukup deras aku dan Abi memilih untuk sejenak berteduh di bawah halte bis yang sudah dipenuhi para pemotor. Aku melipat tanganku diantara tebalnya jaket yang aku pakai. Sesekali menghebuskan nafas diantara kedua tanganku. Abi memandangku. Mungkin Abi sedang berpikir tentang satu hal. Keara. Katanya hujan adalah bagian dari kehidupannya. Abi yang memakai kemeja kotak-kotak flanel berwarna hitam putih, sepatu converse belel, topi kebelakang, dan jeans bladus hitam itu menatapku dalam. Lalu tanpa sadar dia memegang pundakku.

             “Sini aku pijet-pijet pundaknya biar anget”
             “Kirain kamu mau ngapain pegang-pegang pundak aku”
             “hahaaa” tawanya “Kasian kedinginan, makanya kalau dipijet-pijet kan jadi
               Anget..”
             “Gak ngaruh tau.. yang ada sakit pundak..” perlahan tanganku menurunkan 
               tangannya.
             “Dasar neneng jutek ihh”

Hujannya sangat deras. Entah kapan hujan ini akan berhenti. Aku dan dia memilih untuk tetap berteduh di sini. Semakin lama halte ini semakin sepi karena banyak pengendara motor lainnya memilih untuk menerobos hujan.
           
            “Bi...”
            “Apaan?”
            “Kamu lagi keingetan sesuatu yah? Udahlah jangan dipikirin toh hujan juga
             gak akan pernah balikkin waktu kamu. Mencoba hujan-hujanan juga kalau gak                    ada yang payungin juga tetap masuk angin kan?
            “.......” suasana seperti lagi di Gua Belanda. Sepi.. Abi tak merespon
            “Yuk.. hujan udah reda. Kita terebos aja”

Aku akan menjadi orang yang akan bersalah ketika mood nya Abi menjadi berubah. Dia bergegas ke motornya menghidupkan mesin, memakai helm, dan sekejap melihatku dan menganggukan kepalanya. Abi adalah laki-laki yang paling cool ketika masalah lalunya disentuh perempuan lain termasuk aku. Sepanjang jalan menuju pulang aku seperti ada di dalam hutan berjalan. Sepi dan menikmati saja setiap hembusan angin. Bagi setiap perempuan menghadapi laki-laki moody seperti ini adalah hal yang membetekan apalagi bukan pacar. Ada tapi terasa tak ada. Ada tapi tak pernah tersentuh. Iya tapi itulah Abi. Laki-laki paling moody seantero pengguna scooter. Diam dan tetap diam. Akupun tak mau menambah buruk moodnya itu. Aku tak bisa membayangkan seandainya dari tempat ini menuju rumahku 1 hari. Bisa-bisa aku mabok scooter dan tau-tau aku jadi patung berjalan.
           
            “Abi... makasih ya... Sorry maafin aku, aku engga maksud kok.. serius..”
            “Udah Gapapa... see you...”

Dia tidak menatapku. Diam dan bergegas pergi. Aku tahu Abi marah padaku. Tapi akan sampai kapan menutup hati. Menutup hati yang jelas-jelas orang yang dia cintai memilih meninggalkannya. Melihat orang lain pun aku rasa tidak.. Sejak kejadian itu hubungan aku dan Abi kurang baik. Abi lebih sering melimpahkan kekesalannya kepadaku. Entah masalah apa. Dia diam tanpa suara. Aku hanyalah perempuan yang kadang terluka ketika hadirku merasa tak dianggap.

Dua hari mendatang adalah hari ulang tahunnya. Hari ulang tahun kami berdekatan. Abi 5 Januari sedangkan aku 8 Januari. Sikapnya begitu dingin. Kami dikampus yang sama namun berbeda kelaspun tetap tak menyapa ketika bertemu. Sesekali dia melemparkan senyum. Sejak saat itu dia menjadi orang yang sangat sensitif. Ketika aku tanya kenapa, dia hanya menjawab gapapa. Aku tanya kamu marah sama aku, dia jawab engga. Inilah yang selalu aku takutkan. Abi menjadi berbeda ketika ada orang lain ada yang menyinggungnya. Lelaki gunung cool itu sangat sensitif. Harus berapa lama lagi aku bertahan?
           
            “Hallo.. Abi kamu di mana? “
            “Di warung depan. Kenapa?”
            “Aku mau ketemu bentar yah...”
            “Sok aja ke sini.”
            “Tapi takut rame orang, banyak temen-temen kamu”
            “Engga ada kok, aku sendiri”
            “Ya udah,, Dah..”

Mungkin mood abi sudah mulai membaik. Setelah aku tak lagi menghubungi selama 3 hari. Setidaknya bisa melunturkan kekesalannya padaku.

             “Heh .. makan gorengan mulu... Selamat ulang tahun yah Abi..”
             “Makasih lho.. tadi malem kan udah SMS”
             “Engga dibaleskan tapi?”
             “Apaan ini?”
             “Selama ini kan aku gak pernah kasih apa-apa, jadi aku pengen kasih kamu 
              Sesuatu. Semoga kamu suka dan dipakai yah”
             “Iyaaa... kalau bagus mah aku pakailah”
             “Becanda mulu kamu..”
             “Wow makasih ya neng.... Kok tau sih aku pengen beli ini“
            “Iya waktu kita jalan ke toko itu kamu Cuma liat-liat aja dan Cuma nanya harga 
             kan? Aku kan merhatiin kamu pengen itu udah lama,, jadi aku tahu apa yang                      kamu mau dan butuh.. Hebat kan aku, pengagum rahasia hahhaa“ candaku.
            “Beuhh iyaaa” hhahahaa sambil memegang kepalaku
           “Minggu depan kan kamu mau naik gunung sama yang lain kamu bisa pakai tasnya. 
             Aku kayaknya gak akan ikutan naik gunung yah, udah semester akhir aku tak 
             dibolehin ikut pasti“
            “heh..hee.. iyaaa... nuhun pisan”
            “Eh aku balik yaa. Kamu pulang hati-hati yah..daahhh”

Hari itu aku merasa ada yang tak biasa diantara kita. Tangannya bergetar menerima kado dari aku. Akupun sebaliknya. Tanganku bergetak diam tunduk menatap matanya. Seolah memberikan isyarat. Belum tentu dia mengetahuinya. Lagian buat apa mencintai yang mungkin hatinya buat kita. Ada kalanya menyerah atas usaha yang udah kita perjuangkan termasuk mendapatkan hatinya. Ada pepatah mengatakan “Tak mungkin ada apa-apa diantara persahabatan lawan jenis yang saling diam”. “Persahabatan diantara wanita dan pria pasti salah satunya jatuh cinta lalu mencintai atau bahkan keduanya.” Mungkin aku dan Abi merasakan hal yang sama. Tapi aku tak mungkin mengungkapkannya. Itu sama seperti daun yang jatuh dari pohon, diam bertahun-tahun di bawahnya. Tak tersentuh angin dan diam mengering di sana. Perasaan ini tiba ketika aku tak sengaja membaca handphone yang dia titipkan padaku saat itu. Ketika dia memintaku membacakan pesan singkat di hp nya saat sedang perjalanan menuju pulang. Aku menutup pesan itu, lalu aku tak sengaja melihat semua isi pesan singkatnya. Hanya nama aku. Aku mencoba membuka satu pesan dariku. Pesan singkat isi curahan hatinya padaku. Maaf jika kali itu aku terlanjur membaca lalu bahagia tapi sedih juga, karena semua seakan tak mungkin. Sikap dan hatimu terlalu dingin untuk ditaklukkan.

Malam itu akan membaca postingan disalah satu media sosialmu. Postingan itu terbaca saat aku membuka aplikasi tersebut dan muncul pertama di halaman utama sosial media itu. Dalam hadiah yang aku berikan itu aku menuliskan suatu hal..
         
      “Dear Abi. Selamat ulang tahun. Semoga kamu selalu sehat dan terus
        Berbahagia. Semoga kamu menemukan seseorang yang akan membuat
        hidupmu lebih bahagia. Mungkin aku bukan siapa-siapa tapi aku akan selalu
        ada untuk kamu, sekalipun nanti kamu melupakan aku. Happy Birthday Abi :)

      “Terima kasih karena telah memberikan aku hadiah dan kebahagian. Terima
        kasih untuk semua tapi maaf aku belum sanggup membalas kebahagian itu.
        Bukan sekarang tapi saat nanti mungkin..”

Semenjak saat itulah hubungan aku dan Abi mulai pasang surut. Entah kenapa hubungan ini menjadi sangat dingin. Abi tak lagi menghubungiku tak bercanda gurau lagi denganku. Lalu aku berusaha untuk menanyakannya pada Bian soal Abi. Setelah aku bertanya pada Bian, dia menceritakan semuanya. Seketika aku terdiam. Ingin marah atau ingin menangis. Abi kecewa karena dia mengetahui kalau aku jatuh cinta padanya dari orang lain. Inilah abi lelaki cool yang moody. Aku tak bisa berbuat apapun. Aku tak bisa membuat semuanya menjadi seperti dulu. Maafkan aku Abi.

***

Saat kelulusan kuliah itu tiba. Abi tak menemuiku bahkan tak menyapaku saat dia menghampiri sahabatku disampingku. Abi begitu tega mengubah keadaan ini. Setiap weekend dia lari. Tapi dia tidak bisa lari menghadapiku. Akan tetap ada aku dalam hidupnya sekalipun dia menolak. Hatiku seketika hancur, menangis dalam hati, dan berteriak-teriak. Aku bisa apa? Egois, itulah yang tepat menggambarkannya.

Sudah satu tahun berlalu aku mencoba menghubungimu tapi tak pernah ada respon darimu. Aku hanya melihatmu dalam aplikasi oborolan pesan di komputer. Sesekali aku ingin mengetik namun kemudian aku menghapusnya kembali. Aku tahu kamu  merasakan hal yang sama. Aku selalu melihatmu dalam media sosial yang selalu kamu posting. Terakhir aku melihat kamu masih memakai tas yang akan berikan 2 tahun lalu. Tapi mengapa kamu selalu mengatakan “gapapa” disaat aku memberikan pertanyaan yang sama. Aku sebenarnya tak ingin semua menjadi dingin karena keegoaan masing-masing. Kamu bisa bercanda akrab dengan semua sahabatku tapi tidak dengan aku. Aku seperti patung hiasan saat itu. Hatiku hancur, bi. Setegakah itu kamu perlakukan aku.

***
Pagi tadi aku melihatmu. Wangi parfummu terlalu akrab di hidungku. Kita berhenti di lampu merah yang sama. Mengenakan jaket yang sama, jaket komunitas. Kamu menggunakan motor bebek dan aku masih menggunakan motor scooter baru yang sama yang kamu pasti tahu, itu aku. Kita ada dijajaran yang sama, berdampingan.  Sepatu bootmu dan sepatu flatku bersebelahan menyentuh tanah. Aku menoleh ke arahmu, tapi pandanganmu tunduk seolah-olah kamu tak mengetahuinya. Aku tahu itu kamu, Bi. Sebersalah itukah aku sampai kamu tak ingin menyapaku, setidaknya dengan kata “Hai”? Kenapa bukan aku saja yang menyapamu? Aku egois, bi. Mempertahankan egoku untuk tetap membiarkanmu menyapaku duluan. Tapi hari itu mustahil.  Kamu bergegas pergi meninggalkan aku. Aku memandangmu dari jauh. Aku tahu kamu melirikku melalui spion kananmu itu. Semoga kita berjumpa kembali. Aku berharap kita beretemu di lampu merah selanjutnya dan di hari berikutnya dan tahun-tahun berikutnya. Ini sudah 5 tahun berlalu. Setiap aku bertemu denganmu sengaja atau tidak sengaja, aku berusaha melupakan egoku. Menyapamu lebih dulu. Mencoba membuat semua menjadi cair. Tatapanmu penuh arti. Tawamu lepas ketika bercanda dengan teman dan sahabat-sahabatku. Aku hanya bisa menutup mata dan kemudian menghelakan nafas. Ini akan baik-baik saja.  Pernahkan kamu menyadari bahwa aku terus berusaha memahami dalam dinginmu? Tak takutkah kamu seandainya Tuhan yang memang menginginkan kita? Kita bisa apa? Pertanyaanku tetap sama? Ada apa dengan aku? Ada apa denganmu? Jawabanmu tetap sama “tidak apa-apa, neng.”

Setidaknya aku mendengar nama itu setelah sekian lama kau simpan dalam hatimu selama bertahun-tahun. Percayalah, walaupun kamu sudah memperlakukanku seperti ini, aku tak pernah marah. Kecewa saat itu iya. Kini, mungkin akan berubah ketika kamu mau mengubahnya. Jika nanti sudah sanggup mengatakan yang sesungguhnya, Mangga temui aku, Bi. :)



https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/
Share:

Jumat, 26 Agustus 2016

Maparin Tuangeun

Bahagia sekali rasanya sejak sudah lama tak berkumpul, bertemu, dan berkegiatan bareng setelah sekian tahun. Semenjak bebrapa tahun yang lalu, kami hanya berkumpul sebentar di acara-acara pernikahan atau syukuran. Memiliki keluarga besar seperti teman-teman yang berkecimpung di dunia himpunan dulu adalah suatu kebahagian. Bukan cuma untuk sekedar berkumpul dengan canda tawa, ngopi bareng, tapi juga berkumpul yang bermanfaat. 

Sekitar awal Agustus, saya diundang disalah satu media sosial berbasis chatting dan ternyata ada "kami" yang dikumpulkan untuk berkumpul dan membicarakan banyak hal-hal. Sudah lama memang kami tidak mengadakan acara-acara yang dulu diagendakan setiap bulannya. Dulu memiliki waktu yang banyak, ketemu lalu rapat, ketemu lalu ngonsep, dsb. Namun, rapat kecil beberapa hari di aplikasi ini adalah "jitu", ketika tak bertatap muka, namun semua konsep dan idenya rampung. Ini juga karena dorongan yang kuat dari teman-teman yang tak ingin sekedar berkumpul tapi juga bermanfaat. Membagi masing-masing tugas yang harus disiapkan pada hari-H. Kerja ikhlas kalau kata kang Emil (Walikota Bandung).

Maparin Tuangeun (dalam bahasa Sunda) yang berarti / mem.be.ri / ma.kan  adalah sebuah kegiatan IF PEDULI yang ditujukan untuk para dhuafa dan fakir miskin. Maparin Tuangeun lahir dari keinginan melakukan kegiatan sederhana yang bisa menginspirasi banyak orang untuk berbuat baikTepat di hari Sabtu, 13 Agustus 2016 lalu kami membuka "lapak" makan gratis untuk para dhuafa dan fakir miskin di Taman Cibeunying, Bandung. Sekitar 50 lebih porsi nasi beserta lauk pauknya dan juga buah. Sasaran kami siapa saja, para pengumpul sampah, petugas kebersihan taman, tukang becak, penjual makanan, pedagang asongan, juru parkir, penjual balon, atau bahkan musafir seperti pengumpul barang bekas yang tak memiliki tempat tinggalpun.

Alhamdulillah, ketika ada seorang Bapak yang sangat bersyukur mendapatkan rejeki seperti ini apalagi berupa makanan, Beliau bercerita bahwa sejak tadi pagi ia belum makan. Berkali-kali ucapan terima kasih dihaturkan kepada kami. Belum lagi bertemu dengan para pengumpul sampah/barang bekas yang sungkan untuk datang ke tempat kami, khawatir setelah itu ia akan mengeluarkan uang untuk membayarnua. Ada juga Bapak tukang becak yang ketika ditawarkan terlihat sumgringah karena bisa makan siang hari itu.  

Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. (HR. Ath Thabarani, Al Mu’jam Al Awsath No. 5787. Al Qudha’i, Musnad Syihab No. 129. Dihasankan Syaikh Al Albani. Lihat Shahihul Jami’ No. 6662). 

Alhamdulillah. Kami tidak berhenti bersyukur karena kegiatan ini membawa kebahagian bagi kami. Bahwa berbuat baik sekecil apapun lalu bermanfaat untuk orang lain itu, nikmat. Hadiahnya memang tidaklah instan, tapi rasanya dalam hati. Dari kegiatan ini banyak sekali pelajaran yang bisa kami ambil. Salah satunya jangan pernah berhenti bersyukur. Doakan kami bisa rutin menebar kebaikan ini setiap bulannya, agar bisa memberikan suatu kebahagian bagi mereka-mereka yang selalu bersyukur atas apapun yang diterima, sekecil apapun. Lalu nikmat mana lagi yang kamu dustakan? ;)










foto-foto ini diambil dari jepretan teman kami nrspyn



Share:

Pages

Visitor

About Me

Foto Saya
.dedeph.
Seorang Wanita yang senang menjelajah kota, senang menulis, dan senang mengekspresikan matanya melalui fotografi. Si taurus dan plegmatis...
Lihat profil lengkapku

info personality

Click to view my Personality Profile page

Popular Posts

Entri yang Diunggulkan

Perempuan dan Kapan Kawin?

Tahun lalu saya pernah menulis tentang topik " Bicara Soal Jodoh ".  Kali ini saya mengambil topik yang akan menjadi hal yang sed...

Diberdayakan oleh Blogger.

U P D A T E S

Blog Archive

Translate

Member of

Flag Counter

free counters

Copyright © - dedeph - | Powered by Blogger

Design by ThemePacific | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com