Kamis, 16 November 2017

MOM | Kisah Ibu Tiri (Review Film)

Posted by with 4 comments
Sudah lama saya tidak bercerita tentang ulasan atau review film Bollywood. Kali ini saya akan mengulas tentang film MOM. MOM atau berjudul МАМА ini, adalah sebuah film drama thriller Bollywood 2017. Film ini dirilis tanggal 7 Juli 2017 yang lalu di India dengan panjang durasi sekitar 2 jam 26 menit. Film ini pernah masuk ke Indonesia namun lagi-lagi hanya sebentar singgah di bioskop tanah air. Film ini dibintangi oleh Sridevi Kapoor sebagai sang Ibu Tiri. Ada Akshaye Khanna, Nawazuddin Siddiqui dan beberapa pendatang baru di Bollywood. Ada Sajal Ali dan Adnan Siddiqui yang berasal dari negara tetangga India, Pakistan. Film ini juga bisa jadi pelepas rindu penampilan aktris lawas Sridevi Kapoor setelah memukau  difilm English Vinglish tahun 2012 .

Sering mendengar bahwa ibu tiri itu kejam? tapi dalam film ini menceritakan keadaan yang terbalik. Devki yang diperankan Sridevi merupakan guru Biologi yang populer di kalangan murid-muridnya. Dia juga menjadi guru di tempat anak tirinya bersekolah. Berbanding terbalik dengan keadaan di sekolah, Devki terus menerus melakukan pendekatan terhadap anak tirinya yaitu Arya (Sajal Ali) namun Arya tetap tidak peduli dan terus menjauh. Suatu hari di sekolah, teman Arya menggangu Arya dan melaporkannya pada Devki. Secara spontan Devki memarahi teman Arya tersebut.

Suatu ketika Arya diundang ke acara pesta valentine-day di sebuah farm house. Devki mengizinkan Arya meskipun dia merasa ragu. Dia selalu mencemaskan keadaan anaknya tersebut dan sering kali menghubunginya akan tiba di rumah jam berapa. Arya sedikit kesal. Arya pergi ke pesta ini dan menghardik Mohit dan teman barunya Charles. Charles, Mohit, Jagan dan penjaga menyerang Arya saat dia meninggalkan pesta tersebut. Mereka merasa kesal dengan Arya dan juga sang Ibu. Mereka kemudia menculik dan memperkosa Arya lalu membuangnya ke saluran pembuangan. Mendapat kabar tersebut hati Devki hancur. Suaminya Anand kembali pulang dan meninggalkan bisnisnya. Beberapa lama kemudian Arya sadar, pulih, dan memberitahu siapa yang telah menyerangnya.

Penyerangnya sudah mengatur sedemikian rupa hingga akhirnya bukti-bukti yang menyerangnya itu tidak sah di mata pengadilan dan kepolisian. Ternyata ada beberapa bukti yang malah menyerang Arya. Mereka menyatakan bahwa Arya malam itu dalam keadaan mabuk dan sebagainya. Polisi terus menyelidiki kasus ini yang dipimpin oleh Inspektur Mathew yang diperankan apik oleh Akshaye Khanna.

Merasa tidak mendapatkan jawaban dan keadilan oleh Polisi akhirnya Devki memberanikan diri untuk menghubungi detektif DK (Nawazuddin Siddiqui). Detektif aneh yang ingin membantu mengungkap kasus ini. Berkat bantuan detektif DK ini, Devki membalaskan dendam anaknya kepada para penyerangnya itu. Hati ibu mana yang tak hancur melihat anaknya hanya berdiam diri di kamar dan menangis. Ini juga membuktikan bahwa tak selamanya ibu tiri itu kejam. Setiap perjalanan Devki menemukan pelakunya juga membuat jantung penonton berdegup kencang. Berkejar-kejar pada waktu dan juga polisi. Devki sudah tidak perduli lagi apa yang terjadi dengannya. Suami dan anaknya pun tak mengetahui apa yang dilakukan guru biologi itu. Dengan kecerdasaan yang dimiliki, Devki pun menggunakan trik-trik jitu.

Ada banyak yang dikemas di sini. Film ini menceritakan dinamika hubungan anak-anak remaja dengan ibu tirinya. Seluruh lagupun dilantunkan dengan indah. Kemudian, bagaimana penculikan dan penyerangan remaja pada film ini juga mengungkapkan segi aslinya. Plot yang sebenarnya adalah mengambil risiko untuk merusak setiap kejutannya. Ini juga menggambarkan bahwa masih banyak kekerasan dan pelecehan terhadap wanita terutama ketika mereka sakit hati. [1]

Suatu ketika Mathew mencurigai Devki karena menemukan kacamata yang biasa ia gunakan disalah satu rumah pelaku. Akankan Mathew menemukan jawaban atas semua kasus ini? Apakah Arya mampu menerima Devki sebagai Ibunya? Devki merupakan gambaran kekuatan seorang Ibu yang penuh cinta, bahkan untuk ibu tiri sekalipun.  Kekuatan seorang Ibu lah yang memperkuat karakter dari film MOM ini. Film ini juga akan mempermainkan detak jantung dan menyentuh hati serta perasaan Anda selama menonton.  Bagaimana kelanjutannya? Silahkan menonton ya 😊



TRAILER:



MOM| 2017 | Sutradara: Ravi Udyawar | Penulis Naskah: Ravi Udyawar, Girish Kohli, dan
Kona Venkat Rao|
Pemain: Sridevi, Nawazuddin Siddiqui, Akshaye Khanna, Sajal Ali, Adnan Siddiqui| Produksi:  MAD Films, Third Eye Pictures | Distributor Film: Zee Studio, Sridevi Productions

Rabu, 15 November 2017

Belanja di Pasar Seni Malaysia (Central Market) [Part 4]

Posted by with 2 comments
Ini hari terakhir kami berada di Kuala Lumpur. Sore nanti kami harus sudah berangkat menuju Bandung, Indonesia. Hari terakhir ini kami fokuskan untuk melihat destinasi terkahir dan berbelanja di Central Market  atau biasa dikenal dengan Pasar Seni, Malaysia. Konon Central Market ini ada sejak 1888 itu terlihat dari tahun yang tertempel di dinding bangunan ini. Dahulunya, konon dikenali sebagai Pasar Besar Kuala Lumpur yang menjual barang-barang basah seperti ikan, daging, ayam, sayur-sayuran dan barangan runcit, barang-barang yang dijual itu adalah barangan keperluan harian kepada para penduduk dan pelombong bijih timah di Kuala Lumpur. [1] Kini Pasar Seni dijadikan tempat belanja pernak-pernik, aneka makanan, atau sekedar oleh-oleh khas Malaysia. Selain Pasar Seni, Petaling Street juga bisa menjadi alternatif tempat belanja lainnya.

Pasar Seni ini buka sekitar pukul 10.00 hingga 22.00. Kami memutuskan untuk ke sana karena lokasinya tak jauh dari KL Sentral tempat kami menginap. Dibutuhkan RM 1.3 saja untuk sampai di Stasiun Pasar Seni. Bangunannya sepertinya masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Pasar Seni ini didesain untuk membuat pengunjung nyaman selama berbelanja di sana. Ruangan yang ber-AC juga menjadi pilihan bagi wisatawan yang tak ingin menerima pancaran matahari. Beruntungnya kami, saat itu tak terlalu padat pengunjung karena masih pagi juga sih jam 10.00. Di depan bangunan ini kami menjumpai tulisan besar Central Market, cocok untuk sekedar mengabadikan momen bersama teman dan keluarga.




http://www.malaysia.travel/

Karena kami tidak memiliki waktu yang banyak hanya sampai jam 12 siang. Kami memutuskan untuk berada di satu atau dua toko saja untuk memilih barang oleh-oleh untuk teman, sahabat, dan juga keluarga. Tak disangka kami berhenti di salah satu toko yang juga orang Indonesia. Bagaimana kami tahu, ketika kami saling berbicara pakai Bahasa Sunda, ternyata tetehnya (nb: panggilan untuk anak perempuan  yang lebih tua di Sunda) juga berbahasa sunda. Wah, jadilah toko tetehnya seperti ada di Pasar Kosambi, heboh. haha 😀 Sebut saja toko teteh juga menjual berbagai oleh-oleh dari Malaysia, seperti gantungan kunci, potong kuku, tempelan kulkas, tas, dompet, tempat bulpoin, dan lain sebagainya yang jumlahnya bisa 1/2 sampai 1 lusin. Pajangan miniatur Malaysia juga tersedia di sina. Gantungan kunci itu bisa berkisar 6-7 RM per setengah lusin. Oleh-oleh yang memudahkan itu kan gantungan kunci atau tempelan kulkas. hehe


 


Setelah puas berbelanja di toko teteh kami berpindah untuk mencari makanan kecil, cokelat dan bahkan Milo. Milo Malaysia cukup terkenal ya. :D Fokus saya sih hanya untuk membeli coklat dan juga Milo, karena saya adalah milo lover. Tak lengkap rasanya jika tak membelinya langsung. Saya membeli dua macam milo, milo instant dan milo stik 3 in 1. Harga milo  yang dijual di sana sekitar 15 RM per bungkus (1 kg). Begitupun dengan coklat dan teh Tarik 15-18 RM. Apa yang membedakan antara milo Indonesia dan Malaysia itu lebih kepada rasa dan kepekatan susunya. Milo Indonesia lebih cenderung manis dibanding dengan milo Indonesia. Milo Malaysia lebih terasa coklatnya. Maka sering menyebut Milo-O (Milo tanpa susu kental manis).

Selain itu, Pasar Seni juga menjual kaos-kaos bertuliskan Kuala Lumpur atau I love Malaysia harganya realtif murah berkisar 25-30 RM per 3 baju. Namun, jika ingin memiliki kualitas baju sekelas Distro relatif lebih mahal bisa 25 RM untuk 1 baju. Hati-hati juga memilih baju ya teman, kadang yang dijual juga produk Bandung, Indonesia. hehehe Saya memilih kualitas yang baik agar bisa terus digunakan selama di Indonesia. Kualitas bagus biasanya dilihat dari bahan dan sablonnya.

Di sana juga banyak menjual khas Negara lain seperti, Indonesia, Thailand, Singapura, dsb. Mungkin ketika banyak orang yang tak sempat berbelanja di Negara tersebut juga bisa beli di Pasar Seni. Selama Anda berbelanja di Pasar Seni alangkah lebih baik untuk ada transaksi tawar menawar ya. :D Mereka juga fasih berbahasa Indonesia Melayu, so jangan takut untuk tawar-menawar hehe

Kami harus segera check-out dari penginapan dan menuju bandara jam 1 siang. Tak ingin terlambat dan lebih santai  saja. Kami kembali menggunakan KLIA Ekspress menuju Bandara dari KL Sentral. Jika Anda tak sempat berbelanja di Bandara juga menyediakan berbagai macam toko oleh-oleh untuk dibawa ke orang-orang tercinta. Sebagai informasi, jika anda menggunakan maskapai low price, Anda akan berjalan sejauh sekitar 1 km dari tempat Anda check-in online. Anda akan bertemu beberapa gate-gate pemeriksaan bandara maka pergunakan waktu secepat dan semaksimal mungkin ya. Bandara KLIA2 ini juga sangat luas dan panjang. Jika anda tidak sedang kondisi baik, Anda bisa meminta petugas mengantarkan sampai pada Gate penerbangan Anda menggunakan mobil internal bandara. 😊

Ini akhir perjalanan kami selama trip Kuala Lumpur dan Malaysia. Semoga kami bisa berlibur di lain tempat, waktu, dan kesempatan ya. Lalu, semoga apa yang saya tulis di blog ini bisa bermanfaat dan menginspirasi untuk yang membacanya. Cheers! Namaste! Wassalam. Selamat berlibur Guys! 💗 🙋




Lihat Part 1
Lihat Part 2
Lihat Part 3

Lihat Part 4


Berkunjung ke Masjid Sultan Singapura, Singapore Zam Zam, dan Haji Lane [Part 2]

Posted by with No comments
Setelah berpanas-panasan dari Patung Merlion atau kawasan Merlion, kami berpindah tempat menuju Arab Street/Kampong Glam. Kampong Glam sendiri berasal dari pohon gelam yang dulunya banyak tumbuh di daerah ini. Dahulu, kawasan ini menjadi pusat kerajaan Melayu di Singapura. Sejak tahun 1822 kawasan ini dialokasikan untuk suku melayu dan umat muslim lain termasuk Arab maka tak heran jika kawasan ini memiliki bangunan aristektur yang eksotik dan tersedia kuliner yang lezat khas Arab. [1

Untuk ke Kampung Glam dari Merlion Park, kami kembali menggunakan MRT menuju Stasiun Bugis. Tarif dari Stasiun Raffles Place ke Bugis adalah $0.77. Setelah keluar dari Stasiun Bugis kami memutuskan untuk berjalan kaki sekitar 600 meter dari stasiun menuju Masjid Sultan. Panas terik dan lapar, bagi kami 600 meter adalah suatu tantangan yang harus dilewati.  hehee 😀 Sepanjang perjalanan kami sangat menikmati arti berjalan kaki. Maklum di Indonesia, khususnya Bandung tak ada seistimewa ini untuk para pejalan kaki. Hanya sebagian trotoar saja. Singapura juga terkenal dengan warga yang senang berjalan kaki. Tak ada  sesak polusi udara, tak ada macet, dan tak ada kebisingan. Ini kenapa sejauh apapun jarak di sana, tetap menikmati. Trotoar di sana cukup lebar dan sepanjang perjalanan kaki kami ditemani oleh gedung-gedung tinggi yang tertata apik.

Ketika sampai di perempat jalan kami menemukan titik terang bahwa Masjid Sultan sudah di depan mata. Namun, kami memutuskan untuk mengisi kekosongan perut dulu. Sebagai warga muslim, Singapura termasuk Negara yang cukup sulit mencari makanan halal. Tapi karena kami sedang berada di daerah Bugis, tak begitu sulit menemukan restoran halal. Resto terkenal di daerah ini  ada Hj. Maimunah Restaurant dan Zam Zam Restaurant. Oia, sebagai informasi di kawasan ini juga banyak restoran yang menyediakan masakan Indonesia termasuk Rumah Makan Padang. Akhirnya kami memutuskan untuk makan di Zam Zam Restaurant. Zam zam Restaurant terletak di 697 - 699 North Bridge Rd, Singapore buka setiap hari pukul 7 pagi sampai jam 11 malam. Di sana kami disajikan varian menu khas Arab-India. Makanan yang terkenal dan enak di Zam Zam Restauran, yaitu Nasi Briyani dan Deer Martabak. Bagi yang memiliki perut sempit alias makannya sedikit, pastikan Anda memesan nasi biryani berdua dengan teman, karena porsi di sana sangatlah besar. Lihat ayamnya saja, kenyang. Jumbo hahaha 😋😁 Untuk kisaran harga restaurant ini tak membajak wisatawan alias standar Singapura. Deer Martabak sekitar  SGD 10 untuk ukuran kecil dan SGD 20 untuk yang ukuran besar. Nasi Briyani berkisar SGD 6 sampai 12 per porsi. Mau tahu apa saja menu selain ini, Anda bisa cek di http://zamzamsingapore.com/

 

Selanjutnya karena sudah pukul 2 siang, kami menyebrang jalan menuju Masjid Sultan. Pintu masuk Masjid ini bukanlah yang bersebrangan dengan Zam Zam Restauran. Kami perlu berjalan sedikit lagi ke belakang. Nah sepanjang menuju Masjid Sultan ini Anda akan menjumpai berbagai makanan Indonesia terutama yang rindu Nasi Padang. :D Dekat kawasan ini juga terdapat berbagai macam toko yang menjajakan buah tangan untuk para wisatawan. Untuk masuk ke dalam masjid Anda harus menggunakan pakaian tertutup atau menutu aurat. Namun, pihak masjid juga menyediakan jubah gratis bagi wisatawan. 
 
Masjid Sultan merupakan masjid pertama dan tertua di Singapura. Masjid ini dibangun pada tahun 1824 untuk Sultan Hussein Shah, sultan pertama Singapura. Kemudian pada 1920-an ia dibangun kembali seperti sekarang. Dan kini ia telah direnovasi dan ditetapkan sebagai produk pariwisata Singapura. Masjid ini dirancang oleh Denis Santry dari Swan dan Maclaren, firma arsitektur tertua di Singapura. [2] Masjid ini juga identik Kerajaan Mughal, India. Jika Anda berada di sana, lihatlah lebih dekat kubah berbentuk bawang. Setiap dasar kubah didekorasi dengan ujung botol kaca yang disumbangkan oleh umat Muslim yang kurang mampu selama masa pembangunannya, tidak hanya umat yang kaya saja yang dapat berkontribusi. [3] Alhamdulillah saya berkesempatan untuk melakukan shalat di Masjid ini, arsitektur di dalamnya pun tak kalah indah dengan luar. Arsitek Denis Santry mengadopsi gaya Sarasenik atau gaya Gotik Mughal lengkap dengan menara menggantikan masjid lama yang berarsitektur Indonesia pada masjid sebelumnya. Masjid ini juga dapat menampung sekitar 5.000 jamaah. MasyaAllah.




 


Lalu, karena sudah pukul 4 sore kami memutuskan untuk segera kembali ke Bandara untuk menuju Kuala Lumpur. Kami harus tiba di sana pada pukul 6 sore. Saat itu keinginan saya untuk bisa jalan sekedar melewati Haji Lane Street yang lagi hits. Namun, karena dirasa tak memungkinan maka kami terus berjalan menunju Stasiun Bugis. Tapi Tuhan menakdirkan lain, doa Tour Leader dihijabah hahaha tanpa sengaja kami melintasi kawasan tersebut tanpa pikir panjang maka beberapa aksi swafoto pun dilakukan. Haji Lane terletak  mirip sebuah lorong kecil yang tidak terlalu panjang Untuk penggemar mall ber-AC jalan ini bisa dibilang kurang menarik. Apa yang menarik dari tempat ini? Di sana banyak terdapat toko-toko seperti butik dan café sederhana. Sepanjang temboknya dihiasi oleh lukisan-lukisan artistic cocok untuk spot foto yang lagi hits. :D

 


 Haji Lane
Ternyata kami tidak melewati jalan yang sama menuju Stasiun Bugis. Jaraknya lebih jauh. Mungkin sekitar 150 meter perbedaannya. Stasiun Bugis ini juga cukup luas. Kami masuk melalui alternatif pintu lain yang akhirnya kami jalan cukup jauh untuk sampai di jalur ke Bandara Changi. Kalau tak sekarang kapan lagi bisa jalan-jalan seperti ini kan? hahaha Sayangnya, karena waktunya terbatas kami tak sempat berkunjung ke Bugis Street Junction atau ke Mustafa Centre untuk sekedar berbelanja oleh-oleh. Semoga lain kali saya bisa kembali ke sini. Aamiin. Untuk menju kembali ke Bandara Changi tetap gunakan jalur East West Line tujuan akhir Pasir Ris. Nanti, turun di Tanah Merah lalu naik MRT tujuan Changi Airport  ini membutuhkan waktu sekitar 30 menit dan ongkosnya $1.65.  Untuk itu Anda harus mempersiapkan waktu agar tidak terlambat sampai di Bandara. Destinasi kami ke Orchard Road dan Universal kali ini tidak lah kesampaian. Mungkin lain waktu ya Guys! Ayo nabung. 😁 Kami tiba di Kuala lumpur pada pukul 8 malam. Kali ini kami mencoba untuk menggunakan Bus menuju dekat penginapan kami di NU Mall. Tarif per orangnya sekitar 11 RM saja dan membutuhkan waktu sekitar 90 menit. Jika tidak sedang terburu-buru atau tak sedang menuju Bandara lebih baik menggunakan Bus. Selain itu kan juga lebih hemat. hehehee

Kami berjalan menuju penginapan tidaklah terlalu jauh, kami berjalan sekitar 300 meter dari Terminal Bus. Hari itu sudah sekitar jam 10 malam kami memutuskan ingin memesan makanan cepat saji delivery. Alhasil, kami tak jadi karena susahnya untuk pesan makanan online. hahaha Tak ada Go-Food atau telepone delivery. Ya, Indonesia emang paling top deh. :D Mungkin masyarakat di sana dididik untuk tidak malas berjalan kaki dan memesan makanan pada tempatnya sebelum masuk rumah atau penginapan. hehhee  Hotel kami dekat dengan penjual kaki lima khas India maka kami memutuskan untuk membeli nasi goreng dan mie goreng seperti mie aceh yang khas rempah-rempah. Rasanya masih cocok untuk lidah orang Indonesia dan harganya hanya sekitar 3 RM saja per bungkus. Teh tariknya juga enak lho. Apalagi dimakan jam 1 malam :D (bukan curhat)

Selamat Berkelana ya Guys! 🙆

..to be continued..

Lihat Part 1
Lihat Part 2
Lihat Part 3

Senin, 06 November 2017

Traveling ke Singapura: Jalan-jalan ke Merlion Park [Part 1]

Posted by with No comments
Pada hari ke-3 liburan kali ini, kami memutuskan untuk mengunjungi Singapura. Rasanya sudah sampai Malaysia apabila tidak berkunjung ke sini , tidaklah sah. Kami memutuskan untuk tidak menginap, karena tiket dan jumlah orang yang banyak maka mengambil kesimpulan untuk pulang pergi saja. Kami menggunakan maskapai Air Asia menuju Singapura pada jam 07.40 waktu Malaysia. Susah-susah gampang untuk berangkat sepagi itu, karena harus tiba di Bandara KL dua jam sebelumnya. Kami menggunakan Pak Naseer kembali untuk mengantarkan kami tiba di sana. Waktu tempuh dari penginapan ke Bandara KL sekitar 45-60 menit. Kami tiba di Singapura pada pukul 08.40. Cuaca yang masih pagi untuk berkeliling Singapura. Oh iya, imigrasi di Singapura tidaklah seseram yang dibayangkan. Mereka cenderung lebih ramah daripada di Malaysia . 😀 Mungkin kebanyakan imigrasi di Malaysia menganggap orang kita itu TKI. xixix 😔

Saya baru pertama kali tiba Bandara Changi Airport dan Bandara ini sangatlah luas dan merupakan salah satu fasilitas penerbangan terbaik di Asia dan dunia. Untuk keluar dari Bandara ini ke beberapa fasilitasi transportasi juga membutuhkan waktu dan tenaga karena jaraknya yang cukup jauh. Kami memakai maskapai Air Asia maka kami berada di Terminal 1.  Untuk menuju ke Transportasi kota kami harus berjalan dan berpindah-pindah moda transportasi. Dari terminal 1 kami harus naik Sky Train menuju terminal 2 atau terminal 3 (bisa pilih salah satu).  Skytrain adalah istilah bagi kereta mini 2 gerbong yang menjadi sarana penghubung terminal 1 dengan terminal 3 atau antara terminal 1 dengan terminal 2.  Sky Train ini gratis alias tak dikenakan biaya. Jadi bagi yang berada di terminal 1 changi airport ikuti saja petunjuk arah bertuliskan Sky Train. Perlu diperhatikan, jika anda baru mendarat di singapore artinya anda berada di ruang kedatangan (arrival hall). Artinya anda perlu naik satu lantai dulu ke atas ke departure hall (ruang keberangkatan) karena Skytrain itu terletak satu lantai dengan zona keberangkatan. Stasiun MRT Changi Airport terdapat di antara Terminal 2 dan 3, sistem kereta Singapura ini beroperasi dari pukul 05.31 sampai pukul 00.06. Bagi yang sudah berada di terminal 2 atau terminal 3 Bandara Changi Airport, untuk ke stasiun MRT tinggal mencari petunjuk berupa tulisan dan anak panah yang menunjukkan ke arah mana anda harus berjalan agar sampai ke stasiun kereta MRT. Tulisan yang menjadi petunjuk arah itu saat ini bertuliskanTrain To City.” Jadi anda hanya perlu mengikuti petunjuk arah bertuliskan Train To City dari posisi anda saat ini di bandara changi airport agar sampai ke stasiun MRT. [1] Sistem transportasi ini yang beroperasi dari pukul 06.00 sampai dengan pukul 01.30 dini hari. Perjalanan memakan waktu tidak lebih dari 1 1/2 menit.


Sesampainya  di Stasiun MRT kami harus membeli tiket atau kartu terusan sebesar $12 untuk satu orang dan gratis untuk anak-anak usia di bawah 6 tahun. Kartu ini dapat diisi ulang atau dikembalikan uang yang tersisa.  Sebagai informasi bahwa kita dapat menemukan jalan yang kita tuju melalui peta-peta yang ada di Singapura. Ini memudahkan bagi wisatawan yang akan berkunjung ke sini. Kita juga akan diberikan peta kecil saat membeli tiket di loket. Perjalanan menuju pusat kota memakan waktu sekitar 26 menit. Untuk menuju tempat-tempat yang akan didatangi kita harus cermat menggunakan MRT di jalur mana.  Tujuan pertama kami adalah ke kawasan Merlion Park. Untuk menuju kawasan tersebut dari Changi Airport (jalur hijau), kami harus transit pertama di Tanah Merah, karena MRT ini akan kembali lagi ke Changi, jadi cuma jalur khusus penghubung bandara. Masih di jalur yang sama (hijau), naik MRT lagi ke arah Joo Koon. Berhenti di Raffles Place (stasiun ke 10 setelah Tanah Merah). Keluar di exit H. Setelah keluar exit H kemudian belok ke kiri dan menyusuri setiap gedung-gedung tinggi di sana. Berjalan terus sampai menemukan dan menyeberangi jembatan. Setelah itu kami melihat kawasan Merlion Park. Perjalanan kami memakan waktu ±15 menit. Lumayan sih sekitar 1 km dan cuaca sangatlah bersinar alias panas. Sediakan sun block muka dan juga tangan :D


Cavenagh Bridge
Di Singapura terkenal dengan Negara yang berteknologi tinggi dan memiliki gedung-gedung tinggi.Jadi, sepanjang perjalanan, kami berkesempatan untuk sekedar foto-foto cantik. Sebenarnya tak jauh berbeda dengan yang ada di Jakarta namun di sana lebih tertata. Sebelum menuju Merlion Park nanti sepanjang perjalanan akan menemukan jembatan "Cavenagh Bridge". Jembatan Cavenagh adalah satu-satunya jembatan gantung dan jembatan tertua di Singapura, yang membentang di bagian hilir Sungai Singapura di Downtown Core. Dibuka pada tahun 1870  untuk memperingati koloni Mahkota Singapura yang baru dari status Straits Settlements pada tahun 1867, ini adalah jembatan tertua di Singapura yang ada dalam bentuk aslinya. Jembatan Cavenagh saat ini menjadi jembatan pejalan kaki dan sepeda. Dulu jembatan ini juga dipakai untuk beberapa kendaraan lain, seperti becak, kereta kuda, dan sapi.  [2] Kemudian juga bertemu Jembatan Anderson Bridge, Jembatan Anderson adalah jembatan kendaraan yang membentang melintasi Sungai Singapura. Terletak di dekat muara sungai di Daerah Pusat Perencanaan Pusat Sentral Singapura. Jembatan ini selesai dibangun pada tahun 1910, dan dinamai sesuai nama Gubernur Straits Settlements dan Komisaris Tinggi untuk Negara Federasi Federasi (1904-1911), Sir John Anderson, yang secara resmi membuka jembatan tersebut pada tanggal 12 Maret 1910. Bentuknya terbentuk bagian dari Sirkuit Marina Bay Street Singapura Grand Prix, yang memulai debutnya pada tanggal 28 September 2008. [3] Untuk mengitari sungai Singapore River Explorer disediakan tiket untuk bisa menggunakan perahu.


Anderson Bridge

Jalan Esplanade Dr
Sebelum  menuju Merlion Park akan ada pemandangan menarik dari Jalan Esplanade Dr, yaitu terlihat hotel Marina Bay Sands menjulang di belakang. Nah, kawasan Merlion Park ini adalah tempat favorit para wisatawan, apabila tiba pada waktu libur atau akhir pekan maka suasana akan terlihat sangat padat sekali. Jadi harus ekstra sabar untuk bisa menikmati dan juga mendapatkan foto yang bagus. Singkat cerita, Merlion pertama kali dirancang sebagai lambang Singapore Tourist Promotion Board (STPB) di tahun 1964 – dan sang kepala singa dengan badan ikan di atas puncak ombak ini segera menjadi ikon Singapura bagi dunia. Dirancang oleh Mr. Fraser Brunner, anggota panitia suvenir dan kurator di Van Kleef Aquarium, kepala singanya melambangkan singa yang terlihat oleh Pangeran Sang Nila Utama saat ia menemukan kembali Singapura di tahun 11 M, seperti yang tercantum dalam “Sejarah Melayu”. Ekor ikan sang Merlion melambangkan kota kuno Temasek (berarti “laut” dalam bahasa Jawa), nama Singapura sebelum sang Pangeran menamakannya “Singapura” (berarti “Kota Singa” dalam bahasa Sansekerta) dan juga melambangkan awal Singapura yang sederhana, yaitu sebagai perkampungan nelayan. [4]





 

Alhamdulillah, walau padat sekali saya berhasil mendapatkan area-area yang cocok untuk mendapatkan hasil yang bagus, walaupun dengan beberapa kali jepret. Maklum, biasanya kalau yang objeknya fotografer kalau difotoin suka hasilnya blur. hahaha 😢 Oh iya suasana di sini panas sekali lho padahal baru pukul 11 siang (GMT +8). Saya dan teman saya belum sempat sarapan pagi, lebih tepatnya belum selera makan, akhirnya memilih sekedar mengisi perut di kawasan merlion park. Harga? Hmhm.. harga wisatawan. Air mineral kecil saja dijual 3 $ singapura. Sedangkan, 1 DS itu sama dengan Rp9.800. Roti selai yang kami makan sekitar 8 dolar singapura dengan 6 potongan. Karena lagi lapar walau dibagi dua rasanya sih enak. Temen saya bilang, roti terenak yang pernah dia makan. Mungkin karena makannya di Singapura ya. hehe Cerita singkat selama membeli roti dan air mineral. Saya dengan PD order menggunakan Bahasa Inggris, eh dia seperti tidak paham gitu ya mungkin pakai Bahasa Mandarin kali ya. Ternyata doi ngerti Bahasa Melayu/Indonesia. Ya elaah ZONK. hahaha akhirnya pakai Bahasa Indonesia aja deh. 😎 Karena cuaca di sana sangatlah panas tak heran es krim dan juga air dingin jadi menu favorit kami. Tempat ini buka 24 jam dan gratis. So, walau tetap ramai kawasan ini jadi salah satu destinasi kalian berlibur di Singapura. 😄

..to be continued..

Rabu, 01 November 2017

Traveling ke Malaysia: Explore Melaka dan Little India KL Sentral [Part 3]

Posted by with No comments
Kali ini masuk ke bagian 3 edisi jalan-jalan saya. Hari ke-2 kami memutuskan untuk mengunjungi wisata sejarah yang jaraknya cukup jauh sekitar 148 kilometer dari Kuala Lumpur (KL), yaitu Melaka atau Melacca. Pada tahun 1989, Melaka menjadi salah satu negeri atau provinsi yang ada di KL. Pada tahun 2008 Melaka dan George Town, dinobatkan oleh UNESCO sebagai Kota Warisan Dunia (World Heritage). Sebagai informasi tambahan bahwa kultur atau suasana di Melaka ini tidaklah asing bagi orang Indonesia khususnya Sumatera. Kami seperti berada di kota Riau, Palembang, ataupun Jambi. Mungkin ini juga menandakan bahwa adanya kerajaan serumpun, Melayu.

Singkat sejarah, Kerajaan Malaka atau yang lebih dikenal dengan kesultanan Malaka merupakan sebuah kerajaan yang pernah berdiri di Malaka, Malaysia. Kerajaan ini bercorak Melayu, dan didirikan oleh Parameswara antara tahun 1380-1403 M. Menurut kitab Sulalatus Salatin, kerajaan Malaka merupakan lanjutan dari kerajaan Melayu di Singapura. Kemudian, akibat adanya serangan dari Jawa dan Siam, maka pusat pemerintahan berpindah ke Malaka. Parameswara sendiri merupakan seorang yang berasal dari kerajaan Sriwijaya yang merupakan putra dari raja Sam Agi. Parameswara merupakan seseorang yang menganut agama Hindu. Saat kerajaan Sriwijaya runtuh akibat diserang oleh Majapahit, ia melarikan diri ke Malaka. Parameswara beserta rombongannya yang sudah memiliki peradaban yang lebih tinggi, berhasil mempengaruhi penduduk asli, sehingga bersama-sama dengan suku Laut, parameswara berhasil mengubah Malaka menjadi kota yang ramai. Nama Malaka diambil dari bahasa Arab “Malqa” yang berarti tempat bertemu. Alasannya karena di tempat inilah para pedagang dari berbagai negeri bertemu dan melakukan transaksi perdagangan. Lambat laun Kerajaan Malaka ini digantikan oleh Kerjaan Islam. [1]

Nah, kembali pada topik perjalanan kami ke Melaka. Kami memutuskan untuk menyewa mobil van isi 17 orang untuk mengantarkan kami ke sana. Saya sebagai team leader di sini sudah memesan beberapa bulan sebelum kami tiba di KL. Setelah browsing akhirnya saya menggunakan fasilitas Jelajah Hemat selama trip di sana. Kami tetap tidak menggunakan pemandu wisata, hanya menyewa kendaraan dan pemandu sekaligus pengendara yang asli orang Melayu Malaysia. Maka, tak susah bagi kami untuk sekedar bercerita seru bersama Bapak Naseer ini. Beliau banyak sekali menceritakan tentang budaya Malaysia dan cerita tentang serumpun antara Indonesia dan Malaysia. Waktu yang dibutuhkan untuk sampai di sana sekitar 2 sampai 2,5 jam. Kami berangkat pada pukul 08.30 dan tiba sekitar 10.45. Cuaca sangatlah bersahabat, terang benderang cuy 😁 Sesampainya di sana, ternyata kota ini tak sebesar KL yang penuh dengan kendaraan dan orang. Kota ini termasuk bersih dan nyaman. Oh, iya kota ini sangatlah bersih karena Pemerintahnya melarang keras warganya merokok. Itu juga terlihat pada slogan di beberapa papan reklame yang bertuliskan "Don't Mess with Melaka" yang berarti menjaga kebersihan lingkungan. Ini sih keren ya warga dan pemerintahnya kompak. hehee



Ketika sampai di tempat wisata Melaka nanti akan dijumpai tulisan Selamat Datang di Melaka World Heritage City. Di seberang ini akan dijumpai gereja tua St. Francis Xavier yang dibangun oleh  Portugis sejak 1859. Berjalan sedikit dari tulisan selamat datang Melaka, Anda akan menemui toko-toko disepanjang jalan. Mulai dari berjualan baju, pernak-pernik, makanan dan lainnya. Sampai pada area  Stadthuys lokasi paling populer dan menjadi pusat wisatanya yang terkenal dengan Kota Peranakan Warisan sehingga bisa dijangkau hanya dengan berjalan kaki. Pertama, dijumpai Balai Seni Lukis Malaka yang dibangun pada tahun 1958 serta menjadi Museum Galeri Seni di Melaka. Di samping Balai Seni Lukis ini terdapat Gereja Kristus atau Christ Church Melaka yang merupakan gereja Protestan tertua di Malaysia yang dibangun tahun 1753 oleh  Belanda ketika mereka menguasai Portugis. [2] Di depan Gereja ini juga terdapat air mancur. Arsitektur ini juga didominasi oleh gaya Eropa bangunan yang megah, stuktrur dindingnya yang tebal, dan tiang-tiangnya yang tinggi.




   


Setelah puas untuk berfoto-foto maka selanjutnya kami berjalan ke atas bukit St.Paul kawasan Famosa. Gereja St Paul ini berada di atas sebuah bukit sehingga untuk sampai ke Gereja ini maka kami harus mendaki puluhan anak tangga. Disarankan apabila ke sini membawa air mineral dan juga paying karena cuaca amat terik. Sebelum kedatangan Portugis 1511 Bukit ini dikenali dengan Bukit Melaka, karena di kaki bukit inilah letaknya Istana Kesultanan Melayu Malaka. Namun, ketika Portugis datang semua bangunan Sultan Melaka dihancurkan. [3] Nah, di sana kita bisa melihat sisa-sisa reruntuhan bangunan yang sudah berdiri lebih dari 500 tahun. Pada saat memasuki kawasan ini Anda akan melihat patung St Francis Xavier yang masih kokoh berdiri. Adapun yang menarik dari dalam bangunan ini ada terdapat sebuah lubang bawah tanah yang dilapisi besi, Ini kuburan St. Paul. Sembilan bulan jenazahnya sempat dimakamkan di gereja Saint Paul, namun jenazah Xavier konon tak cacat sedikit pun saat tubuhnya yang telah dikubur hendak dipindah makamkan di Goa, India. "Di waktu yang sama di tahun 1614, lengan kanan jenazah Xavier dipotong. Tapi, secara tak sengaja, telapak kanan patung Xavier juga hilang setelah patungnya didirikan dan bagian tangannya patah setelah sebuah dahan pohon jatuh menimpa patung tersebut," detik travel. [4]


Setelah itu, kami kembali turun dari bukit menuju Jonker Walk. Sebelum masuk ke kawasan ini, kami juga melewati Sungai Melaka. Sungai ini tepat di depan kawasan  Stadthuys. Sungai Melaka ini merupakan sungai penting semasa kerajaan Kesultanan Melayu Melaka dan mempunyai nilai sejarah yang tersendiri karena di kiri kanan sungai itu merupakan kawasan perbandaran, penempatan, perkuburan, perniagaan, perkapalan, pelabuhan, dan banyak lagi sejak ratusan tahun yang lalu. [5] Di tepi sungai ini ada beberapa kios yang menjual berbagai minuman dan makan ringan untuk menemani Anda sekedar bersantai berada di tepi Sungai Melaka. Sungai ini juga bersih tak heran jika sungai ini menjadi salah satu objek wisata ketika di Melaka, Melaka River Cruise. Anda bisa mengitari sungai ini dengan menggunakan kapal bot dan membayar sekitar 10-21 RM tergantung kedatangan Anda ke sini. Waktu terbaik untuk mengitarinya adalah malam hari. Harga bisa cek di sini.

Jonker Walk merupakan daerah Cina atau lebih dikenal dengan Chinatown Melaka. Di sini banyak ditemukan buah tangan antik, galeri lukisan, toko kesenian, dan juga banyak  restoran.  Ada juga pasar malam yang berada di sepanjang Jonker Walk ini . Nah, untuk makan di sini bagi Anda yang muslim harus berhati-hati ya karena tidak banyak restoran yang menyediakan makanan halal. 😊 Pilihan kami pada Restoran Mamee Jonker House yang dibuka sekitar 2014 lalu. Ini salah satu restoran halal di daerah Jonker Walk. Konsep restoran ini juga unik. Di sana Anda bisa menemukan makanan-makanan zaman dulu dan banyak tokoh-tokoh kartun yang menjadi wallpaper di dalam restoran ini. Banyak juga menu makanan dan minuman yang bisa Anda pilih. Harga di restoran ini juga terjangkau kantong Anda. Mulai dari 5 hingga 30 RM. Oh iya, saya suka ayam goreng di sini lho. Selain enak, ayamnya juga besar. hahaa ðŸ˜‹

Setelah makan siang, kami harus kembali ke KL. Namun, sebelumnya kami diajak oleh Pak Naseer untuk melihat kekuasaan Allah, Masjid Terapung Melaka. Masjid ini berada di Banda Hilir dan menghadap langsung ke Selat Malaka, selat tersibuk dan terpanjang di dunia. Masjid ini tak hanya menyuguhkan arsitektur bangunan yang indah namun juga pemandangan pantai yang mempesona. Keunikan masjid ini terletak pada bangunannya yang dibuat di pinggir pantai sebuah pulau buatan bernama Melaka sehingga saat pasang menghadirkan sensasi masjid yang seolah terapung di tengah lautan. Dengan kondisinya tersebut Masjid Melaka dijuluki pula dengan Masjid Terapung. Masjid yang mulai diresmikan pada tahun 2006 silam ini menempati lahan seluas 1,8 hektar dan mampu menampung 2000 jemaah. Jika dilihat sekilas, masjid ini mirip dengan masjid terapung di Jeddah. Ini yang juga menjadi inspirasi masjid ini berasal [6]. Alhamdulillah, kami berkesempatan untuk bisa menunaikan shalat di sini. Sudah hati adem setelah shalat ditambah lagi dengan pemandangan yang meyegarkan hati dan pikiran. Oh iya, sama seperti Masjid-masjid lainnya, buat yang ingin berwisata ke sini wajib mengenakan pakaian sopan dan menutupi aurat, bagi yang Pria ataupun Wanita. 😊



Kami tiba di KL Sentral sekitar pukul 5 sore. Waktu sewa van kami terbatas karena hanya sampai jam 5 sore saja. Alhamdulillah selama perjalanan pulang kami tidak terkena macet hanya saja ketika berada di pusat KL Sentral. Berhubung masih siang akhirnya kami memutuskan untuk sekedar jalan-jalan santai pada malam harinya mengunjungi Brickfield, Little India. Sebenarnya saya tidak menyangka akan menginap di lingkungan ini. Tidak suka? Ahh jangan salah, saya suka sekali. hahahahaa Di sepanjang jalan Tun Sambathan Anda akan merasakan seperti berada di India, karena anda akan menemukan berbagai macam pernak-pernik pernikahan, asesoris baju, makanan, restoran, dan baju-baju khas India. Saya tidak melewatkan kesempatan ini. Saya membeli asesoris seperti, gelang, anting, tindikan dan juga baju khas India. Harga lebih murah di bandingkan  harga di Indonesia. Saya mendapatkan gelang dan tindikan/anting  seharga 3 RM saja atau sekitar kain songket India 26 RM untuk 2 meter, dan baju Punjabi (Punjabi Suits) lengkap dengan celana dan selendang yaitu 110 RM. Nah, 1 RM = Rp3180. Saya pernah beli baju sejenis saree dan Punjabi suit itu 2 kali dari yang saya beli dan itu hanya berupa kain potongan belum dijahit. hehehhee Selain itu disepanjang jalan anda akan menemukan berbagi makanan "camilan" bagi yang suka, seperti dosa, parata, samosa, golgappa, panipuri, golab jamun, aneka keripik, dan lain sebagainya.

  

Makan malam kali ini tidak diputuskan untuk makan di restoran India, kami memilih restoran siap saji di NU Mall dekat tempat penginapan kami. Paket ayam nasi di sini dihidangkan dengan nasi lemak yah. So, selamat berlemak. 😀 Karena restoran tempat kami menginap juga menghidangkan makanan India, rasanya sudah cukup bagi kami mencicipi makanan khas India. Roti cane dan teh tariknya, enaaaak. 😋

Bagaimana dengan hari ke-3 kami? Kali ini kami berpindah tempat dulu, sejenak melihat tempat lain yang jauh lebih indah. Selamat Traveling Guys! 😊💃 


..to be continued..

Lihat Part 1

Lihat Part 2

foto lainnya diambil oleh : Ahmad Faried, dr. Sp.BS