Sabtu, 24 September 2016

Neerja | Perempuan Muda Super Hero

Kali ini saya akan membahas resensi film Bollywood. Mungkin bagi sebagian penonton Indonesia gak banyak yang menggemari film Bollywood, tapi saya menyukainya sejak dulu. hehehe. Ketimbang nonton film Korea, saya lebih suka menonton Bollywood sekalipun sampai 2-3 jam. Menyukainya bukan hanya karena bintang filmnya tapi karena ceritanya yang terkadang diluar dugaan penonton. 

NEERJA, film Bollywood rilisan 2016 yang diangkat dari kisah hidup seorang Neerja Bhanot. Film Neerja disutradarai oleh Ram Madhvani dan naskahnya ditulis oleh Saiwyn Quadras bersama Sanyukta Shaikh Chawla. Film ini dibintangi oleh aktris cantik favorit saya, Sonam Kapoor, lalu Shabana Azmi, Shekhar Ravjiani, Kavi Shastri, dan Sadh Orhan. Rilis di bioskop India dan Indonesia (CGV Blitz) tanggal 19 Februari 2016. Film ini sukses menembus box office India. Namun, Pemerintah Pakistan melarang film ini tayang dengan alasan sudah menyudutkan Negara Pakistan dan umat muslim.

Film Neerja menceritakan tentang kisah nyata dari tragedi pembajakan pesawat PAN AM 73 yang terjadi pada tanggal 5 September 1986 di Pakistan, tepatnya dua hari sebelum ulang tahunnya. Pesawat ini rute India, transit Karachi, menuju New York dan memuat penumpang sekitar 379 orang. Neerja Bhanot adalah pramugari muda berusia 22 tahun dan ditugaskan sebagai kepala kabin baru selama penerbangan India-New York. 

Awalnya saya tidak mengetahui kalau film Neerja ini diambil dari nama asli Neerja Bhanot. Ternyata dia adalah salah satu pahlawan perempuan yang berhasil menyelamatkan nyawa para penumpang karena keberanian dan kecerdasaannya. Atas keberaniannya, iapun telah dianugerahi penghargaan Ashoka Chakra dari pemerintah India, Pakistan, dan berbagai penghargaan lainnya termasuk Amerika Serikat. Teroris tersebut menyandera penumpang di dalam pesawat. Teroris itu merupakan anggota dari Abu Nidal Organization. Mereka membajak pesawat dengan bermaksud untuk menyelamatkan teman-teman mereka yang ditahan di suatu negara. Mereka datang menyelundup masuk melalui pintu belakang bandara. Usaha mereka untuk sampai di negara tersebut gagal, pilot dan kopilot telah berhasil keluar dari pesawat karena mengetahui bahwa terjadi pembajakan di dalam pesawat. Dengan begitu pesawat tidak bisa lagi lepas landas. Mereka menunggu beberapa jam di dalam sambil menyandera semua penumpang dan kru pesawat karena pilot dan kopilot tak kunjung datang. Satu persatu penumpang ditembaki. Di saat-saat itulah, Neerja menunjukkan sebagai kepala kabin yang tenang dan cerdas. Dia memberikan beberapa kode-kode kepada penumpang untuk tetap tenang, mengikuti semua yang diinginkan teroris dan agar segera bisa keluar dari situasi mengecam ini. Beradu argumen dan permainan karakter pemain menambah suasana film ini semakin seru dan menengangkan. Di tengah mencekamnya aksi teroris ini, penulis script memainkan karakter dari seorang Neerja Bhanot dengan kehidupan pribadinya. Flashback ini menghidupkan cerita dari film yang menumbuhkan karakter Neerja yang juga kuat dan cerdas. Saat sebelumnyapun ibunda Neerja sudah memiliki firasat yang kurang baik atas penerbangan ia kali ini. Kejadian demi kejadian pun terjadi, beberapa orang luka-luka, dan terbunuh akibat kekesalan para pembajak, pihak bandara terlalu lama memberikan pertolongan untuk mengatasi aksi ini. Neerja berhasil membuka pintu darurat dan menginstruksikan para penumpang untuk keluar menuju pintu tersebut. Sebagai kepala kabin ia telah menjalankan tugasnya dengan baik, menyelamatkan para penumpang, para kru kabin, dan anak-anak di dalam pesawat. Mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan anak-anak. Kelanjutannya? Silakan menonton ya kawan.. hehehe  

Sonam Kapoor (Neerja Bhanot) berhasil memerankan tokoh Neerja dengan sangat baik. Begitupun dengan akting para pembajak berhasil membuat penonton tegang dan greget serta emosi. Ada cuplikan perkataan yang dikatakan Neerja di film itu yang begitu menginspirasi adalah "bukan seberapa lama kita hidup di dunia, tapi seberapa bermanfaat nya kita selama hidup di dunia." Dan itu terbukti di usianya yang sangat muda, Neerja telah meninggalkan nama harum yang terus dikenang oleh setiap generasi dan menjadi inspirasi bagi mereka yang mendedikasikan dirinya bagi kemanusiaan. 





Neerja | 2016 | Sutradara: Ram Madhvani | Penulis Naskah: Saiwyn Qadras, Sanyukta Shaikh Chawla| Pemain: Sonam Kapoor, Shabana Azmi, Shekhar Ravjiani, Kavi Shastri, dan Sadh Orhan | 
  

Minggu, 11 September 2016

Sensasi Beda Sekolah

Menulis di detik-detik terakhir tantangan bertema #AkudanSekolahku dari #1minggu1cerita adalah luar biasa.. Mulai 'agak' sibuk menjelang hari Raya Idul Adha besok hari.. :D

Boleh dibilang saya adalah penduduk nomaden di Indonesia ini haha. Lahir, besar, dan keturunan dari kota-kota yang berbeda. Saya lahir di Bandung, dibesarkan dibeberapa kota di Indonesia, dan garis dari keturunan Minangkabau yang tak pernah tinggal di sana. Ini karena pekerjaan ayah saya yang selalu berpindah-pindah. Lahir di Bandung karena ibu saya melahirkan saya beberapa hari setelah Idul Fitri padahal kami masih tinggal di Surabaya karena ayah saya bekerja di sana. Ikut lahir di Bandung, karena saat itu ikutan "mudik" yang notabene keluarga ibu saya sudah merantau dari Sumatera Barat ke Bandung sejak puluhan tahun lalu.  Kemudian sejak umur 2 bulan saya kembali dibawa orangtua untuk hijrah kembali ke Surabaya. 

Mungkin hal yang membuat saya bingung ketika menulis CV adalah saat menuliskan riwayat sekolah. Mengapa? karena saya masuk di sekolah mana lalu lulus bisa di sekolah yang berbeda. hehehe. Berawal TK Pertiwi II Bandung, kemudian melanjutkan ke SD Soka V Bandung, pindah SDN Semolowaru Surabaya, dan akhirnya harus pindah lagi SD Hang Tuah X Sidoarjo. Nah itu baru SD, dalam 6 tahun sekolah saya bisa 3 kali pindah sekolah. :D Lanjut ke SLTP Al-Falah Sidoarjo lalu pindah ke SMP Taman Asuhan P. Siantar (Sumatera Utara). Alhasil saya memutuskan untuk menuliskan riwayat sekolah terakhir di CV saya. Bercerita sedikit soal kehidupan SD ke SMP, untuk soal adaptasi mungkin saya bisa disebut "mahir" dalam hal ini, kenapa tidak? Sudah terbiasa pindah-pindah mewajibkan saya harus bisa cepat punya teman. Kalau satu kota sih mungkin lebih cepat, tapi kalau beda kota? Itu masalahnya. haha Di SLTP Al-Falah Sidoarjo adalah sekolah muslim full day yang kelasnya di pisahkan antara laki-laki dan perempuan. Nah, kalau punya kecengan, ketemunya paling pada saat upacara atau makan siang. hahaha di sekolah ini juga jiwa olahraga saya bertambah muncul. Senang olahraga sejak kecil mendorong saya untuk ikut turnamen sekolah bidang bulutangkis. Beberapa turnamen diikutkan walau tak sampai dapat mendali. Gugur selalu di semifinal. Gapapa ambil pengalaman saja. Sejak itu sempat berpikir untuk jadi atlet bulutangkis saja. :D 

Sejak memutuskan untuk pindah dari SMP di Surabaya ke SMP di Pematang Siantar, kota kecil di Sumatera Utara permasalahannya adalah pada bahasa, dari yang jawa medog trus jadi melayu. Banyak kosa kata yang sangatlah berbeda. Awal perkenalan saja saya sudah jadi bahan tertawaan teman-teman saat itu, karena logat saya. Butuh adaptasi yang lama untuk menyesuaikan logat. Kadang juga suka gak nyambung, karena beda pemahaman dan bahasa. tapi saya tak berhenti berjuang, akhirnya saya bisa belajar bahasa melayu/batak dengan logat jawa. hahaa  




Ketika akan masuk ke sekolah menengah atas akhirnya saya dan orangtua memutuskan untuk merantau ke Bandung agar SMA saya tidak lagi pindah-pindah, karena saat itu ada isu bahwa orangtua saya akan dipindahkan kembali ke beda kota. SMAN 22 Bandung adalah pilihan yang tepat untuk tumbuh menjadi remaja menuju dewasa di sana.  Dengan segala macam orang di sana. Niat saya dan orangtua juga adalah supaya saya bisa masuk Universitas Negeri di kota Bandung. Hidup remaja tanpa tinggal bersama orangtuapun menjadi kendala. Bakal lebih sering nangis dan homesick. Setiap hari ditelepon, sms, dan tak henti-hentinya memberikan nasihat kepada anak perempuannya ini. Harus bisa jaga diri. Dilahirkan dari anak pertama dan perempuan satu-satunya. Awalnya saya tidak lagi ingin pindah-pindah sekolah, cape mungkin yah, harus cari teman baru, adaptasi lingkungan dan bahasa, serta watak teman-teman. Agak sedikit ada penolakan dalam diri yang berakibat nilai di semester awalpun tak seindah yang lain. :D karena adaptasi di saat usia remaja itu agak lebih sulit. Masalah logat dari melayu ke sunda, dari keras ke lembut, suka banyak yang salah paham karena logat, dan lagi-lagi jadi bahan candaan teman. Tak jarang suka berpikir harus lebih kuat dari mereka yang sudah lama di sini. Perbedaan itu ada dan belajar menyamakannya. Lalu di SMA sayapun dipanggil "Butet" walau saya bukan orang batak. hahaha ciri khas. Di SMA inilah saya mengeksplor diri dengan banyak mengikuti kegiatan, seperti; basket, badminton, OSIS, DKM, dsb. Tujuannya selain bersosiaisasi juga cari banyak teman. ;)  Maklum orang perantauan dan ngilangin rasa homesick. :D Di sini juga saya menemukan hoby, olahraga. Mengikuti berbagai turnamen basket dan juga badminton antar sekolah.



Lalu Alhamdulillahnya saya masuk Universitas Padjadjaran Bandung Jurusan Teknik Informatika (D3). Awalnya saya tidak begitu berminat dengan jurusan ini, dulu jurusan ini tak cukup diminati karena masih sedikit universitas yang membuat prodi ini. Dulu, saya ingin masuk jurusan kedokteran atau komunikasi. hehehe. Sebelum saya diterima jurusan Teknik Informatika, saya sudah diterima di Universitas yang sama dengan jurusan Broadcasting. Bahagia bangeeet, selain karena suka, tesnya juga seperti kerja di bidang broadcasting. Namun, pertimbangan orangtualah yang saya ambil. Akhirnya saya melepasnya dan mengambil jurusan IT beberapa bulan setelah itu. Menyesal? sedikit  Kejebak dan salah jurusan? awalnya iya tapi lama-lama sih menikmatinya.. :D Saya yakin pilihan orangtua akan lebih baik dari apa yang kita pikirkan... hehehe So, enjoy your life. Himpunan adalah keluarga ke-2 saya untuk bisa terus beradaptasi dengan watak dan lingkungan... hehehe



Setelah lulus D3 saya melanjutkan ekstensi (S1) ke Universitas Komputer Indonesia dengan jurusan yang sama. Saat itu ekstensi di Unpad tidak lagi dibuka. Maka kami harus mencari alternatif lain untuk melanjutkan kuliah. Kalau gak langsung dilanjutkan takut keburu malas. hehe Kuliah ini ada kuliah yang paling berat untuk saya. Saat itu saya masih bekerja di perusahaan swasta yang cukup disiplin soal waktu. Susah untuk ijin, gak ada toleransi soal keterlambatan, dll. Bekerja di salah satu penerbitan buku ternama di Indonesia menjadi tim redaksi adalah hal yang membanggakan dan cukup menguras tenanga dan waktu, nonstop. Kuliah setiap Senin-Sabtu dari jam 5 sore sampai 10 malam. Pikiran dan tenaga harus pintar membaginya karena selain jarak yang cukup jauh dari rumah ataupun kantor ke kampus, waktu, tugas, dan fisik. Yaaa kuliah di jurusan Teknik Informatika banyak tugas-tugas yang bukan hanya tulisan tapi juga membuat aplikasi. Rasanya waktu saat itu begitu cepat. Saya hanya punya waktu dari jam 10/11 malam sampai subuh untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah. Kalau ketiduran, saya harus mengerjakannya siang hari jam istirahat. hahahaa Rasanya saat itu pengen cepet-cepet lulus. Belom lagi tekanan dosen yang "gak" membedakan mahasiswa karyawan dengan reguler. Kuliah di teknik juga membuat pola hidup saya kurang baik, banyaknya tugas juga menyebabkan kurang tidur dan berakibat insomnia. :( apalagi saat ekstensi, seperti kelelawar, mata harus terus standby hingga subuh menjelang. Tapi, saya tak menyesal dengan semua itu, pasti ada pelajaran dibalik semua perjalanan. 




Saat ini saya sudah lebih dari 4 tahun bekerja di lingkungan yang dulu jurusannya saya inginkan, FK Unpad/RSHS. Di sana saya juga seperti sekolah, mempelajari artikel-artikel tentang kedokteran dan kesehatan. Mempelajari secara otodidak tentang kesehatan dan pengobatan. Saling bertukar pikiran dengan para dokter di sana yang juga atasan saya dari berbagai spesialis. Rasanya sih pengen kembali untuk melanjutkan sekolah ke S2. Pengennya sih gak jurusan yang sama, udah "kebul" otaknya haha. Tapi ada niatan jadi dosen juga sih.. hehe Hmhm. tapi sekarang serba mahal, pengennya cari beasiswa supaya gak jadi beban pikiran juga, rasanya gaji gak nutupin buat bayar uang semesteran nanti. hahaha Nikah ajalah dulu baru sekolah lagi, tapi siapa tahu jodohnya nyasar di sana #eh.. hahah  Semoga tercapai  bisa sekolah lagi. Yang penting niat dulu yah :) Aamiin... 

Intinya, ketika suatu hari saya traveling lagi ke kota-kota tersebut saya punya banyak sahabat di sana.. Dan pengalaman ini adalah pengalaman hidup paling berharga karena belajar tentang budaya Indonesia, belajar mengusai berbagai macam bahasa daerah, harus bisa mandiri, dan saya tidak kesulitan lagi untuk bergabung dengan orang-orang yang bukan satu asal dengan saya dengan cara memahami dengan bahasa mereka. hehe ~~~@dudepanai


Rabu, 31 Agustus 2016

Cerpen: Memahamimu dalam Dingin

Banyak yang mengatakan kalau pagi selalu menawarkan cerita baru. Iya sama seperti pagi ini. Aku seperti ditawarkan banyak hal untuk menghabiskan satu hari ini sampai malam tiba. Besok pagi dan pagi, pagi lainnya. Ketika kemarin merupakan hal yang tersulit yang harus dilewati, tapi malam tidak pernah memberhentikan gelapnya sampai pagi menjelang. Seperti biasa aku memulai sabtu ini dengan menghirup udara segar diantara reruntuhan keringat banyak orang yang lewat. Setiap weekend aku menyempatkan untuk menyegarkan badanku. Empat sampai lima kilometer sudah cukup. Aku selalu menyukai tempat ini, Sabuga. Trek lari yang paling nyaman di kota ini, Bandung. Selain karena nyaman sekalian memandang masa depan, kata kebanyakan pemuda dan pemudi di sini sih.

            “Eh nyu kamu udah berapa keliling?”
            “Bentar aku lihat handpone aku dulu. Udah 3mi nih hehe. Tapi aku mau 
              udahan aja yah. Capek. Kalau kamu mau lanjut aku tunggu di sana yah, bi..”
            “Oke neng...” dia berlari sambil memegang kepalaku.

Sapaan itu yang selalu diberikan kepadaku. Neng adalah panggilan bahasa sunda dari cantik dalam bahasa indonesia. Kegemarannya dalam berlari mungkin tidak bisa ditahankan. Setiap weekend dia menghubungiku untuk janjian berlari pagi. Dia rela harus menjemput, walau dia harus muter balik ke arah rumahku. Lelaki hitam manis bertubuh tinggi, berambut lurus, berkacamata, dan berlesung pipit itu adalah Rama Arka Abimana. Aku biasa memanggilnya Abi. Walau teman-teman yang lain lebih senang memanggilnya Rama. Aku dan dia sudah bersahabat kurang lebih dua tahun. Sosok laki-laki ter-cool yang pernah aku temui. Pertemuan aku dengannya secara tidak sengaja saat aku dan dia sama-sama satu kelompok dalam kegiatan kampus saat itu. Kamu yang selalu tersenyum dan sikapmu yang cool saat itu membuat aku tak ingin berkenalan denganmu. Tapi Tuhan berkata lain. Aku ternyata harus bersahabat denganmu. Walau awalnya basa-basimu itu membuat aku ingin sekali menjauhimu. Sebagai anak Pecinta Alam saat itu aku harus terbiasa dengan kelakukan laki-laki yang pendiam tapi cool atau sok cool-lah itu serasa beda tipis, iya seperti kamu Abi.
         
            “Heh... kamu kok ngelamun sih. Masih pagi neng..”  
            “Woy... bi.. enggak kok Cuma lagi memandangin orang-orang lari.”
            “Bohong... pasti lagi memandang pada satu orang deh” candanya
            “GR heh. Orang cool yang paling GR seantero Bandung”

Aku lagi membayangkan seandainya waktu itu akan berakhir cepat. Akankah tetap terasa sama?

            “Hayu kita balik neng Naisha.. Tapi kita ketempat makan biasa yah. Laper nih”
            “Jangan nasi padang yah!”
            “Sama aja bohong kalau abis lari trus makan nasi padang! hahaa” candanya

Siang ini tidak begitu panas. Matahari pun terasa malu-malu memunculkan sinarnya. Kali ini aku harus rela menemaninya seharian bersama motor scooter hitam tahun 80an kesayangannya berkeliling Bandung. Terutama mencari tempat makan kesukaannya diatas bukit sana. Tukang Bubur. Kata sebagian orang yang datang berkunjung ke Bandung, kalau sarapan pagi di sini paling enak makan bubur ayam panas. Tak seperti mengendarai motor pada umumnya, Abi selalu mengendarainya dengan penuh perasaan tidak terburu-buru, santai, dan tetap stay cool. Jika ke tukang bubur itu membutuhkan waktu setengah jam kalau sama Abi sih butuh waktu 45 menit. Katanya kalau naik motor di Bandung mah harus dinikmati. Nikmatinnya sama aroma pagi dan suara angin rasa sepoi-sepoi. Bagiku keadaan ini terlalu singkat untuk diabaikan. Menikmati setiap angin yang menusuk tubuh. Sesekali merentangkan tangan dan berteriak. Sengaja membagikan senyum kebahagian. Kebahagian karena akhirnya bisa naik motor ini keliling Bandung. Mungkin bagi setiap wanita menginginkan dibonceng naik motor besar atau mobil, tapi bagiku naik motor scooter ini adalah sederhana. Bahagia. Kalau lagi di motor ini, ngobrolnya harus agak kencengan sedikit karena gak kedengeran. Jangan pernah ngebahas rahasia aja, bisa-bisa penghuni jalan tau semua.

            “Neng. Kenapa kamu teriak-teriak?”
            “Engga papa. Cuma lagi pengen teriak aja.”
            “Kirain mau loncat dari motor..”
            “hahhaa enggalah nanti aku masuk TV nya berdua kamu dong. Jadi seleb 
              dadakan..”
            “Sial.. ogah banget...”

Beginilah nasib orang pakai scooter tahun ajaran Patimura. Diliatin banyak orang. Gara-gara suara kita terlalu stereo dan speakernya terlalu kenceng.         
           
            “Hayu neng kita turun makan bubur dulu..”
            “Aduh bi, aku tiba-tiba kenyang”
            “Emang kamu makan apaan, kenapa jadi tiba-tiba kenyang?”
            “Makan angin dari scootermu..”
            “Ha..ha..ha..” seketika dia memukul pundakku sembari tertawa
            “Malah ketawa, serius...”
            “Udah ah makan, nanti malah masuk angin beneran..”

***
Setiap weekend seperti ini pasti dihabiskan dengan lari, lari, dan lari. Mengikuti kemauan Abi. Tapi aku tak pernah merasa keberatan dengan keadaan seperti ini. Mungkin ini kelewatan. Mungkin ini menyenangkan tapi aku menikmatinya. Menikmati juga dengan segala tingkah laku dan moodnya yang sesekali sulit aku tebak. Selama berteman lama denganku, aku tak pernah melihat Abi atau bahkan menceritakan sosok perempuan lain di hatinya. Mungkin hatinya masih pada Keara perempuan yang menjadi cinta pertamanya. Aku menyadari tidaklah mudah mencintai orang lain dikala hatinya masih menggantung pada satu nama. Padahal aku tahu Keara tak lagi mencintainya bahkan membencinya ketika hubungan hari itu berakhir. Tak ada lagi sms atau panggilan masuk di handphonenya. Aku tahu hati Abi begitu terluka kala ia harus mengalah pada teman lama yang tanpa dia tahu, Keara sudah bertunangan dengan lelaki itu. Sejak kejadian itu Abi menjadi orang yang sensitif dan moody. Mungkin kenapa tak ada teman perempuan lain yang bisa bersahabat lama dengannya karena sifat moody-nya. Dia bisa menjadi laki-laki yang sangat puitis, bahkan perhatian, atau bahkan cuek. Termasuk padaku. Aku sudah cukup mengerti tentang itu.

Saat itu hujan cukup deras aku dan Abi memilih untuk sejenak berteduh di bawah halte bis yang sudah dipenuhi para pemotor. Aku melipat tanganku diantara tebalnya jaket yang aku pakai. Sesekali menghebuskan nafas diantara kedua tanganku. Abi memandangku. Mungkin Abi sedang berpikir tentang satu hal. Keara. Katanya hujan adalah bagian dari kehidupannya. Abi yang memakai kemeja kotak-kotak flanel berwarna hitam putih, sepatu converse belel, topi kebelakang, dan jeans bladus hitam itu menatapku dalam. Lalu tanpa sadar dia memegang pundakku.

             “Sini aku pijet-pijet pundaknya biar anget”
             “Kirain kamu mau ngapain pegang-pegang pundak aku”
             “hahaaa” tawanya “Kasian kedinginan, makanya kalau dipijet-pijet kan jadi
               Anget..”
             “Gak ngaruh tau.. yang ada sakit pundak..” perlahan tanganku menurunkan 
               tangannya.
             “Dasar neneng jutek ihh”

Hujannya sangat deras. Entah kapan hujan ini akan berhenti. Aku dan dia memilih untuk tetap berteduh di sini. Semakin lama halte ini semakin sepi karena banyak pengendara motor lainnya memilih untuk menerobos hujan.
           
            “Bi...”
            “Apaan?”
            “Kamu lagi keingetan sesuatu yah? Udahlah jangan dipikirin toh hujan juga
             gak akan pernah balikkin waktu kamu. Mencoba hujan-hujanan juga kalau gak                    ada yang payungin juga tetap masuk angin kan?
            “.......” suasana seperti lagi di Gua Belanda. Sepi.. Abi tak merespon
            “Yuk.. hujan udah reda. Kita terebos aja”

Aku akan menjadi orang yang akan bersalah ketika mood nya Abi menjadi berubah. Dia bergegas ke motornya menghidupkan mesin, memakai helm, dan sekejap melihatku dan menganggukan kepalanya. Abi adalah laki-laki yang paling cool ketika masalah lalunya disentuh perempuan lain termasuk aku. Sepanjang jalan menuju pulang aku seperti ada di dalam hutan berjalan. Sepi dan menikmati saja setiap hembusan angin. Bagi setiap perempuan menghadapi laki-laki moody seperti ini adalah hal yang membetekan apalagi bukan pacar. Ada tapi terasa tak ada. Ada tapi tak pernah tersentuh. Iya tapi itulah Abi. Laki-laki paling moody seantero pengguna scooter. Diam dan tetap diam. Akupun tak mau menambah buruk moodnya itu. Aku tak bisa membayangkan seandainya dari tempat ini menuju rumahku 1 hari. Bisa-bisa aku mabok scooter dan tau-tau aku jadi patung berjalan.
           
            “Abi... makasih ya... Sorry maafin aku, aku engga maksud kok.. serius..”
            “Udah Gapapa... see you...”

Dia tidak menatapku. Diam dan bergegas pergi. Aku tahu Abi marah padaku. Tapi akan sampai kapan menutup hati. Menutup hati yang jelas-jelas orang yang dia cintai memilih meninggalkannya. Melihat orang lain pun aku rasa tidak.. Sejak kejadian itu hubungan aku dan Abi kurang baik. Abi lebih sering melimpahkan kekesalannya kepadaku. Entah masalah apa. Dia diam tanpa suara. Aku hanyalah perempuan yang kadang terluka ketika hadirku merasa tak dianggap.

Dua hari mendatang adalah hari ulang tahunnya. Hari ulang tahun kami berdekatan. Abi 5 Januari sedangkan aku 8 Januari. Sikapnya begitu dingin. Kami dikampus yang sama namun berbeda kelaspun tetap tak menyapa ketika bertemu. Sesekali dia melemparkan senyum. Sejak saat itu dia menjadi orang yang sangat sensitif. Ketika aku tanya kenapa, dia hanya menjawab gapapa. Aku tanya kamu marah sama aku, dia jawab engga. Inilah yang selalu aku takutkan. Abi menjadi berbeda ketika ada orang lain ada yang menyinggungnya. Lelaki gunung cool itu sangat sensitif. Harus berapa lama lagi aku bertahan?
           
            “Hallo.. Abi kamu di mana? “
            “Di warung depan. Kenapa?”
            “Aku mau ketemu bentar yah...”
            “Sok aja ke sini.”
            “Tapi takut rame orang, banyak temen-temen kamu”
            “Engga ada kok, aku sendiri”
            “Ya udah,, Dah..”

Mungkin mood abi sudah mulai membaik. Setelah aku tak lagi menghubungi selama 3 hari. Setidaknya bisa melunturkan kekesalannya padaku.

             “Heh .. makan gorengan mulu... Selamat ulang tahun yah Abi..”
             “Makasih lho.. tadi malem kan udah SMS”
             “Engga dibaleskan tapi?”
             “Apaan ini?”
             “Selama ini kan aku gak pernah kasih apa-apa, jadi aku pengen kasih kamu 
              Sesuatu. Semoga kamu suka dan dipakai yah”
             “Iyaaa... kalau bagus mah aku pakailah”
             “Becanda mulu kamu..”
             “Wow makasih ya neng.... Kok tau sih aku pengen beli ini“
            “Iya waktu kita jalan ke toko itu kamu Cuma liat-liat aja dan Cuma nanya harga 
             kan? Aku kan merhatiin kamu pengen itu udah lama,, jadi aku tahu apa yang                      kamu mau dan butuh.. Hebat kan aku, pengagum rahasia hahhaa“ candaku.
            “Beuhh iyaaa” hhahahaa sambil memegang kepalaku
           “Minggu depan kan kamu mau naik gunung sama yang lain kamu bisa pakai tasnya. 
             Aku kayaknya gak akan ikutan naik gunung yah, udah semester akhir aku tak 
             dibolehin ikut pasti“
            “heh..hee.. iyaaa... nuhun pisan”
            “Eh aku balik yaa. Kamu pulang hati-hati yah..daahhh”

Hari itu aku merasa ada yang tak biasa diantara kita. Tangannya bergetar menerima kado dari aku. Akupun sebaliknya. Tanganku bergetak diam tunduk menatap matanya. Seolah memberikan isyarat. Belum tentu dia mengetahuinya. Lagian buat apa mencintai yang mungkin hatinya buat kita. Ada kalanya menyerah atas usaha yang udah kita perjuangkan termasuk mendapatkan hatinya. Ada pepatah mengatakan “Tak mungkin ada apa-apa diantara persahabatan lawan jenis yang saling diam”. “Persahabatan diantara wanita dan pria pasti salah satunya jatuh cinta lalu mencintai atau bahkan keduanya.” Mungkin aku dan Abi merasakan hal yang sama. Tapi aku tak mungkin mengungkapkannya. Itu sama seperti daun yang jatuh dari pohon, diam bertahun-tahun di bawahnya. Tak tersentuh angin dan diam mengering di sana. Perasaan ini tiba ketika aku tak sengaja membaca handphone yang dia titipkan padaku saat itu. Ketika dia memintaku membacakan pesan singkat di hp nya saat sedang perjalanan menuju pulang. Aku menutup pesan itu, lalu aku tak sengaja melihat semua isi pesan singkatnya. Hanya nama aku. Aku mencoba membuka satu pesan dariku. Pesan singkat isi curahan hatinya padaku. Maaf jika kali itu aku terlanjur membaca lalu bahagia tapi sedih juga, karena semua seakan tak mungkin. Sikap dan hatimu terlalu dingin untuk ditaklukkan.

Malam itu akan membaca postingan disalah satu media sosialmu. Postingan itu terbaca saat aku membuka aplikasi tersebut dan muncul pertama di halaman utama sosial media itu. Dalam hadiah yang aku berikan itu aku menuliskan suatu hal..
         
      “Dear Abi. Selamat ulang tahun. Semoga kamu selalu sehat dan terus
        Berbahagia. Semoga kamu menemukan seseorang yang akan membuat
        hidupmu lebih bahagia. Mungkin aku bukan siapa-siapa tapi aku akan selalu
        ada untuk kamu, sekalipun nanti kamu melupakan aku. Happy Birthday Abi :)

      “Terima kasih karena telah memberikan aku hadiah dan kebahagian. Terima
        kasih untuk semua tapi maaf aku belum sanggup membalas kebahagian itu.
        Bukan sekarang tapi saat nanti mungkin..”

Semenjak saat itulah hubungan aku dan Abi mulai pasang surut. Entah kenapa hubungan ini menjadi sangat dingin. Abi tak lagi menghubungiku tak bercanda gurau lagi denganku. Lalu aku berusaha untuk menanyakannya pada Bian soal Abi. Setelah aku bertanya pada Bian, dia menceritakan semuanya. Seketika aku terdiam. Ingin marah atau ingin menangis. Abi kecewa karena dia mengetahui kalau aku jatuh cinta padanya dari orang lain. Inilah abi lelaki cool yang moody. Aku tak bisa berbuat apapun. Aku tak bisa membuat semuanya menjadi seperti dulu. Maafkan aku Abi.

***

Saat kelulusan kuliah itu tiba. Abi tak menemuiku bahkan tak menyapaku saat dia menghampiri sahabatku disampingku. Abi begitu tega mengubah keadaan ini. Setiap weekend dia lari. Tapi dia tidak bisa lari menghadapiku. Akan tetap ada aku dalam hidupnya sekalipun dia menolak. Hatiku seketika hancur, menangis dalam hati, dan berteriak-teriak. Aku bisa apa? Egois, itulah yang tepat menggambarkannya.

Sudah satu tahun berlalu aku mencoba menghubungimu tapi tak pernah ada respon darimu. Aku hanya melihatmu dalam aplikasi oborolan pesan di komputer. Sesekali aku ingin mengetik namun kemudian aku menghapusnya kembali. Aku tahu kamu  merasakan hal yang sama. Aku selalu melihatmu dalam media sosial yang selalu kamu posting. Terakhir aku melihat kamu masih memakai tas yang akan berikan 2 tahun lalu. Tapi mengapa kamu selalu mengatakan “gapapa” disaat aku memberikan pertanyaan yang sama. Aku sebenarnya tak ingin semua menjadi dingin karena keegoaan masing-masing. Kamu bisa bercanda akrab dengan semua sahabatku tapi tidak dengan aku. Aku seperti patung hiasan saat itu. Hatiku hancur, bi. Setegakah itu kamu perlakukan aku.

***
Pagi tadi aku melihatmu. Wangi parfummu terlalu akrab di hidungku. Kita berhenti di lampu merah yang sama. Mengenakan jaket yang sama, jaket komunitas. Kamu menggunakan motor bebek dan aku masih menggunakan motor scooter baru yang sama yang kamu pasti tahu, itu aku. Kita ada dijajaran yang sama, berdampingan.  Sepatu bootmu dan sepatu flatku bersebelahan menyentuh tanah. Aku menoleh ke arahmu, tapi pandanganmu tunduk seolah-olah kamu tak mengetahuinya. Aku tahu itu kamu, Bi. Sebersalah itukah aku sampai kamu tak ingin menyapaku, setidaknya dengan kata “Hai”? Kenapa bukan aku saja yang menyapamu? Aku egois, bi. Mempertahankan egoku untuk tetap membiarkanmu menyapaku duluan. Tapi hari itu mustahil.  Kamu bergegas pergi meninggalkan aku. Aku memandangmu dari jauh. Aku tahu kamu melirikku melalui spion kananmu itu. Semoga kita berjumpa kembali. Aku berharap kita beretemu di lampu merah selanjutnya dan di hari berikutnya dan tahun-tahun berikutnya. Ini sudah 5 tahun berlalu. Setiap aku bertemu denganmu sengaja atau tidak sengaja, aku berusaha melupakan egoku. Menyapamu lebih dulu. Mencoba membuat semua menjadi cair. Tatapanmu penuh arti. Tawamu lepas ketika bercanda dengan teman dan sahabat-sahabatku. Aku hanya bisa menutup mata dan kemudian menghelakan nafas. Ini akan baik-baik saja.  Pernahkan kamu menyadari bahwa aku terus berusaha memahami dalam dinginmu? Tak takutkah kamu seandainya Tuhan yang memang menginginkan kita? Kita bisa apa? Pertanyaanku tetap sama? Ada apa dengan aku? Ada apa denganmu? Jawabanmu tetap sama “tidak apa-apa, neng.”

Setidaknya aku mendengar nama itu setelah sekian lama kau simpan dalam hatimu selama bertahun-tahun. Percayalah, walaupun kamu sudah memperlakukanku seperti ini, aku tak pernah marah. Kecewa saat itu iya. Kini, mungkin akan berubah ketika kamu mau mengubahnya. Jika nanti sudah sanggup mengatakan yang sesungguhnya, Mangga temui aku, Bi. :)



https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/

Jumat, 26 Agustus 2016

Maparin Tuangeun "berbagilah walau sedikit"

Bahagia sekali rasanya sejak sudah lama tak berkumpul, bertemu, dan berkegiatan bareng setelah sekian tahun. Semenjak bebrapa tahun yang lalu, kami hanya berkumpul sebentar di acara-acara pernikahan atau syukuran. Memiliki keluarga besar seperti teman-teman yang berkecimpung di dunia himpunan dulu adalah suatu kebahagian. Bukan cuma untuk sekedar berkumpul dengan canda tawa, ngopi bareng, tapi juga berkumpul yang bermanfaat. 

Sekitar awal Agustus, saya diundang disalah satu media sosial berbasis chatting dan ternyata ada "kami" yang dikumpulkan untuk berkumpul dan membicarakan banyak hal-hal. Sudah lama memang kami tidak mengadakan acara-acara yang dulu diagendakan setiap bulannya. Dulu memiliki waktu yang banyak, ketemu lalu rapat, ketemu lalu ngonsep, dsb. Namun, rapat kecil beberapa hari di aplikasi ini adalah "jitu", ketika tak bertatap muka, namun semua konsep dan idenya rampung. Ini juga karena dorongan yang kuat dari teman-teman yang tak ingin sekedar berkumpul tapi juga bermanfaat. Membagi masing-masing tugas yang harus disiapkan pada hari-H. Kerja ikhlas kalau kata kang Emil (Walikota Bandung).

Maparin Tuangeun (dalam bahasa Sunda) yang berarti / mem.be.ri / ma.kan  adalah sebuah kegiatan IF PEDULI yang ditujukan untuk para dhuafa dan fakir miskin. Maparin Tuangeun lahir dari keinginan melakukan kegiatan sederhana yang bisa menginspirasi banyak orang untuk berbuat baikTepat di hari Sabtu, 13 Agustus 2016 lalu kami membuka "lapak" makan gratis untuk para dhuafa dan fakir miskin di Taman Cibeunying, Bandung. Sekitar 50 lebih porsi nasi beserta lauk pauknya dan juga buah. Sasaran kami siapa saja, para pengumpul sampah, petugas kebersihan taman, tukang becak, penjual makanan, pedagang asongan, juru parkir, penjual balon, atau bahkan musafir seperti pengumpul barang bekas yang tak memiliki tempat tinggalpun.

Alhamdulillah, ketika ada seorang Bapak yang sangat bersyukur mendapatkan rejeki seperti ini apalagi berupa makanan, Beliau bercerita bahwa sejak tadi pagi ia belum makan. Berkali-kali ucapan terima kasih dihaturkan kepada kami. Belum lagi bertemu dengan para pengumpul sampah/barang bekas yang sungkan untuk datang ke tempat kami, khawatir setelah itu ia akan mengeluarkan uang untuk membayarnua. Ada juga Bapak tukang becak yang ketika ditawarkan terlihat sumgringah karena bisa makan siang hari itu.  

Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. (HR. Ath Thabarani, Al Mu’jam Al Awsath No. 5787. Al Qudha’i, Musnad Syihab No. 129. Dihasankan Syaikh Al Albani. Lihat Shahihul Jami’ No. 6662). 

Alhamdulillah. Kami tidak berhenti bersyukur karena kegiatan ini membawa kebahagian bagi kami. Bahwa berbuat baik sekecil apapun lalu bermanfaat untuk orang lain itu, nikmat. Hadiahnya memang tidaklah instan, tapi rasanya dalam hati. Dari kegiatan ini banyak sekali pelajaran yang bisa kami ambil. Salah satunya jangan pernah berhenti bersyukur. Doakan kami bisa rutin menebar kebaikan ini setiap bulannya, agar bisa memberikan suatu kebahagian bagi mereka-mereka yang selalu bersyukur atas apapun yang diterima, sekecil apapun. Lalu nikmat mana lagi yang kamu dustakan? ;)










foto-foto ini diambil dari jepretan teman kami nrspyn


Jumat, 19 Agustus 2016

Bollywood Bukhaar

Jikalau nama saya dijadikan aksara India akan seperti ini देवी फैबिओला स्यह्फ़ित्री (silakan terjemahkan sendiri) yang berarti nama kepanjangan saya. Kono katanya kalau dulu Ayah saya termasuk penggemar dunia Bollywood maka nama sayapun menjadi Devi. Sri Devi adalah aktris Bollywood yang "hits" di jaman ayah saya dan cantik pula. Semoga cantiknya tak kalah jauh dengan saya.. haha Mungkin sejak nama itu lahir dan melekat di dalam diri saya maka secara tidak sengaja saya juga akan menyukai dunia Bollywood. he.he. 

Kecintaan saya sama Bollywood mengalir begitu saja, sama seperti abeGe pada umumnya yang menyukai Korea atau Hollywood. Sejak duduk di Sekolah Dasarpun saya sudah menyukainya. Jika saya dihadangkan dengan dua film, Korea atau India saya akan memilih nonton film India. Banyak juga yang "menganehkan" kesukaan saya terhadap Bollywood, mungkin karena India. Mungkin karena sudah tak banyak anak-anak muda yang suka nonton India. Selain karena para aktor dan aktrisnya, jalan cerita dari film India itu menarik dan selalu berhasil membuat saya berkaca-kaca atau bahkan menangis. Nah kalau genre Action kerap membuat saya juga jatuh cinta sama pemerannya dan keren banget.  Seperti Amitha Bachchan, Ajay Devgan, Akshay Kumar, Shahruhk Khan, Hrithik Roshan, Aamir Khan, Salman Khan, Saif Ali Khan, Arjun Rampal, Abhishek Bachchan dilanjut generasi kece-kece sekarang Sidharth Malhotra, Rabir Kapoor, Imran Khan, Aditya Roy Kapoor, Ranveer Singh, Arjun Kapoor, dan lainnya. Aktris seperti Madhuri Dixit, Kajol, Aishwarya Rai, Rani Mukerji, Kharisma Kapoor, Kareena Kapoor, Priyanka Chopra, dilanjut generasi Katrina Kaif, Anushka Sharma, Alia Bhatt, dan banyak lagi... 

Buat saya India adalah salah satu negara yang akan saya jelajahi nanti. Ingin mengunjungi Taj Mahal yang berada di Agra, India salah satunya. Sungguh Cantik sekali. Taj Mahal adalah sebuah bangunan moseleum di Agra, India yang sudah dikenal dan diakui sebagai salah satu dari 7 keajaiban dunia. Taj Mahal adalah suatu bukti cinta dan menjadi lambang keromantisan dalam biduk asmara sepasang kekasih. Cerita tentang asal usul dari Taj Mahal diceritakan kembali dalam sebuah serial di TV yaitu, Jodha Akbar.
aj Mahal adalah bukti cinta yang tak lekang oleh jaman. Bangunan ini menjadi perlambang keromantisan dalam biduk asmara sepasang kekasih.

Sumber: http://kisahasalusul.blogspot.com/2015/10/asal-usul-taj-mahal-dan-kisah.html
Disalin dari Blog Kisah Asal Usul.

google.com
 
https://afastar.files.wordpress.com/2013/02/qutab-minar.jpg
Menara Qutb Minar terletak di dalam kompleks arkeologi besar di daerah Mehrauli, Delhi. Qutb Minar itu seperti monumen perjuangan atau Monas di Indonesia. Menara Qutub adalah sebuah menara kemenangan, tower megah, yang juga berfungsi sebagai menara masjid. Bangunanya dipengaruhi oleh ciri khas Afgan yang kemudian digolongkan ke dalam arsitektur Indo-Islam. Sultan Qutubuddin memulai pembangunanya pertama kali tahun 1192, setelah mengalahkan kerajaan Hindu terakhir di Delhi. Qutb Minar^ adalah sebuah masterpiece dalam perjalanan arsitektur Islam. . Lalu ada pula Benteng Amber yang terletak di wilayah Jaipur, India ataupun Harmandir sahib biasa disebut sebagai “the golden temple” di Amritsar, Punjab. *semoga bisa segera ke sana* Aamiin
Qutb Minar adalah sebuah menara kemenangan, tower megah, yang juga berfungsi sebagai menara masjid. Bangunanya dipengaruhi oleh ciri khas Afgan yang kemudian digolongkan ke dalam arsitektur Indo-Islam. Sultan Qutubuddin memulai pembangunanya pertama kali tahun 1192, setelah mengalahkan kerajaan Hindu terakhir di Delhi.Sultan Qutubuddin adalah raja berdarah Turki dari Asia Tengah yang memerintah wilayah India barat laut dengan Delhi sebagai pusat pemerintahanya. Dia menjadi raja hanya selama empat tahun saja (1206 sampai 1210).

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/bobybahar/qutb-minar-bukti-sejarah-kemegahan-arsitektur-islam_5513f5298133110f52bc638b
Qutb Minar adalah sebuah menara kemenangan, tower megah, yang juga berfungsi sebagai menara masjid. Bangunanya dipengaruhi oleh ciri khas Afgan yang kemudian digolongkan ke dalam arsitektur Indo-Islam. Sultan Qutubuddin memulai pembangunanya pertama kali tahun 1192, setelah mengalahkan kerajaan Hindu terakhir di Delhi.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/bobybahar/qutb-minar-bukti-sejarah-kemegahan-arsitektur-islam_5513f5298133110f52bc638b
Qutb Minar adalah sebuah menara kemenangan, tower megah, yang juga berfungsi sebagai menara masjid. Bangunanya dipengaruhi oleh ciri khas Afgan yang kemudian digolongkan ke dalam arsitektur Indo-Islam. Sultan Qutubuddin memulai pembangunanya pertama kali tahun 1192, setelah mengalahkan kerajaan Hindu terakhir di Delhi.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/bobybahar/qutb-minar-bukti-sejarah-kemegahan-arsitektur-islam_5513f5298133110f52bc638b

Tidak hanya senang menonton film Bollywood, saya juga senang mendengarkan lagu-lagu India. Playlist di komputer kantor, laptop, handphone, atau bahkan jadi nada dering panggilan handphone pun adalah lagu India. Musiknya mendekati melayu dan tidak jauh beda dengan irama dangdut yang juga sering didengarkan oleh saya. Kebayakan lagu-lagu khas India ini berasal dari beberapa soundtrack film. Ya notabene film Bollywood terkenal dengan menari dan lagu-lagu di setiap filmnya bisa sampai 10 lagu. Nah lagu-lagu yang hits 2016 diantaranya adalah: Arijit Singh-Tum Hi Ho, Arijit Singh-Tere Bina Mein, Arijit Singh-Agar Tum Saath Ho, Armaan Malik-Sab Tera, Janam Janam – Dilwale, dan lain-lain. (silakan cek you tube) Saya menyukai lagu-lagu tersebut selain karena nada dan iramanya juga tertarik sama liriknya yang menusuk hati. 

Jadi kalau udah nonton India pasti bawaannya Baper (dibaca: bawa perasaan). Mungkin kasus ini akan lebih banyak dirasakan oleh para wanita single happy. hahaha.. Saya bisa luangin waktu seharian cuma buat nonton beberapa film India. Film bollywood ini sensasinya ada tengah dan menjelang akhir, begitu ditinggal rasanya tak ingin dilewatkan dan penasaran. Film-film bollywood ini tidak hanya menceritakan soal drama, romance, atau action saja tapi selalu ada makna disetiap ending ceritanya. Kalau yang lain lagi demam korea, saya demam bollywood.. Dan saat ini saya sudah menonton puluhan film bollywood dan saya akan tetap menyukainya sampai kapanpun..  hehehe *peace*

*namaste* धन्यवाद  


Kamis, 04 Agustus 2016

Tak Selamanya Sosmed itu Baik

Berawal dari percakapan saya dengan teman-teman di kantor mengenai fenomena endorse. Menceritakan tentang seseorang yang mengalami perubahan drastis dan mendapatkan keuntungan hanya dengan berfoto saja dengan memajangkan suatu produk lalu menghasilkan segepok uang. Siapa yang tidak tertarik yah. Ini fenomena kecanggihan teknologi juga. 
Endorsement (alternatively spelt "indorsement") may refer to: a testimonial, a written or spoken statement endorsing, promoting or advertising a product
Tapi yang lebih menarik saya bahas bukan endorse-nya tapi soal orang-orang yang mempergunakan kecanggihan teknologi dan media sosialnya. Singkat cerita dari obrolan siang itu saat makan siang. Saya penasaran untuk membuka satu nama yang ceritanya menarik untuk saya cari tahu. Sebut saja si mawar, perempuan yang hidup di kota yang jauh dari keramaian teknologi dan pergaulan masa muda yang ekstrem. Dulu sepertinya hidupnya tenang dan teratur serta pintar. Jauh dari fenomena kecanggihan teknologi. Untuk mengasah kemampuannya dalam sekolah akhirnya memutuskan untuk mengabdi di kota dengan sejuta perasaan, Jakarta. Perubahanpun banyak terjadi. Hijrah banyak orang menyebutkannya kini, namun ini menjadi konotasi terbalik. Hidupnya seakaan menjadi miliknya sendiri tak memikirkan orang lain bahkan mungkin orang tuanya. Kini seperti itulah hidupnya. Rambutnya yang dulu tertutup kain kini sudah terbuka. Bajunya yang santun menjadi baju yang semua orang dapat memandang tubuhnya. Kulitnya yang mulus kini berhiaskan lukisan-lukisan tubuh. Ucapannya yang santun menjadi seperti tak ada rem.

Bagi remaja yang ingin mengabdi di kota besar yang penuh dengan serba-serbi kehidupan bebas adalah suatu tantangan dan juga kekhawatiran bagi sebagian orangtua. Seperti pengalaman saya, yang sejak SMA memutuskan untuk migrasi ke kota Bandung tanpa orangtua. Tantangan bagi saya untuk tidak mengikuti gaya hidup "bebas" yang kebanyakan remaja, belajar untuk bisa melaksanakan kepercayaan orangtua, memilih teman dan menjaga kehormatan sendiri. Apalagi hidup tanpa awasan orangtua. Seketika berada dipergaulan yang akan salah langkah, setidaknya belajar sadar untuk menyadarinya. Mungkin saat itu kehidupan teknologi tak seekstrem saat ini. Tak ada media sosial setumpuk ini. Dulu hanya ada chatting di sebuah aplikasi Chat Room dengan ratusan pengguna dengan nama-nama alay, sebuah sosial media pertemuan teman pertama dengan fitur yang seadanya, dan hanya ada warung internet untuk bisa mengakses semua itu. Handphone mu terlalu "lemot" untuk kamu membukanya atau tidak bisa. Beruntungnya aku saat itu bisa hidup diantara "gaya hidup" yang menuntut untuk bebas semau gue. Kenakalan remaja saat itu masih dapat dicegah dan diluruskan. Tapi kini?

Teknologi membawa Mawar menjadi pribadi yang ekstrem. Semua orang bisa melihat apa yang disebarkan melalui semua media sosialnya. Gaya hidup dan pergaulannya menjadi tontonan anak-anak remaja. Bahkan menjadi "idola" bagi mereka. Mengunggah kegiatan sehar-harinya di media sosial yang ditonton jutaan bahkan ribuan pasang mata.  Apakah tak ada lagi tokoh idola yang bisa membawa perubahan lebih baik? Dia menuliskan dan memposting bagaimana hidup yang sesungguhnya. Bebas. Gaya pacarannya yang tak lazim, bebas layaknya budaya barat, cara pakaiannya yang tak sepatutnya, dan tulisan-tulisannya yang kasar mengintimidasi suatu golongan. Kepintarannya menjadikan ia kemudian salah langkah yang merubah segala kehidupannya. Lebih menikmati hidup seperti ini ketimbang mengasah kepintarannya dan melepasnya cita-citanya demi kebebasan semata. Miris sungguh miris. Mungkin telinga sudah bebal atas nasehat yang diberikan keluarganya, sudah tak perduli. Bahkan dia sudah tak perduli hujatan yang didapatkan. Saya yakin bahwa ada dorongan kuat yang menjadikan dia seperti ini. Ataukah sebuah obsesi? entahlah. Lebih miris lagi adalah ketika dia sudah diundang diberbagai radio, menceritakan penghasilan endorsenya yang berjuta-juta dan life style nya yang "bebas". Apakah patut didengarkan dan kemudian diikuti? hmhm.... Akankah kemudian akan menjadi "artis" dadakan, mengisi beberapa talkshow, membintangi sinetron yang kemudian dinonton anak-anak? Ketika sebuah komunitas akan memanfaatkan kesempatan ini untuk mengambil keuntungan dengan tidak memperlihatkan kualitas yang baik. Aduhh entahlah akan seperti apa generasi ini. Ketika saya mengetahui soalnya ini saya tak hentinya menggelengkan kepala, beristigfar, dan menghela nafas. Apakah generasi muda saat ini sudah kehabisan ide? atau lagi-lagi teknologi yang lebih senang mengekspos kegiatan seperti ini daripada segudang prestasi anak-anak muda yang sehari saja beritanya sudah tenggelam?

Ini adalah salah satu contoh dampak buruk teknologi atau sosial media, terutama bagi kalangan anak-anak remaja yang masih "labil". Saya tak menyalahkan teknologi karena ini adalah perjalanan dunia yang semakin lama akan semakin pintar. Tapi apakah seburuk ini dampaknya ketika mata, telinga, dan hati tak lagi bisa sejalan baik? Siapa yang dapat disalahkan? Hmhm.. Mulailah dari diri sendiri, menyaring sendiri, saling memberitahu dan mengingatkan terutama bagi orangtua muda yang memiliki anak. Selektif menggunakan teknologi. Memberikan pengetahuan tentang teknologi apa yang boleh dan apa yang tidak boleh. Kini apapun bisa diakses melalui media apapun, ketika mereka tak diberi tahu ia akan mencari tahu sendiri tanpa penjelasan yang sesungguhnya. Maka sebelum mencari tahu, maka harus diberi tahu. Saya yakin bahwa semua ada positif dan negatifnya. Maka pergunakanlah teknologi atau sosial media ini dengan baik, misalnya sebagai tempat silaturahim bersama teman, sahabat, dan keluarga, wadah mengekspresikan tulisan dan pendapatnya, dan sebagainya. Maka ketika "kepintaran" kita dipergunakan dengan baik, saya yakin dunia akan lebih indah dengan teknologi. Teknologi tidaklah bisa memfilternya, tapi kita sendirilah yang bisa memfilternya :)


umairqureshi.com

  

Jumat, 22 Juli 2016

Perempuan dan Kapan Kawin?

Tahun lalu saya pernah menulis tentang topik "Bicara Soal Jodoh". Kali ini saya mengambil topik yang akan menjadi hal yang sedikit 'sensitif'. Semoga tahun depan saya sudah bisa menulis tentang 'menikah'. :D haha Aamiin.. Lebaran adalah hal yang paling deg-deg an untuk menerima berbagai macam pertanyaan yang akan membuat hati kebul. Lebaran memang sudah lewat tapi lebaran berlalupun pertanyaan itu akan tetap ada. Pertanyaan apakah itu? "Kapan Kawin? atau Kapan Menikah"? 

Kapan Menikah? Itu akan menjadi pertanyaan terindah bagi para perempuan atau lelaki single yang sudah menginjak usia "matang" dikalangannya. Mungkin bagi sebagian laki-laki yang masih menginjak kepala 2 akan menanggapinya dengan santai. Masih 28 kok. Nanti aja usia 30 baru nikah. Pacar saya saja belum minta dinikahin. Namun bagi sebagian laki-laki lain mengatakan kalau usia 30 sudah terlalu matang untuk menikah. Saya tidak akan membahas ini pada pihak laki-laki. Mungkin yang lebih 'sensitif' membahas soal ini adalah kepada para perempuan diusianya. 

"Neng, kapan atuh nikah?" "Kapan Kawin tho, ndok"? 

Pertanyaan itu akan menjadi sasaran empuk bagi para perempuan yang belum menikah. Sebut saja usianya berkisar 25 tahun ke atas. Ketika pertanyaan itu diungkapkan reaksinya akan bermacam-macam. Ada yang menanggapinya dengan senyuman, bergegas pergi, mengalihkan perbicangan alias ngeles, ada yang tersipu malu, dan ada juga yang bersikap kurang bersahabat. Mulai dari pernyataan "doakan saja dapat yang terbaik", "Iya nanti yah", kalau engga sabtu ya minggu", "tahun depan", "jodohnya masih dirahasiakan", "semoga yang ini jodohnya", "cariin jodohnya dong..", "Aamiin", "engga tahu nih," atau banyak lainnya. Pertanyaan ini terkesannya sungguh sederhana, tapi berefek luar biasa. Ketika pertanyaan itu terus menghampiri di setiap kesempatan, tak sedikit mereka akan masuk ke kamar diam sejenak, lalu meneteskan air mata. so deep kan. Termasuk saya engga ya? hehe

Siapa sih yang tidak ingin menikah sesegera mungkin. Apalagi melihat para teman, sahabat, dan para sepupunya sudah menikah dan memiliki anak diusia mereka sekarang. Saat dulu mereka gemar menuliskan buku diary atau menuliskan target setiap tahunnya, pasti ada tertuliskan kata "menikah", dan tak sedikit juga target tersebut diulang-ulang setiap tahunnya. Kebanyakan orang tua, apalagi Ibu begitu khawatir apabila anak perempuan diusianya tersebut tak kunjung memiliki pasangan dan menikah. Takut 'kebablasan' katanya, tapi saya yakin setiap perempuan hal itu menjadi prioritas penting untuk mereka pikirkan. 

Banyak faktor sebenarnya yang membuat para perempuan enggan membahas soal tersebut. Ada yang sudah lama berpacaran kemudian mereka tidak ditakdirkan bersama ketika usia mereka sudah masuk kategori matang. Ada yang sudah lama berpacaran kemudian lelaki tersebut belum memberikan kepastian sehingga perempuan masih menunggu. Ada yang sedang mencoba menyembuhkan rasa patah hati karena ditinggalkan, putus, dsb ditengah usia yang sudah matang. Ada yang lebih selektif memilih calon pasangan hidup karena traumatik dalam kehidupannya. Ada yang mengatakan saya belum cukup 'siap' menjadi calon istri dan ibu kelak, namun bukan berarti ia tak ingin menikah. Ada yang sedang berjuang mencari pasangan hidup ketika masa lalu terus menghampirinya. Ada yang sedang berusaha memberikan pasangan hidup sesuai dengan yang diinginkan orang tuanya. Ada juga yang sudah 'mahir' dalam menghadapi situasi seperti ini.

Semua itu terjadi karena ada hal-hal yang menurut saya orang lain tidak tahu. Tidak semua perempuan terbuka soal ini. Para perempuan itu sedang berusaha untuk mewujudkan dan menjawab semua pertanyaan "kapan kawin". Banyak usaha yang mungkin sedang dia lakukan dengan jatuh bangun. Para perempuan yang notabene sudah sarjana, punya pekerjaan, punya usaha, usianya matang, apalagi yang akan ditanya, kalau bukan kapan nikah? heuheuehe soalnya sudah tak ada lagi pertanyaan yang bisa ditanyakan. Dibalik pertanyaan itu kadang hatinya begitu sensitif. Bagi para perempuan kebanyakan, ini menjadi begitu sensitif karena 'masa' mereka yang tak panjang, jikalau tidak menikah diusia yang masih muda. Banyak pertimbangan yang mereka pikirkan. Ada juga para perempuan yang menikmati hidupnya dengan selow namun siapa yang tahu dalam hatinya bergejolak untuk segera menikah. Nah, kalau diajak berbincang dengan para sahabat, mereka akan lebih memaknai pertanyaan "kapan kawin" dalam sebuah candaan dan motivasi. Termasuk saya ;) 

Saya menyukai petikan ini:
"jika berjodohtuhan sendiri yang akan memberikan jalan baiknya. termasuk "kebetulan-kebetulan" yang menakjubkan."  -Tere Liye

Bagi sebagian perempuan ketika dirasa semua sudah bagian dari garis hidupnya untuk ditakdirkan dengan laki-laki yang dulu tak pernah disangka, dia akan menerimanya dengan tulus bahkan akan sangat mencintainya. Saya percaya sekali bahwa Tuhan tidak pernah menolak doa-doa yang setiap kali diminta sama Hambanya. Tenang bu, semua pasti bahagia. Ibu teruslah berdoa dan bersabar. Jodoh itu soal tulang rusuk, kalau tidak cocok ya tidak akan pernah bersama bila dipaksa sekalipun. Ia takkan pernah tertukar karena sudah dipasang-pasangkan. Jikalau belum ada bukan berarti berhenti. Jikalau kami bukan dengan pasangan sekarang, mungkin yang lain itu paling baik yang diberikan Tuhan. Menikah bukanlah sebuah perlombaan, tapi bagaimana memaknai kebahagian itu saat bersama. Sekarang sih lebih kepada intropeksi diri. Harus lebih banyak ikhtiar, sabar, menyempurnakan ibadah, dan ini cuma masalah waktu saja toh? ;) Doakan saja. 

Jodoh sesaat lagi tiba ketika diri merendah. Ketika hati berpasrah. Hingga waktu yang telah ditulis di lauhul mahfudz itu membumi... -Setia Furqon Kholid
from google