Jumat, 24 Februari 2017

CerPen: Air Mata Ayah

Pagi ini aku bahagia sekali. Sudah 27 tahun aku menikah dengan istriku, Dena. Tidak terasa waktu semakin lama semakin cepat. Kali ini semua terasa sangat istimewa. Tepat di hari ini, anakku satu-satunya Rahma dilamar kekasihnya. Kekasih yang selama 6 tahun ini bersamanya. Lelaki yang dikenalnya saat duduk di bangku kuliah. Selama ini aku mengenal Fajar sebagai laki-laki yang baik, yang bisa membuat Rahma bahagia dan melindunginya saat aku tak berada di sampingnya. Aku berharap selamanya. Mungkin bagiku ini adalah hal yang paling berat. Melepaskan anak perempuan yang selama ini tumbuh bersama aku dan istriku. Aku tahu bagi seorang ayah ini takkan pernah mudah, takkan ada lagi senyum Rahma yang ku lihat setiap kali aku akan berangkat kerja. Rasanya ini terdengar seperti berlebihan, karena Rahma pasti akan selalu datang ke rumah ini, tapi tak setiap hari. Fajar saat ini bekerja di luar kota dan Rahma akan mengikutinya. Aku kadang berpikir apakah aku berlebihan? Sebagai seorang ayah harusnya aku bahagia, bukan sedih karena anaknya akan dipinang laki-laki pilihannya.

Rahma adalah seorang gadis manis yang tumbuh dari seorang akuntan di perusahan swasta. Aku bersyukur dengan kehidupan yang serba berkecukupan aku bisa menyekolahkannya sampai kini dia menjadi seorang arsitek lulusan terbaik di kampusnya. Dia tidak pernah mengeluh, tidak pernah meminta banyak, dia hanya memintaku untuk tetap tenang dan selalu sehat. Itu mengapa aku begitu menyayanginya. Sudah 25 tahun gadis kecilku kini. Gadis yang selalu tersenyum disaat keadaan apapun.

“Rahma, ayah bahagia memilikimu.” “Rahma juga ayah. Memiliki ayah hebat  ayah itu rahasia rahma selalu bahagia, yah”.

Ini adalah anugerah Tuhan yang tak pernah aku lupakan, memiliki Rahma. Sejak dulu aku berjuang untuk selalu bisa membuatnya bahagia. Yang selalu aku ingat sampai sekarang setelah umur dua tahun dia memintaku untuk merayakan ulang tahunnya setiap tahun. Dia tidak memintaku untuk merayakan bersama orang-orang atau teman-temannya. Dia menyiapkan sendiri kue dan lilinnya dan meminta kami untuk duduk bersama meniupkan lilin. Betapa aku mencintainya Tuhan. Itu masih kami lakukan sampai ulang tahun ke-25.

     “Yah, kita tidak perlu mengajak siapapun dihari ulang tahun Rahma yang ke-17.
     Aku hanya ingin kita duduk bertiga saja, berdoa bersama dan meniupkannya
     bersama. Bahagia itu sederhana kok yah, bun. Memilikimu adalah harta terbesar
     Rahma.”

Dan yang selalu aku ingat ketika dia dan ibunya bercanda lalu ibunya sedikit ngambek, dia datang tidur dipangkuanku.

     “Yah, bunda marah tuh gara-gara aku bercanda dan ledekin bunda. Bantu aku ya
       yah supaya bunda gak ngambek lagi.”

Begitulah setiap saat ketika bercanda dan ibunya lagi sensitif lalu ngambek, akulah menjadi penengah mereka. Rasanya kebersamaan ini yang mungkin lambat laun akan hilang dalam kehidupanku. Seandainya saja Fajar tidak bekerja di luar kota, mungkin kebersamaan ini takkan memudar. Aku selalu takut, takut kehilanganmu.

Ini hari dimana kamu dilamar kekasihmu. Ayah sedih nak. Perasaan ayah bercampur aduk. Hari ini ayah harus memutuskan apakah ayah menerima pinangan kekasihmu.

     “Yah, ayah itu tidak boleh sedih. Rahma akan baik-baik saja. Doakan saja supaya
     aku bisa sekuat ayah dan bunda menjalani rumah tangga ini. Aku hanya minta
     restu dan doa dari ayah dan bunda”.

Mungkin kata-kata yang selalu membuatku tegar untuk dapat menjalankan semua acaranya sampai akhir. Satu demi satu acara berlalu. Akhirnya ku menerima pinangan Fajar. Rahma menunduk dan meneteskan air mata kemudian menyandarkan kepalanya di bahuku dan mengenggam tanganku erat.

     “Terima kasih banyak yah....”

Keadaan ini yang tidak mau aku bayangkan. Aku hanya membiarkan waktu yang akan menunjukkan dan melewatinya. Kami memutuskan untuk mengambil tanggal pernikahan yang akan dilangsungkan dua bulan setelah lamaran ini. Rahma dan Fajar sudah mempersiapkan dengan baik setiap detail pernikahannya. Aku hanya menunggu apa yang dibutuhkan Rahma. Katanya aku tidak usah memikirkan semuanya. Biarkan saja dia yang mempersiapkannya, aku hanya memberikan beberapa saran-saran.  Aku merasa dia merasa begitu bahagia.

Setiap hari Dena istriku menangis. Setiap aku tanya,dia hanya menjawab.

“Aku hanya sedih, waktu begitu cepat berlalu... Tanpa terasa Rahma tumbuh
menjadi perempuan, gadis yang begitu mempesona.” Dia memelukku erat.
“Aku tahu ini titipan yang paling sempurna yang telah Tuhan beri, termasuk memiliki kamu, yah. Aku takkan pernah tahu apa jadinya aku tanpa kamu. Kamu memberikan semua kebebasan itu, ikhlas menerima semuanya dan tetap untuk bersamaku hingga Rahma akan menikah.”
“Kita memang hidup serba berkecukupan tapi memiliki Rahma saat itu membuat hidup kita lebih dari cukup.”

Dena, terus menerus meneteskan air mata. Dia terus menyandarkan kepalanya padaku. Ini mengapa aku begitu takut kehilangan.

     “Percaya padaku, Den. Semua akan berakhir indah.”

Tuktuk...
     “Ini aku Rahma yah bun..”
Rahma memeluk kami erat sekali. Sesekali dia menatap kami. Menghapus air mata yang jatuh di pipi kami dengan tangannya.
     “Sampai kapanpun, Rahma akan tetap mencintai kalian. Apapun keadaannya
     Rahma akan tetap ada di sini. Percaya padaku, walau nanti aku jauh tapi kalian
     akan tetap di hatiku. Karena aku selalu berdoa agar selalu dekat dengan kalian.”

***
Dua bulan terasa begitu cepat. Besok hari pernikahan anakku. Dia tampak tetap tenang. Semua persiapannya sudah matang. Aku hanya mempersiapkan mental dan hatiku untuk hari bahagia Rahma.
     “Yah, doakan aku besok ya.. Aku gak ingin lihat ayah dan ibu sedih. Besok kita
     harus bahagia ya.. Maafkan aku kalau selama 25 tahun ini selalu menyusahkan
     ayah, membuat ayah harus mengakurkan aku dan bunda kalau lagi berantem.” Dia tersenyum manis sekali.
     “Iya anakku.... Kayaknya ayah jarang-jarang nih liat kalian berantem” sambil
     kupegang kepalanya.
     “Ah... ayah”
     “Bunda... Maafkan aku kalau selama ini kita selalu sering berantem, buat bunda
     ngambek karena sering ledek-ledekan dengan Bunda, terus bunda kalah ngambek
     deh”
     “Rahma... Bunda hanya menitipkan ini” ku letakkan tanggannya tepat di dadanya
     “Bunda nitip, supaya kamu selalu jaga hatimu dimana pun kamu berada. Tetaplah
     istiqamah. Jadilah perempuan yang hebat untuk suami dan istrimu. Selalu
     perbaiki diri dalam hal apapun..”
     “Iya bunda... aku selalu ingat semua pesan-pesan bunda. Selalu tersimpan disini,
     hati dan pikiranku.. Aku ingin sepertimu, Bunda. Wanita hebat dan tegar.”

Airmata keduanya tiba-tiba jatuh. Rahma memegang tangan Dena dan memeluknya erat. Tuhan, rasanya kebahagian ini rasanya terlalu cepat berlalu. Aku berharap ini tetap ada di keluargaku.

***
     “Doakan aku Ayah!”

Itu kata-kata yang pagi ini aku dengar. Dia terlihat sangat cantik mengenakan kebaya berwarna abu-abu. Tuhan berilah aku kekuatan, sekuat perjalanan hidup ini. Fajar tampak gagah bersiap untuk menyunting putri kesayanganku. Fajar terlihat begitu gugup dan cemas.  Prosesi akad nikah tinggal sejam lagi. Aku belum lagi melihat putriku. Aku duduk diantara barisan keluarga. Perasaan deg-degan muncul dari tadi subuh hingga saat ini.

Fajar kini duduk di antara penghulu, wali dan juga para saksi. Hatiku semakin tak menentu. Ya Tuhan aku harus kuat.

     “Ingat ya yah, ayah jangan tegang dan tetap kuat. Aku mencintaimu.”

Rahma, rasanya ayah begitu tak kuasa. Diapun keluar dari kamarnya duduk bersanding tepat disebelah Fajar. Prosesi akan segera dimulai.

Aku duduk di depan Fajar. Menatap keduanya begitu bahagia. Akupun berurai air mata. Istrikupun demikian.  Fajar menjabatkan tangannya. Wali hakimpun menerima jabatan tangannya. 

     “Tuhan, aku tahu ini tak mudah untukku, tapi ijinkan aku untuk tetap tersenyum
     dihadapan mereka. Memberikan doa yang tulus. Merawat, membesarkan,
     menjaga dan menyekolahkannya sudah aku lakukan hingga mengantarkannya ke
     hari pernikahnnya. Semua ini hanya titipanmu yang harus aku jaga.”
     “Bagi orang lain ini terlihat aneh. Mengapa bukan aku yang berjabat tangan
     dengan Fajar. Iya, aku bukanlah ayah kandung Rahma. Kami hanya dititipkan
     Tuhan untuk menjaganya dari bayi hingga dewasa. Istriku, Dean tidak bisa
     memberikan aku  keturunan. Tapi aku tak pernah menyesali karena aku telah
     memilihnya untuk mendampingi sepanjang hidupku. Aku bahagia memiliki istri
     seperti dirinya. Kuat, tegar dan ikhlas. Bagiku dia istri yang luar biasa.“
     “Mungkin hari ini adalah hari terberat yang harus dia rasakan, melepas putri
     kesayangannya. Sekali lagi aku bahagia karena memiliki Dean dan Rahma.”

Fajar mengucapkan dengan sangat fasih. Aku melihat Rahma menatapku lama sekali. Mengisyaratkan bahwa, dia akan baik-baik saja. Setelah selesai, Rahma beurai air mata sesekali dia menatapku dan memberikan senyuman.

“Ayah,,, terima kasih banyak.  Aku pernah berharap ayahlah yang bisa menjabat tangan Fajar. Melepaskanku dan memberikanku pada Fajar, tapi aku tahu Tuhan selalu memberikan kebahagian yang tak pernah diduga oleh kita. Ayah dan Bunda tahu tidak apa itu? Memiliki kalian itu hal yang paling indah yang tak pernah terpikirkan olehku. Aku tahu dan aku menerimanya dengan penuh kebahagiaan. Terima kasih atas semua pelajaran hidupnya. Aku ingin sepertimu, Bunda. Sekuat batu karang menghadapi kerasnya kehidupan. Aku ingin sepertimu, Ayah. Setulus engkau mencintai bidadari-bidadari hidupmu.”

Itu mengapa aku selalu bersyukur walau aku selalu berharap aku bisa menikahkan anakku sendiri. Tuhan punya rencana yang jauh lebih indah dari hari ini.  J
Aku menitipkannya padamu, Fajar. Jaga dia seperti aku menjaganya. Menjaga hati dan senyumnya... 

gambar dari: https://gedubar.com/wp-content/uploads/2016/12/kaper-ayah.jpg

Jumat, 17 Februari 2017

DANGAL | Sisi Gulat dalam Sebuah Keluarga

Mungkin bagi sebagian orang yang dulu sering menonton film bollywood kenal dengan nama besar Aamir Khan. Film yang hits di tahun 2000-an, 3 Idiots dan tahun 2014 dengan judul PK. Boleh dibilang film-film Aamir Khan banyak menitipkan pesan di dalam filmnya termasuk dua diantaranya. Dua tahun selesai memerankan tokoh PK di film PK, Aamir kini tertarik untuk memproduseri dan bermain sebagai peran utama di film terbarunya DANGAL, akhir tahun 2016. Saat film ini rilis, film ini diprediksi mampu meraih sukses dan mencapai box office yang juga arahan dari sutradara ternama, Nitesh Tiwari.

Film Dangal ini merupakan film drama keluarga yang mempunyai kemasan yang pas dan menarik. Ada cinta, kasih sayang, sedih, bahagia, kerja keras, perjuangan, dan juga kesan lucu di dalamnya. Film ini ternyata bisa menarik hati para penontonnya, terutama di Indonesia yang tayang dalam waktu singkat.

Film Dangal ini adalah film biografi yang diangkat dari kisah nyata Mahavir Singh Phogat, mantan pegulat yang pernah menjadi juara nasional. Kegagalannya melanjutkan karir ke tingkat internasional, membuat dia banyak berharap suatu saat anak laki-lakinya mampu meneruskan mimpinya. Dia memiliki empat orang anak, namun tak satupun laki-laki. Akhirnya dia pun menyerah. Tuhan berkehendak lain, memupuskan harapannya. Suatu ketika dia dihadapkan dengan tindakan kedua anak perempuannya yang berkelahi dengan laki-laki. Awalnya sempat merasa putus asa, akhirnya Mahavir memutuskan untuk melatih kedua anak perempuannya, Geeta dan Babita sebagai pegulat. Dangal sendiri berarti "kompetisi gulat".

Aamir memainkan tokoh Mahavir dengan sangat baik. Totalitasnya pun tidak diragukan, buktinya dia berhasil memenangkan pemain pria utama terbaik di Filmfare Award 2016 dengan mengalahkan pemain-pemain muda lainnya. :) Film ini berdurasi cukup panjang sekitar 160 menit, tapi tidaklah membosankan. Dimulai dari cara istri dan ke-4 anaknya menghormati Mahavir yang cukup tegas dan cara Mahavir mendidik anak-anaknya dengan tegas dan penuh kasih sayang. Aamir berhasil memperlihatkan sosok sang Ayah yang berkharisma. Di film ini tampak bagaimana Mahavir memberikan arahan-arahan bermain gulat kepada kedua anak perempuannya. Bahwa ternyata bermain gulat adalah olahraga yang alot, perlu kerja keras, dan stamina yang baik. Film ini juga ikut menggambarkan bagaimana pandangan masyarakat setempat terhadap perempuan yang bermain dan mengikuti kompetisi gulat.

Di sini juga menggambarkan peran orangtua terutama Ayah yang memaksakan keinginan anaknya untuk meraih masa depannya melalui usaha Ayahnya. Dirasa memiliki bakat, Ayahnya meyakinkan mereka bahwa semua ini adalah terbaik untuk mereka. Satu hal, kadang keinginan orangtua dan anak suka bertolak belakang. Ingin sekali menentang tapi tidak bisa, ini dikaitkan juga dengan adat dan budaya. Merasa sangat menghormati Ayahnya sehingga mereka rela mengikuti keinginannya untuk bergulat walau dengan penuh penghinaan apalagi di usia mereka yang masih muda.

Hasil kerja kerasa Mahavir dengan teknik-teknik gulat yang dia miliki membawa kedua anaknya berhasil menaklukkan arena pasir bergulat. Lalu, dia tidak pantang menyerah dengan mimpinya untuk membawa anaknya dalam kompetisi nasional dan internasional. Meskipun dunia mempertanyakan tentang usahanya membuat kedua anak perempuannya menjadi pegulat.

Film ini banyak menitipkan pesan. Bagaimana menjadi keluarga dan bersikap profesional ketika menjadi pelatih gulat. Kontroversipun banyak muncul di sana. Kesedihan dan bahagia muncul saat Geeta berhasil membuat ayahnya bangga memenangkan kompetisi nasional. Perubahan arena pasir menjadi arena matras. Semua trip dan trik ia keluarkan untuk Geeta. Bagi Geeta, Mahavir bukan sekedar pelatih tapi juga sekaligus Ayah yang melatihnya dengan penuh kasih sayang. Saat Geeta melanjutkan prestasinya di asrama atlet, ia dihadapkan dengan pelatih yang bertolak belakang dengan Ayahnya. Materi yang pernah diberikan Ayahnya dianggap kuno oleh sang pelatih. Pelatih memberikan materi gulat baru saat masa pelatihan. Terkadang ini yang membuat Geeta menjadi dilema. Haruskan mengikuti pelatih atau Mahavir. Di satu waktu Geeta memiliki keinginan untuk mendapatkan kebebasan dalam segala hal, karena selama ini dia berada dalam otoritas Mahavir. Terutama dalam memilih masa depannya sendiri. Ini juga yang membuat Geeta dan Mahavir kemudian berselisih. 

Bheege naina, jo saanjhe khwaab dekhte the. Naina, bichhad ke aaj ro diye hain yoon. -Arijit Singh-Naina
Mata yang basah yang biasa untuk berbagi mimpi-mimpi. kini mata itu menangis dalam perpisahan

Lalu, akankan Geeta dan Babita dapat melanjutkan mimpi sang Ayah ke tingkat Internasional?

Film Dangal berhasil memberikan sentuhan-sentuhan keluarga di dalamnya. Ada pesan bahwa tak selamanya orangtua akan ada terus untuk bersama kita. Itulah mengapa banyak pesan yang diberikan mereka pada kita. Mereka mengajarkan bagaimana cara kita ketika dihadapkan pada suatu permasalahan. Tanpa sadar terkadang kita juga melupakan kehadiran orangtua saat kita merasa memiliki segalanya. Padahal, untuk membuat kita memiliki segalanya juga karena orangtua. Pesan gulat dalam keluarga adalah setiap usaha dan kerja keras itu akan mendapatkan hasil yang sesuai apalagi dilengkapi dengan cinta dan kasih sayang orangtua yang tulus. Pesan ini juga membuat Dangal menjadi film terbaik di India tahun 2016. Pemeran Geeta dan Babitapun berhasil diperankan dengan baik.  Aamir Khan dan tim berhasil menaklukkannya. :)

Namaskar... ;)

gambar: https://i.jeded.com/i/dangal.58073.jpg

DANGAL | 2016 | Sutradara: Nitesh Tiwari | Penulis Naskah: Nitesh Tiwari, Piyush Gupta, Shreyas Jain, Nikhil Meharotra | Pemain: Aamir Khan, Sakshi Tanwar, Fatima Sana Shaikh, Sanya Malhotra, Zaira Wasim, Suhani Bhatnagar, Aparshakti Khurrana |

Kamis, 09 Februari 2017

Belajar Pada Keadaan

Bicara soal kata memaafkan, itu adalah sebuah rangkaian huruf yang simpel tapi memiliki arti yang mendalam. Bagi sebagian orang yang memiliki masa lalu dalam kenyataan pahit, kejadian, atau hal-hal yang memerlukan kata maaf dan memaafkan adalah hal yang sangat sensitif. Mudah mengucapkan namun terkadang hati bertolak belakang. Mungkin, lebih menghargai perasaan orang lain sih ketimbang perasaan diri sendiri. 

Saya bersyukur karena terlahir menjadi anak perempuan pertama dan memiliki dua orang adik laki-laki. Terlahir untuk bisa menjadi panutan adik-adik saya. Bagaiman cara bersikap dan menyikapi. Karena saya yang menjadi tolak ukur mereka. Mereka akan mengatakan hal yang sama "Ahh kakak juga sama gitu", atau "tuh kan nggak mau maafin" atau sebagainya.  Kalau cerminan mereka adalah saya. Itu mengapa dua kata tersebut menjadi hal yang penting dalam pribadi saya. Ketika mereka berbuat salah, saya harus bisa memaafkan mereka, mereka menyinggung hati saya, atau ketika saya salah, ketika saya berbuat salah pada orangtua, saya harus bisa meminta maaf. Itu akan menjadi contoh juga kan untuk mereka. Toh, secara tidak langsung itu menjadi hal yang terbiasa. Tapi tetap harus menyadari kesalahannya dan harus ikhlas memaafkan. Walau sebenarnya ikhlas itu tak perlu diucapkan secara lisan.

Syukurnya, saya adalah yang mudah memaafkan orang lain, itu karena saya lebih senang berteman dengan sukarela daripada memperbanyak musuh. Sekalipun mereka menyakiti saya, saya selalu mencoba memaafkan. Itu mungkin termasuk kebiasaan saya yang selalu saya lakukan secara tidak sengaja untuk saling mengajarkan dan memahami. :) Saya belajar banyak soal memaafkan pada masa lalu saya.  

Suatu hari saya dihadapkan dengan sebuah situasi yang saya rasa sulit untuk memaafkan. Bicara soal masa lalu dengan seseorang mungkin bagi sebagian orang adalah hal buruk tapi tidak dengan saya. Saya belajar dari masa lalu agar bisa tegap berdiri menyongsong masa depan. Keadaan tersebut hadir ketika setiap manusia ditakdirkan untuk bisa saling menyayangi. Dan.. ketika perasaan itu dihancurkan karena ketidaksadarannya sendiri. Ia menggandakan rasa sayangnya sendiri. Hancurnya mungkin seperti gelas jatuh lalu terinjak. Kecewa, sedih, marah, terluka, sakit hati, dan kesal itu pasti. Semua impian-impianpun ikut pupus seketika. Kemudian ia memilih pergi dan meninggalkan semua dengan jejaknya. Ini, lebih pada soal kepercayaan. Saat kepercayaan hancur saat itu pula hubungan itu berakhir. Ya, mungkin itu lebih tepatnya. Tapi kami tidak ingin mengakhirinya. Saya membiarkan semua tetap berjalan seperti sedia kala. Menerima raganya dalam pikiran yang sempit. Menerima hadirnya dalam tatapan yang kosong. Melihat kebahagiaan baru tapi tidak untuk saya. 

Tak pernah ada niat sedikitpun ingin membenci, maka saya membiarkan keadaan ini tetap seperti ini. Aku tak memaksa diri untuk menghapusnya. Saya tak menghapus semua masa lalu saya dalam sebuah tempat bernama "RECYCLE BIN". Saya tetap simpan dalam FOLDER di sebuah Drive. Karena saya yakin sewaktu-waktu komputer saya akan rusak, dan sistem sendiri yang menghapusnya. Akan seperti di FORMAT, takkan bersisa sekalipun di RESTORE. Semua akan hilang dengan sendirinya jika kita bisa memaafkan orang lain atau suatu kejadian.

Untuk apa saya melakukan semua ini? Saya berkaca pada diri sendiri. Sanggupkah memaafkan diri sendiri saat keadaan itu terjadi? Toh, yang sulit sebenarnya memaafkan diri sendiri dan tidak menyalahkan orang lain. Sebenarnya cara orang berbeda-beda untuk menyikapi kata "MAAF dan MEMAAFKAN". Itu tergantung kita. Akan terus hanyut dalam rasa bersalah karena takut untuk meminta maaf atau rasa enggan memaafkan orang lain atau bahkan hidup kita sendiri. Karena itu saya belajar, belajar pada kehidupan dari masa lalu. Sesungguhnya ketika kita bisa memaafkan orang atau keadaan dengan ikhlas, maka beban hidup akan semakin berkurang, kita bisa mengobati luka kita sendiri, dan senyum kebahagian di dunia ini akan terus bertambah.. :)

Syukriya! ;-)





#Untuk1Minggu1Cerita

Gambar:http://image-serve.hipwee.com/wp-content/uploads/2014/08/positive-thoughts-hd-wallpaper-4.jpg

Menyusuri Utara dan Selatan Jogjakarta (Part 2)

Melanjutkan cerita liburan saya di Jogjakarta (part1). Hari ke-2 dan ke-3 kami memutuskan untuk menjelajahi Jogjakarta dari Utara hingga Selatan. Tujuan selanjutnya adalah Gunung Merapi. Awalnya kami tidak memutuskan untuk mengunjungi tempat ini, namun karena penginapan kami dekat dengan Merapi, maka kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke sana. Seperti yang sudah diketahui Gunung Merapi memiliki ketinggian puncak 2.930 m dpl, per 2010 gunung aktif yang berada di bagian tengah Pulau Jawa. Lereng sisi selatan berada di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan sisanya berada dalam wilayah Provinsi Jawa Tengah, yaitu Kabupaten Magelang di sisi barat, Kabupaten Boyolali di sisi utara dan timur, serta Kabupaten Klaten di sisi tenggara. 

Untuk menuju lereng kaki Merapi atau kawasan ini, tidak dianjurkan menggunakan kendaraan pribadi karena jalan yang ekstrim, berbatuan dan berpasir, maka kami harus menggunakan mobil sewaan yaitu, jeep. Mobil tersebut memang diperuntukan untuk menyusuri Gunung Merapi. Mengeluarkan kocek sekitar Rp250.000, kami akhirnya bisa mengeksplore gunung ini biar nggak kebawa mimpi hehe hehe. Satu mobil Jeep diisi 3-4 orang saja. Untuk sampai di lokasi tersebut, membutuhkan waktu kurang lebih 45 menit-1 jam. Itu karena ada beberapa tempat wisata lain yang bisa kami singgahi. Seperti museum Gunung Merapi (Memoriku), dulu kata penduduk setempat adalah rumah kepala desa dan penduduk lain. Akibat Erupsi di tahun 2010 mengakibatkan hancurnya rumah-rumah di sana dan hanya meninggalkan beberapa barang. Awalnya diperkirakan hanya awan panas atau disebut wedus gembel namun ternyata lava gunung yang juga menghancurkan hunian di sekitar sana. 


Setelah berkeliling melihat beberapa peninggalan merapi lalu lanjut ke Batu Alien. Batu Alien katanya merupakan salah satu batu besar yang keluar dari mulut gunung merapi ketika erupsi tahun 2010. Disebut batu Alien karena konon katanya menyerupai bentuk wajah manusia. Jika dilihat dari sisi samping batu itu, terlihat jelas bentuk batu nampak seperti kepala manusia yang dilengkapi dengan anggota tubuh pada umumnya yaitu dagu, mata, hidung, mulut, telinga, dan juga kening. Nah, ditempat ini pula kami mendapatkan spot foto yang paling keren apalagi saat cuaca di sana cukup bersahabat, cerah ceria. Ditambah dengan adanya pasir-pasir didataran ini. Membuat efek foto lebih menarik.


Kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju Bunker Kaliadem. Untuk menjangkau daerah ini, kami harus rela  menikmati offroad sepanjang perjalanan karena bebatuan yang cukup banyak dan jalanan yang ekstrim. Dari kejauhan kami sudah melihat betapa indahnya Gunung Merapi sekalipun gunung ini sudah mengalami banyak erupsi. Pada tahun 2005, dibangun bunker di lereng gunung Merapi tepatnya di dusun Kaliadem, Kecamatan Cangkringan, Sleman. Tujuan dibangun adalah sebagai tempat perlindungan atau persembunyian ketika gunung Merapi meletus. Namun, tempat ini tidak mampu menahan lava panas yang dimuntahkan gunung merapi yang mengakibatkan dua orang tewas karena terbakar di dalam bunker tersebut. Namun, bunker ini masih kokoh walaupun terlihat sudah berkarat atau sudah tidak terawat. Nah, ternyata di sana banyak sekali ditumbuhi bunga edelweys. Pemandangan di sana bagus sekali untuk difoto lho dengan latar belakang Gunung Merapi yang melintang indah. 



Setelah setengah hari bermain di gunung, rasanya tak pas rasanya jika tidak mengunjungi makanan khas Yogjakarta, Gudeg Yu Djum. Gudeng Yu Djum ini murupakan gudeg yang terkenal di kota Jogjakarta. Mungkin bagi orang awam atau wisatawan kayak kami akan mencari rekomendasi tempat makan yang paling banyak disinggahi. Gudeg yang kami pilih ada di Jalan Wijilan Yogjakarta. Ternyata di jalan tersebut terdiri dari berbagai warung yang berjualan gudeg juga. Untuk masalah di mana kita akan mencicipi gudegnya, itu kembali ke soal selera. Bagi orang yang tidak penggemar makanan manis, mungkin Gudeg ini akan terasa sangat manis. Perlu menambahkan banyak sambal di gudeg ini. Masalnya saat itu kami hanya disediakan beberapa cabe rawit untuk menjadi teman rasa manis gudeg ini. Dengan cuaca yang sangat panas menjadi hindangan yang pas saat siang hari. Biar adem deh.. hahahaha



Akhirnya kami bisa sampai di daerah Gunung Kidul tepat pada waktunya. Sekitar tiga jam perjalanan dari sisi utara Jogjakarta. Kami ingin melihat sunset di sini. Tujuan pertama kami adalah Pantai Indrayanti. Pantai Indrayanti cukup terkenal oleh sebagian besar orang, karena nama pantai yang "indonesia" banget dan pantainya yang masih indah. Namun karena situasi yang terlalu penuh akibat liburan sekolah, kami memutuskan untuk hijrah ke pantai sebelahnya, Pantai Sandranan. Pantai Sadranan lebih sepi dibandingkan Pantai Indrayanti. Sayangnya, ombak di pantai hari itu sedang tidak bersahabat. Ia terus menggulung dan diiringi oleh angin yang cukup kencang. Alhasil, karena tidak berani untuk bermain lebih jauh, kami duduk manis menggelar tikar di pinggir pantai sambil minum air kelapa muda. Huhuuuhu romantis. ~~~ :)






Singkat cerita, esoknya adalah hari terakhir kami di Jogjakarta. Paginya, kami memutuskan untuk mulai berbelanja kebutuhan pribadi serta oleh-oleh di daerah Malaioboro. Rasanya tak lengkap kalau ke Jogjakarta gak mampir ke sini. Mulai dari Pasar Bringharjo sampai ke Mirota. Seperti biasa hanya satu yang bisa mewakili perasaan kami, "KHILAF" :p. Lalu setelah selesai menikmati belanja, sekitar jam 11 siang, kami diajak untuk mengunjungi satu tempat wisata yang lagi "hits" di sana. Wisata Kalibiru yang letaknya di bukit Kulon Progo, Jogjakarta. Jarak tempuh dari penginapan kami lumayan jauh sekitar 1-1,5 jam perjalanan. Awalnya kami berpikir kira-kira kami bisa pulang sebelum jam 18.00 gak ya? Karena kereta pulang kami sudah menunggu. hehehe Nah, untuk menjangkau tempat ini, kami harus rela bergantian/antri menunggu giliran untuk naik. Jalan yang cukup sempit membuat mobil harus bergantian, belum lagi ditambah dengan turunan terjal saat memasukki kawasan ini. Mungkin sebaiknya menggunakan ojeg saja kalau hanya berdua saja. Untuk Lokasi parkir di daerah sinipun juga sempit, perlu berhati-hati untuk mengendari mobilnya. Namun, semua terbayar oleh pemandangan indah di sana. Spot yang bagus adalah ketika kita duduk di atas pepohonan pinus lalu memandang ke arah kalibiru tersebut. Walau hanya sebentar dan tak sempat mencicipi segala spot foto tapi setidaknya kaki kami pernah melangkah sampai sini.. :) 







Akhirnya kami harus mengakhir perjalanan di hari Senin, karena Selasa harus kembali bekerja. Walau tak semua tempat dieksplore, tapi setidaknya tempat-tempat tersebutlah yang belum kami singgahi. Mungkin bagi saya, kota Jogjakarta salah satu kota yang selalu ingin kembali lagi.. 



Terhanyut aku akan nostalgia. Saat kita sering luangkan waktu. Nikmati bersama. Suasana Jogja.

Terima Kasih Jogjakarta dan Terima Kasih teman-teman.. Syukriya..

Namaskar :D


Rabu, 25 Januari 2017

Painan: Kampuang Nan Jauh di Mato

Saya lahir dan besar dari kota-kota yang berbeda di Indonesia. Saya lahir di Bandung, dibesarkan dibeberapa kota di Indonesia, dan dari garis keturunan Minangkabau yang tak pernah tinggal di sana. Ini karena pekerjaan ayah saya yang selalu berpindah-pindah. Mungkin hal yang membuat saya bingung ketika menulis CV adalah saat menuliskan riwayat sekolah. Mengapa? karena saya masuk di sekolah di mana lalu bisa lulus di sekolah yang berbeda. :D

Lahir di Bandung karena ibu saya melahirkan saya berdekatan dengan hari setelah Idul Fitri padahal kami masih tinggal di Surabaya karena ayah saya bekerja di sana. Ikut lahir di Bandung, karena saat itu ikutan "mudik" yang notabene keluarga ibu saya sudah merantau dari Sumatera Barat ke Bandung sejak puluhan tahun lalu. Setelah beberapa bulan saya harus mengikuti orangtua untuk pulang kembali ke Surabaya. Selama 5 tahun saya menetap di Surabaya dan akhirnya harus kembali ke Bandung selama 1,5 tahun itupun karena ayah saya. Pada saat duduk di Sekolah Dasar kelas 2 saya harus menerima untuk kembali ke Surabaya. Setelah memasukki kelas 4 saya ditakdirkan untuk kembali berpindah ke kota tetangga, yaitu Sidoarjo. Saya menetap di sana selama 5 tahun. Setelah beranjak besar saya kembali harus waspada kemana lagi saya harus pindah. Saya kembali harus berhadapan dengan kabar orangtua yang harus pindah menyebrang Pulau. Saya akhirnya mengharuskan menetap selama 3 tahun di kota kecil di Sumatera Utara, yaitu Pematang Siantar. Kota yang juga dihuni oleh berbagai orang perantauan. 

Lalu, pada akhirnya saya memutuskan untuk merantau ke Bandung agar SMA saya tidak lagi pindah-pindah, karena saat itu ada isu bahwa orangtua saya akan dipindahkan kembali ke beda kota, termasuk Aceh yang saat itu sedang konflik. Ketika saya pindah ke Bandung, keluarga sayapun pindah ke Kota Medan. Kini, sudah 13 tahun saya menetap di kota yang penuh dengan kenangan ini, Bandung. Begitupun orangtua saya sudah menetap di sini.

Saya merasa semua kota yang saya singgahi adalah kampung halaman saya. Di sana saya memiliki banyak teman, sahabat, dan keluarga baru. Dulu, jika masa liburan sekolah/semester tiba, saya memilih pulang mengunjungi orangtua saya di Medan. Begitupun mereka, saat liburan lebaran tiba, mereka pulang ke Bandung atau ke Pekanbaru. Singkat cerita, mengapa Pekanbaru? itu karena ayah saya dibesarkan di sana dan kini keluarga besar ayah saya berdomisili di sana. Itulah mengapa kami disebut perantau sejati. hehehe 


Bicara soal kampung halaman, saya adalah perempuan asli Minangkabau. Ayah dan Ibu saya adalah orang Minang, walau mereka merantau ke kota lain. Saya masih memiliki kampung halaman di sana, tepatnya Batang Kapas (Batang Kapeh), Kabupaten Painan, Pesisir Selatan. Letakknya berada di tepi pantai, itu mengapa disebut pesisir. Jika ingin main ke pantai cukup berjalanan kaki saja sekitar 10-15 menit atau 2-3 KM saja. Bagi sebagian besar banyak yang tak mengetahui kampung saya ini. Kalau di Sumatera Barat yang terkenal kota Padang, Bukit Tinggi, ataupun Padang Panjang. Jangan salah, kini kampung saya menjadi tempat destinasi wisata. Saya ingin kembali ke kampuang, setelah kurang lebih 12 tahun tak mengunjunginya. :) Jika ingin pulang, masih ada om dan tante serta adik nenek saya di sana serta keluarga lainnya. 

Di sana keluarga saya masih memiliki rumah kayu khas padang seperti rumah gadang yang usianya sudah ratusan tahun dan rumah ubin. Rumah kayu yang dihuni oleh nenek saya, saat masih kecil dan yang jadi saksi kunci saat jaman penjajahan Jepang dulu. Rumah itu yang jadi tempat silaturahim para keluarga saat berkunjung.  

Saat gempa terjadi tahun 2009 itu mengakibatkan rumah kami hancur pada bagian belakang. Belum lagi rumah om saya di Padang, juga ikut hancur hanya bersisa ruang tamu saja. Kami tak bisa menghubungi siapapun di sana karena jaringan telekomunikasi terputus selama beberapa hari. Hanya memantau lewat saluran TV. Posisi rumah kami yang sangat dekat dengan pantai, membuat goncangan gempa sangat terasa apalagi berpotensi tsunami. Namun rumah kayu kami tetap kokoh berdiri. :) Pascagempa saya dan keluarga masih belum berkesempatan untuk kembali pulang ke sana menikmati indahnya pantai dan alam sekitar.. 

Mendengar Padang mungkin semua masyarakat Indonesia bahkan luar negeri menyukai masakan khas kota ini. Di mana-manapun bertebaran rumah makan padang. Mulai dari makanan favoritnya rendang, gulai, balado, lontong padang, dendeng batokok, soto atau sate padang. Dalam keseharianpun saya tak bisa lepas dari salero tersebut. Setiap hari akan selalu ada hidangan khas Padang di meja makan. Faktanya, karena kami berasal dari keluarga asli Minangkabau. 

Bicara soal kebudayaan urang Minang, kami memiliki kebudayaan yang beragam. Merantau adalah sebuah keharusan bagi kaum laki-laki Minang. Pepatah Minang yang mengatakan Karatau madang dahulu, babuah babungo alun, marantau bujang dahulu, di rumah paguno balun (lebih baik pergi merantau karena di kampung belum berguna) mengakibatkan pemuda Minang untuk pergi merantau sedari muda. Kini wanita Minangkabau pun sudah lazim merantau. Tidak hanya karena alasan ikut suami, tapi juga karena ingin berdagang, meniti karier dan melanjutkan pendidikan. Minangkabau memiliki suku-suku di antaranya, piliang, chaniago, sikumbang, koto, panai, dan sebagainya. Saya bersuku panai. Itu mengapa saya lebih dikenal dengan nama @dedepanai; dedeph adalah nama panggilan saya, panai adalah suku di mana saya berasal. Dalam budaya Minangkabau ini menganut sistem Matrilineal di mana garis keturunan dirujuk kepada ibu yang dikenal dengan Samande (se-ibu), sedangkan ayah mereka disebut oleh masyarakat dengan nama Sumando (ipar) dan diperlakukan sebagai tamu dalam keluarga. Untuk bahasa sehari-hari urang Minang menggunakan bahasa Minang yang juga memiliki bahasa yang beragam sesuai dengan daerahnya masing-masing. Mulai dari bahasa, cara pengucapan, arti, serta kecepatan dalam melafalkannya. 

Pada kesenian di budaya Minang, ada talempong, salah satu alat musik pukul tradisional Minangkabau. Biasanya talempong sering terdengar saat acara besar, seperti pernikahan adat.  Ada tari-tarian yang biasa ditampilkan dalam pesta adat maupun perkawinan. Di antara tari-tarian tersebut misalnya tari pasambahan merupakan tarian yang dimainkan bermaksud sebagai ucapan selamat datang ataupun ungkapan rasa hormat kepada tamu istimewa yang baru saja sampai, selanjutnya tari piring merupakan bentuk tarian dengan gerak cepat dari para penarinya sambil memegang piring pada telapak tangan masing-masing, yang diiringi dengan lagu yang dimainkan oleh talempong dan saluang. Satu lagi yang terkenal adalah silek atau silat Minangkabau merupakan suatu seni bela diri tradisional khas suku ini yang sudah berkembang sejak lama dan berkembang juga di luar negeri. 


Bagi yang sudah melancong ke sini mungkin sudah ada yang mengunjungi Lembah Harau, Lembah Anai, Ngarai sianok, Pantai Padang, Jam Gadang Bukit Tinggi, Istana Pagaruyung, Danau Singkarak, Danau Maninjau, dan berbagai obyek wisata lain. Kabupaten Pesisir Selatan pun tak sedikit pula menghadirkan objek wisata, di antaranya Pantai Carocok Painan, Bukit Langkisau, Jembatan Akar Bayang, Air Terjun Bayang Sani, dan Bukit Mandeh. Sumber: > travel kompas <;

Sebagian besar masyarakat minangkabau adalah pedagang atau pengusaha, Itu kenapa tak jarang orang lain menyebutkan kami sebagai yang jago menjual apapun. Apapun bisa dijadikan barang dagangan. Begitulah kurang lebih bahasanya. hehehhe *masih dalam konteks barang dagangan* Selain itu masyarakat minang juga hidup sebagai sastrawan dan politisi.

Soal hidup saya yang senang merantau. Bukan kami kalau tak merantau. Saya senang untuk menyusuri setiap kota dengan budaya yang berbeda. Tak heran jika saya bisa mengusai berbagai macam bahasa daerah. Nomadenlah istilahnya begitu. Tapi semoga sekarang akan nomaden. hehehe 



Rindu.. itulah yang ingin saya katakan saat ini, merindukan untuk balik kampung. Sekedar nostalgia, mengingatkan akan keaslian saya pada adat ini. Menikmati suara alunan pantai dan pemandangan bukit sekitar. Lalu mampir ke Pekanbaru kota di mana ayah saya dibesarkan dan keluarga besar ayah saya tinggal. Inilah aku dengan berbagai pengalaman tinggal di kota lain dan kampung halaman yang jauh di mata. *Kampuang Nan Jauh di Mato* Semoga segera menjelajahi kampung tercinto, Sumatera Barat.

*cheers!* Syukriya* :) 

gambar:http://www.kelilingnusantara.com/wp-content/uploads/2014/04/Rumah-Gadang-Istana-Pagaruyung-Sumtra-Barat.jpg dan https://wisatapainan.files.wordpress.com/2012/04/pantai-carocok-painan44.jpg

Senin, 23 Januari 2017

Menjelajahi Kota Candi, Jogjakarta (Part 1)

Haiiii... Selamat Tahun Baru Masehi 2017 ya... Semoga senantiasa diberikan kesehatan dan terus diberkahi oleh Allah Swt. Aamiin.. Bicara soal tahun baru, saya akan mundur beberapa hari kebelakang tentang perjalanan saya untuk #ExploreJogja bersama dengan teman-teman saya. :)

Berawal dari obrolan mengenai liburan yang ingin pergi ke Pulau Sumatera, setelah berunding alot pada akhirnya kami memutuskan untuk memilih Jogjakarta sebagai pilihan yang tepat. Agak jauh memang, tapi daripada gak jadi liburan. hehee. Memutuskan untuk mengambil bulan Desember adalah keputusan yang tepat walau akan menimbulkan pernyataan pasti akan ramai sekali di sana, tapi tak apalah. Berangkat 23 Desember 2016 jam 21.30 menggunakan kereta api Bandung-Jogjakarta bersama ke-8 teman saya akan menjadi liburannya yang menyenangkan pastinya. Tema kali ini akan #explorejogja walaupun kami tahu waktu 3 hari takkan cukup untuk diexplore namun setidaknya ada tempat-tempat yang belum kami singgahi sebelumnya. 


Selama perjalanan kami bercanda gurau, ada yang tidur, ada yang mendengarkan musik, membaca buku atau bahkan ada yang tak tidur. Sebelum sampai di Jogjakarta esok hari, ada tragedi yang menimpa salah satu teman kami dini hari. Mukanya pucat pasi ketika sampai di tempat duduk. Ternyata tangannya terjepit pintu toilet kereta api. Darahpun bercucuran, untungnya kami berada di gerbong terakhir. Karena kondisi kereta api yang tak ada peralatan medis yang cukup membuat ia harus menunggu beberapa jam menahan sakit, karena harus diperiksa di klinik stasiun Tugu Yogjakarta. Nah, mungkin ada beberapa hal yang harus dievaluasi kepada transportasi ini. Setidaknya disiapkan obat-obat P3K yang membantu dalam kondisi darurat, ada tim medis yang bisa menangani dalam kondisi darurat sehingga tidak menunggu berjam-jam, dan terutama pada kondisi luar dan dalam kereta yang harus dibenahi/dirawat secara rutin sehingga timbul kenyamanan saat berpergian. Tak terjadi hal yang sama. :) Saya yakin semakin baik pelayanan dan fasilitas kalaupun mahal akan tetap digunakan. 

Sesampainya di stasiun Jogjakarta pagi hari mengharuskan kami bergegas untuk bersiap menuju trip pertama. Udara yag khas dari Jogjakarta, yaitu panas. Sangat berbeda dengan udara Bandung pagi hari. Nyuuussss ~~~~ Kami menginap di salah satu Guest House di daerah Kaliurang dekat Gunung Merapi. Memang agak jauh sih, tapi tak masalah karena waktu yang bersamaan dengan long weekend jadi semua penginapan banyak yang sudah dipesan. Enjoy the day kan.. Di sana Alhamdulillah kami dimudahkan dengan kendaraan pribadi yang bisa dipinjam dari saudara teman kami. Alhasil kami bisa mengeksplor Jogja lebih banyak tempat. Kalau di Jogjakarta kita tidak akan lepas dari budaya dan peninggalan bersejarah yang melekat. Kami akan mencoba menjelajahi itu.


Hari ke-1: Tujuan pertama kami adalah ke Magelang tepatnya ke Candi Borobudur. Walaupun ini sudah biasa dikunjungi tapi katanya gak sah kalau belum ke sini. Maka dengan perjalanan yang cukup jauh, kami berangkat ke sana. Tetiba di sana sekitar pukul 10 siang, di mana cuaca pagi itu sangat berbahagia alias cerah. Sunblock mana Sunblock :D. Kacamata hitam dan payungpun sudah melekat. Dengan suasana yang long weekend maka kami harus rela bercengkrama sama alam dan orang-orang yang berlibur. Masya Allah, itu yang pertama kali saya ucapkan ketika candi tersebut terlihat dari bawah. Setelah belasan tahun saya tidak ke sana. Suasana penuh orang-orang dan cuaca panas membuat sedikit tidak nyaman. Niat saya adalah patang menyerah, kalau sudah sampai di sana harus naik sampai atas candi lalu selfie dan foto-foto. hahhaha  Sayangnya, candi Borobudur ini pasca gempa dan abu merapi beberapa tahun lalu membuat candi ini jadi terlihat kurang terawat. Ada beberapa kepala arca candi ini yang hilang atau ada kepala arca, arca sudah diperbaiki ulang, relief yang sudah memudar, dan stupa yang diperbaiki. Maka dari itulah hanya kita sendirilah yang bisa dan harus melestarikannya.

Saya mengulas sedikit tentang sejarah candi Borobudur. Candi Borobudur adalah keajaiban dunia dan merupakan candi Budha terbesar di dunia. Pembangunan candi Borobudur selesai pada abad ke-9 dan merupakan peninggalan Dinasti Syailendra sekitar abad ke-9 di bawah pemerintahan Raja Samaratungga. Jika kita berkunjung ke candi Borobudur, kita akan menemukan sebuah prasasti yang dianggap berhubungan dengan sejarah sertaasal usul candi Borobudur. Prasasti tersebutbernama Prasasti Sri Kahuluan yang merupakan tempat yang biasa digunakan sebagai pemujaan  yang telah berumur 842 Masehi. Dalam buku seorang ahli sejarah, Poerbatjaraka menyebutkan bahwa kata Borobudur tersebut memiliki arti, yaitu Biara Budur yang arti dalam bahasa Jawa kuno adalah Bara artinya besar dan kata budhur yang artinya Buddha. Nah, pada tahun 1365 disebutkan dalam kitab kuno Negarakertagama menyebutkan sebuah kata Budur tersebut. Candi Borobudur sempat terkubur oleh lapisan abu gunung Merapi sekitar tahun 1006 Masehi. Ratusan tahun berlalu pada saat Raffles sebagai wakil Gubernur Inggris, candi Borobudur ini ternyata ditemukan kembali berada di balik hutan yang sangat lebat. Sekitar tahun 1970-an dibantu oleh UNESCO melakukan restorasi besar-besaran untuk candi Borobudur. Lalu, pada tahun 1991 saat ini candi Borobudur UNESCO menetapkannya sebagai salah satu situs warisan budaya di dunia.


Di kompleks candi ini terdapat dua museum utama, yaitu Museum Kapal Samudraraksa dan Museum Karmawibhangga. Museum Samudraraksa berisi berbagai koleksi dan informasi mengenai sejarah perdagangan Asia–Afrika pada zaman dahulu, sedangkan Museum Karmawibhangga berisi informasi mengenai pembangunan Candi Borobudur. Tapi kami tidak sempat mengunjungi ke-2 museum tersebut karena harus menuju candi lainnya. Di sebelah selatan candi ada Bukit yang katanya apabila dilihat bentuknya akan menyerupai seseorang dalam posisi tidur. Selain Bukit, masih ada Gunung-gunung lain yang mengelilingi candi megah ini, seperti Sumbing dan Gunung Merapi. Candi Borobudur memiliki ratusan anak tangga yang apabila dinaikki cukup membuat anda langsing apalagi di cuaca panas terik.. hehee :-p Harga untuk masuk ke candi ini tidaklah mahal sekitar Rp30.000 atau 15 USD untuk wisatawan mancanegara. Pengelolaan candi kini sudah membaik dan harap terus diperbaiki, agar warisan budaya ini tetap lestari sampai nanti. 







Setelah menikmati keindahan alam candi Borobudur kami melanjutkan perjalanan menuju Yogyakarta untuk melihat peninggalan sejarah selanjutnya, yaitu Situs Warungboto. Situs ini terletak di Jalan Veteran, Kelurahan Warungboto, Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta. Situs Warungboto merupakan sebuah tempat peristirahatan Hamengku Buwono II, Peristirahatan Keluarga Kerajaan. Di sini terdapat dua pesanggrahan, yakni sisi barat dan timur. Dikutip dari Tribun Jogja (31/08/16) "Situs ini aslinya bernama Pesanggrahan Rejawinangun. Dulunya pesanggarahan ini adalah sebuah pemandian karena di tempat tersebut pada waktu itu ada sebuah umbul atau sumber mata air," ujar KRT Jatiningrat pada sebuah kesempatan. Terlihat dari bangunannya terdapat sebuah tempat seperti kolam tepat ditengah bangunan tersebut. Ada beberapa bangunan seperti kamar-kamar. Bangunan ini diperkirakan memiliki ukuran yang sangat luas dan megah dulunya. Saat belum menjadi cagar budaya, situs ini tidak terawat. Bangunan telah runtuh dan ditanami lumut pada setiap bangunannya. Kini situs ini telah direnovasi seperti cat dan lantai-lantai disekitarnya sudah baik. Tempat ini seperti wisata lain Yogjakarta, tepatnya Pesanggrahan Taman Sari yang memiliki kolam dan tempat pesanggrahan. Jika ingin mengunjungi situs ini memang agak sulit menggunakan roda empat, karena letaknya berada di dalam jalan sempit/gang di daerah rumah warga. Jadi, bisa meletakkan kendaraan di jalan raya dekat situs ini. Pesanggrahan ini bisa dikunjungi tanpa mengeluarkan biaya sepeserpun, hanya biaya parkir kendaraan saja. 



sebelum renovasi







Selanjutnya, tujuan kami ke-3 adalah Candi Ijo Kalasan Yogjakarta. Candi Ijo adalah candi yang letaknya paling tinggi di Yogyakarta, di Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Candi Ijo adalah sebuah kompleks percandian bercorak Hindu berada di lereng barat sebuah bukit yang masih merupakan bagian perbukitan Batur Agung, kira-kira sekitar 4 kilometer arah tenggara Candi Ratu Boko. Candi Ijo ini kono katanya memiliki kekuatan misterius di dalamnya. Ada prastasti yang berisikan kutukan-kutukan dalam bahasa sangsekerta. Nah, bagi yang mengamati sejarah dan budaya, terlihat perbedaan dengan candi bercorak Budha dan Hindu, candi ini memiliki relief dan arca bercorak Hindu dan Budha. Terdapat arca nandi atau lembu dimana binatang ini merupakan kendaraan yang dipakai oleh Dewa Siwa. Sedangkan arca-arca lainnya, seperti arca Agastya, Ganesha, dan Durga. Selanjutnya ada relief yang menggambarkan seorang lelaki dan perempuan yang sedang melayang yang menggambarkan Dewa Siwa dan Dewi Parwati sebagai lambang yang berguna untuk mengusir roh jahat. Ini yang juga membedakan antara candi Hindu dan Budha. Memutuskan untuk ke sini karena katanya pemandangan sunset di sini juga indah. Kami tiba di lokasi ini kurang lebih pada jam 17.00, karena tiket masuk telah habis terjual maka kami masuk tanpa tiket. hehe Lokasi ini tutup pada jam 18.00. Alhamdulillah, kami mendapatkan momen tersebut dan diiringin oleh angin yang berhembus kencang. Lokasi ini cukup jauh dari pusat kota dan di atas gunung, itu mengapa pukul 6 sore pengunjung diharapkan sudah tidak ada di Candi Ijo ini. 




Dengan perjalanan yang seharian full, kami memutuskan untuk pulang ke penginapan lebih awal karena "jet leg" sejak pagi. Wisata lainnya dan kuliner akan kita lanjutkan esok hari ~~. Tiba di penginapan lebih cepat membuat saya masih bisa menikmati sinetron India yang ketinggalan kemaren malamnya. :-p *abaikan saja yah.. hahahaa 

to be continue....... (part 2)