Sabtu, 03 Maret 2012

Bukan Cuma Untuk Makan

Posted by with 2 comments
Wah rasanya sudah lama sekali nggak menggoreskan tulisan di blog kesayangan saya ini :) Berkat kesibukan yang menguras otak, jadi belum sempet2 aja nih ngisi tulisan disini. Nah, sekarang saatnya :D

Bulan lalu [11/2/2012] ini menjadi kesempatan untuk kesekian kalinya buat ngadain acara if peduli. Berkat kumpul kilat dan ide kilat dari sinta teman saya, akhirnya kami mengambil tema "sedekah on the road". Konsepnya adalah kami akan memberikan satu kotak nasi dan satu kotak mie instan yang berisi sembako. Nah, kami sudah melist siapa-siapa aja yang akan menjadi sasaran kami, artinya bedasarkan survey sebelumnya. Ada 10 daftar yang akan kita berikan. Kenapa sedekah on the road, karena memang kita datang dan langsung memberikannya kepada mereka di TKP. :D Lokasinya tentu saja berbeda-beda. Dibagi menjadi beberapa kelompok untuk menyusuri jalanan kota Bandung. Ada sesuai dengan target ada juga tidak. Jika tidak, akan dialokasikan kepada mereka yang sangat membutuhkannya. :)
 
Apa yang kami beri tidak sebanding dengan perjuangan mereka
Berkumpul bersama, briefing sebentar lalu mulai pukul 16.00. Memang terlampau ngaret  dari janjian awal pukul 14.00 tapi saya rasa cukup lah untuk bisa menjelajah. 

Saya dan ketiga teman saya melintasi Cicadas untuk menemukan sosok yang kami harapkan itu dapat berjumpa. Dengan kondisi jalan yang cukup padat kami lebih banyak melihat kendaraan daripada orang. Dibalik kecepatan kendaraan, kami melihat seorang laki-laki tua mendorong gerobak dengan kondisi ban kempes. Sandal jepit, topi, jalan terbata-bata, ia mendorong gerobaknya sangat pelan. Bayangkan mendorong gerobak dengan keadaan ban kempes deh, berat kan?  Ya Allah . . Kami memilih tempat yang tidak begitu ramai dan banyak gerobak kaki lima disana. Kami memanggil kakek tersebut. Kami tidak sekedar memberikan ini, tapi juga membeli buah yang sedang dijualnya. Kakek berusia > 70 tahun itu, fasih berbahasa sunda, makanya saya memutuskan untuk diam dan membiarkan ketiga teman saya berinteraksi. haha

Aneka macam buah dijualnya, mulai dari jeruk, salak, ubi, singkong, duku, dll. Memang buahnya tak tampak lebih segar tapi dengan keikhlasan kami membeli pasti terasa nikmat. Pendengaran yang sudah tak lagi baik, mengharuskan kami untuk berbicara sedikit lebih keras. Tinggal bersama cucu tidak membuat beliau berdiam diri, harus tetap mencari nafkah bukan cuma untuk makan tapi bertahan hidup. Awalnya kakek ini mau pergi meninggalkan kami setelah membeli sekilo buahnya, mungkin karena tidak terdengar jadi si kakek pergi. Kami menahan dan berbicara agak kencang, tentang keiinginan kami. Akhirnya mengucap syukur dan speechless mungkin ;p. Terdapat guratan bahagia di senyum kakek tersebut. "Semoga bermanfaat ya pak". Semoga setelah ini bannya ditambah angin supaya nggak berat lagi dorong gerobaknya. :D

Ada kedua kakek saya dan saya ngga lupa untuk bergaya :D
Setelah selesai dengan kakek pertama, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan masih mengitari bumi Cicadas namun, tujuan yang dicari tidak ketemu. Akhirnya berpindah ke daerah Buah Batu. Mencari sekeliling namun tak kunjung bertemu. Hampir pasrah." Ya sudah kalau nggak ketemu minggu depan lagi saja". Ditengah kepasrahan dijalan kami melihat bapak paru baya menggayuh sepedanya dengan pelan. "Bapak ini saja ya?" Awalnya ragu, dan akhirnya kami tinggalkan. Sampai dijalan Karapitan, kami menemukan tukang becak, dan ternyata bapak yang sama. "Ini bukan cuma sekedar rejeki, tapi jodohnya juga." :). Berunding singkat akhirnya kami memutuskan berhenti di pinggir jalan karena saat itu kami menggunakan 2 motor. Kami memilih untuk naik becak bapak tersebut. Dengan style teman saya yang menggunakan kemeja serta membawa kardus mie instan, lantas bapak tersebut percaya kami datang dari kampung :)). Iya disana banyak kendaraan umum lalu lalang, tapi ini sebaga sedekah kami buat bapak. Trus yang buat saya terharu ketika bertanya, "Pak, saya mau ke lampu merah disana, berapa ongkosnya?", "Terserah neng, berapa aja ya recehan juga ga papa." Jarang tukang becak bilang berapa aja, biasanya sudah punya standar harga. hehe Atau karena gaya kami yang meyakinkan ga modal ya ? ha ha ha. Ngga mau ketinggalan, di dalam becak juga tetep eksis :). Mengayuh becak dengan pelan itu membuat kami semakin terenyuh. Masya Allah. Jarak tempuh yang tidak terlalu jauh, tapi tetap saja mengayuh becak dengan usia yang sudah tidak kokoh, tetap saja.

Kami meninggalkan kardus berisi sembako didalam becak, lalu bercerita tentang kehidupan beliau. Ternyata beliau nggak akan pulang kalau belum dapat uang. Pokoknya pulang kalau sudah bawa uang. Hmhm... ini baru namanya perjuangan dan tanggung jawab. Beliau tidak melupakan statusnya sebagai Bapak yang harus menafkahi dan memberi makan tapi bukan cuma itu yang penting bisa bertahan hidup. Subhanallah.

Yang terakhir ini berada disekitar rumah saya. Ibu yang tak lagi muda alias nenek 90 tahun yang masih kuat untuk berjualan keliling disekitar komplek rumah saya. Jualannya diletakkan dibelakang punggungnya. Beliau berjalan bungkuk sambil menyuarakan dagangannya. "kripik pisaaang.....". Jalanan  yang panas ditengahterik matahari tak menyulutkan semangatnya untuk mendapatkan uang. Mereka yang beli, bukan karena iba  terhadapnya tapi butuh makanan itu. Jiwa yang sejak dulu ditanamkannya sekarang masih diterapkannya. Jangan pernah berhenti kalau masih bisa dan kuat. Sulit untuk ditentang itulah sifat manusia yang semakin renta. :)
Ya Allah, Semoga apa yang kami beri ini bermanfaat. untuk mereka. Ini semacam cambukan untuk kita agar senantiasa bersyukur, terus berusaha, berjuang dan tak mengenal lelah . Selagi kita masih mampu kenapa harus berhenti? 
Mereka, bukan cuma mencari uang untuk makan tapi untuk bertahan hidup. 

Sedang Briefing aja, gayanya sama coba deh liat ;p *Our Team*

Nantikan cerita lainnya di : http://peduli.kbif-unpad.org/

2 komentar:

Rininda mengatakan...

Pengen Ikutaaaaaaaaaaaan >.<

dedeph mengatakan...

makanya kalau ada ikut lagi, seruuu :D