Selasa, 06 November 2012

Mak yati : Pemulung ngga selamanya "Miskin"

Posted by with No comments
Beberapa berita menyiarkan tentang pemulung yang bisa berqurban 2 ekor kambing. Subhanallah. Awalnya berita ini hanya lewat dalam telinga saya, nyatanya berita ini nyata. 


Beliau hanyalah seorang pemulung yang berpenghasilan hanya +- Rp 25.000/hari. Mereka Mak yati dan Pak Mamat pemulung dengan niat yang begitu indah. Indah cara pandangnya dan indah cara memaknai hidupnya.

Bagaimana bisa ia berqurban 2 ekor langsung? Ini membuat saya tersentil. Saya bisa membeli ini itu, barang yang mungkin tak bisa mereka beli, handphone misalnya. Bekerja dan sekolah yang tinggi terkadang membuat saya juga lupa akan rasa syukur. Ini bukan sentilan saja untuk saya tapi semua masyarakat Indonesia yang merasakan perasaan yang sama dengan saya. 

Tiga tahun menabung dan selama tiga tahun juga mereka (Mak yati dan Pak Maman) berkelana mencari nafkah dan barang pulungannya. Cuma  1.500-2.000 rupiah/hari saja mereka mampu menghasilkan 2 ekor kambing untuk diqurbankan. Modal percaya pada Allah, modal keyakinan besar, modal apa bisa? Itu yang menjadi utama. dan.. Allah mengabulkannya.

Syarat Diwajibkan atau Disunnahkannya Qurban :
  1. Muslim. Orang kafir tidak diwajibkan atau disunnahkan untuk berqurban karena qurban adalah bentuk qurbah (pendekatan diri pada Allah). Sedangkan orang kafir bukanlah ahlul qurbah.
  2. Orang yang bermukim. Musafir tidaklah wajib untuk berqurban.  Ini bagi yang menyatakan bahwa berqurban itu wajib. Namun bagi yang tidak mengatakan wajib, maka tidak berlaku syarat ini. Karena kalau dinyatakan wajib, maka itu jadi beban. Jika dikatakan sunnah, tidaklah demikian. 
  3. Kaya (berkecukupan). Ulama Syafi’iyah menyatakan bahwa qurban itu disunnahkan bagi yang mampu, yaitu yang memiliki harta untuk berqurban, lebih dari kebutuhannya di hari Idul Adha, malamnya dan selama tiga hari tasyriq juga malam-malamnya.  
  4. Telah baligh (dewasa) dan berakal

Selama niat mereka baik disitu pula masyarakat yang lainnya merendahkannya. Mendapat cacian, hinaan dan lain lain. Tapi apakah miskin harta juga harus miskin hati? Apakah selamanya pemulung itu miskin? Mereka tidak mengeluh, mereka tegar, mereka berusaha. Mereka juga hidup susah tapi mereka masih mau memberi. Apa yang tidak mungkin di dunia ini? Jika Allah menghendaki maka terjadilah.

Kita harus banyak belajar. Belajar menghargai orang lain, belajar menghargai waktu, tenaga, belajar menghargai uang, belajar menghargai kerja keras orang dan belajar menghargai perasaan orang lain serta belajar yang lainnya. Bukan dengan keterbatasan kita, kita harus menyerah. Jangan karena kita miskin tapi kita lemah. Mulai untuk selalu bersyukur, belajar beramal shaleh, belajar ikhlas dan belajar untuk berqurban. Jangan hanya barang mewah yang mampu kita beli, apakah seekor kambing untuk dibagikan dagingnya kepada mereka-mereka yang membutuhkan tidak mampu?

Saya belajar seperti mereka, saya belajar dari perjuangan dan keikhlasan hati mak yati dan pak maman. Apapun yang baik selalu jalan. "Rejeki itu tak pernah tertukar". 

Begitupun soal jodoh yang diungkapkan mak yati. "Bahwa Allah akan siapkan jodoh yang menurut Allah pantas, bukan pantas oleh manusia. Asal kita mau usaha dan berserah diri padaNYA. Dimanapun dan kapapunpun pasti caranya indah".

Bisakah kita selalu belajar? Tidak cuma dari guru atau keluarga, mereka juga merupakan salah satu sentilan hati untuk kita. Bukan cuma saat ini tapi sampai nanti.. Jangan selalu memandang ke atas, yang dibawah jauh lebih memiliki makna hidup yang mendalam. Mereka bukan untuk dihina tapi untuk dibantu. Mereka bukan untuk dikucilkan tapi untuk mengangkat derajatnya.

Terima Kasih buat semua pelajaran hidupnya :D

0 komentar: