Rabu, 06 Februari 2013

Deskriminasi dan bersyukur

Posted by with No comments
Apa yang terlahir ke dunia ini rejeki dari Tuhan kan? Mensyukuri apa yang ada itulah jalan yang palik baik untuk selalu mawas diri. Apa jadinya apabila yang diberikan Tuhan ini menjadi halangan untuk beberapa kegiatan? Bukan kita yang membatasi tapi pihak-pihak tertentu. 

Anda terlahir sebagai orang yang wajah paspasan, tapi terampil dan punya skill yang bagus. Anda terlahir sebagai orang yang wajah mempesona tapi tidak punya skill apapun. Anda terlahir sebagai orang yang wajah mempesona, punya skill yang bagus tapi tidak disukai banyak orang. Anda terlahir sebagai orang yang punya keterbatasan fisik dalam arti tidak lengkap, disukai banyak orang dan terampil. Atau anda terlahir sebagai orang yang tidak punya apapun dan tidak mau berusaha. Termasuk dikategori manakah anda?

Ada pekerjaan yang menjanjikan untuk anda dan anda menyukainya, lalu ada beberapa syarat yang harus anda penuhi sebelum melakukan pendaftaran. Semua persyaratan sudah anda penuhi tapi satu hal mengenai ukuran badan anda. Ada apa dengan badan saya? Sehat jasmani dan rohani. Namun, persyaratan tersebut mengharuskan anda memiliki tinggi badan melebihi umumnya. Bayangkan saja anda sudah berusaha untuk membuat badan anda tinggi, tapi apalah daya tetap segitu. Nah apa yang akan anda lakukan? Masih bisa ditoleransi jika bekerja di front office, teller atau sejenisnya. Sedangkan ini hanya duduk di meja atau bahkan berkeliling kantor? Ada apa dengan tinggi badan? Apa anda termasuk didalamnya? Ini yang harus jadi evaluasi para instansi tertentu. Apa skill dilihat dari postur tubuh? *thinking* Dan kemudian anda tidak menyerah terus melanjutkan prosedur yang diminta dengan apa adanya anda.

Kemudian menemukan deksriminasi selanjutnya yang mengatas namakan pekerjaan. Dulu deskriminasi ini masih sering dilakukan yaitu mengenakan kerudung. Mungkin bagi yang merasakan seperti tertusuk duri sakitnya. Mengatas namakan pekerjaan dan juga penampilan. hmhm.. Namun, belakangan ini deskriminasi ini mulai hilang seiiring dengan munculnya fashion tentang jilbab. Saat itu apa langkah apa yang anda buat? Jawaban yang pas, "mungkin bukan jodohnya kali ya pasti ada yang lebih baik".

Ini bukan saatnya mendeskriminasi, tapi memanfaatkan kinerja seseorang atau orang-orang yang akan berkontribusi dengan anda dan juga perusahaan anda. Kita bekerja tidak untuk penampilan tapi masa depan..

0 komentar: