Rabu, 06 April 2016

Ruang Rindu dalam Ratusan Hari

Posted by with No comments
Aku menyadari bahwa aku tak sepenuhnya sanggup. Sanggup menahan ini semua ini sendirian. Sanggup menahan rasa yang aku takkan pernah tau kapan ini akan berhenti. Aku sedang tidak berusaha untuk memaksa melepaskannya atau bahkan terus membuat rasa ini dalam kekosongan. Berulang kali aku mengisinya dengan yang lain tapi tetap berbeda, karena ini takkan pernah sama. Aku terus berusaha dan terus berusaha. Entah apa yang sedang terjadi padaku. Waktu sudah membawaku pergi jauh tanpa harus meminta untuk kembali..

Tahukan bahwa ini begitu menyiksa? Rindu dan semua kenangannya. Aku sudah mencoba untuk membiarkanmu pergi jauh dari ruang ini, tapi masih tetap saja ada yang tertinggal. Jejak perasaan. Ratusan hari sudah aku lalui, tapi ini masih terasa walau hanya setitik. Adakah sesuatu yang lain? Pengganti ruang ini? 

Ajarkan aku untuk bisa sepertimu. Ajarakan aku untuk membuatnya seperti tidak pernah ada. Kamu mengajarkan aku untuk tetap diam di sini. Jangan mengikuti sampai kamu memberikan tanda disetiap langkahmu. Aku mengikutimu tapi aku tak mengikuti arahmu. Aku takkan pernah menjadi aku ketika ruangmu sudah terisi dengan penuh. Setiap cahaya di sana takkan pernah mengenaliku,jika kamu takkan membuka pintunya. Aku mengiyakan pintamu dan aku ingin semua terlihat tak ada jeda, tak pernah ada, dan semua baik-baik saja. Kamu meninggalkanku di sini, di ruang ini.

Ruang ini begitu penuh partikel hidrogen dan helium yang bisa membawa aku melayang-layang. Ketika ruang ini kembali membawaku mundur dalam ratusan hari yang lalu. Aku bahagia dan kemudian terhempas di ruang yang sama. Melayang...Ketika aku melihatnya bukan dirimu dalam ruang lain, seakaan usaha yang aku lakukan ratusan tahun seperti tak berarti. Aku kembali dalam ruang yang penuh sesak, tapi aku tak bisa berteriak.

Aku menyadari bahwa kita tak pernah bisa mencintai tanpa terluka, tapi aku bisa mencintaimu dengan luka tanpa pernah kembali ku miliki. Kita pernah ada tapi kini ruangmu sudah terisi penuh tanpa celah.  Aku takkan pernah berani kembali berjalan yang sama dengan aku mencintaimu dan aku tak ingin ada yang terluka, cukup aku, walaupun dia tak pernah tahu siapa aku. Aku hanyalah aku. Aku yang pernah ada tapi tak pernah kamu lihat sejak hari itu. Aku takkan memaksa tapi akupun takkan berusaha. Aku bukan tak bisa berlari tapi aku senang berjalan cepat dengan memandang sekitarku. 

Aku hanya bisa menitipkan setiap titik rindu ini dalam untaian doa yang ku titip pada-Nya. Semoga DIA bisa menyampaikan dengan ruang dan cahaya yang lain untukmu... Maaf atas segala kelancanganku merindukanmu dalam ratusan hari yang sudah ku lewati...

-dudepanai-
Bandung, 6 April 2016
12:05 WIB
https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/564x/6c/d2/24/6cd2242e1c58bcbd5ae073b5254d8c9b.jpg

0 komentar: