Kamis, 04 Agustus 2016

Tak Selamanya Sosmed itu Baik

Posted by with 5 comments
Berawal dari percakapan saya dengan teman-teman di kantor mengenai fenomena endorse. Menceritakan tentang seseorang yang mengalami perubahan drastis dan mendapatkan keuntungan hanya dengan berfoto saja dengan memajangkan suatu produk lalu menghasilkan segepok uang. Siapa yang tidak tertarik yah. Ini fenomena kecanggihan teknologi juga. 
Endorsement (alternatively spelt "indorsement") may refer to: a testimonial, a written or spoken statement endorsing, promoting or advertising a product
Tapi yang lebih menarik saya bahas bukan endorse-nya tapi soal orang-orang yang mempergunakan kecanggihan teknologi dan media sosialnya. Singkat cerita dari obrolan siang itu saat makan siang. Saya penasaran untuk membuka satu nama yang ceritanya menarik untuk saya cari tahu. Sebut saja si mawar, perempuan yang hidup di kota yang jauh dari keramaian teknologi dan pergaulan masa muda yang ekstrem. Dulu sepertinya hidupnya tenang dan teratur serta pintar. Jauh dari fenomena kecanggihan teknologi. Untuk mengasah kemampuannya dalam sekolah akhirnya memutuskan untuk mengabdi di kota dengan sejuta perasaan, Jakarta. Perubahanpun banyak terjadi. Hijrah banyak orang menyebutkannya kini, namun ini menjadi konotasi terbalik. Hidupnya seakaan menjadi miliknya sendiri tak memikirkan orang lain bahkan mungkin orang tuanya. Kini seperti itulah hidupnya. Rambutnya yang dulu tertutup kain kini sudah terbuka. Bajunya yang santun menjadi baju yang semua orang dapat memandang tubuhnya. Kulitnya yang mulus kini berhiaskan lukisan-lukisan tubuh. Ucapannya yang santun menjadi seperti tak ada rem.

Bagi remaja yang ingin mengabdi di kota besar yang penuh dengan serba-serbi kehidupan bebas adalah suatu tantangan dan juga kekhawatiran bagi sebagian orangtua. Seperti pengalaman saya, yang sejak SMA memutuskan untuk migrasi ke kota Bandung tanpa orangtua. Tantangan bagi saya untuk tidak mengikuti gaya hidup "bebas" yang kebanyakan remaja, belajar untuk bisa melaksanakan kepercayaan orangtua, memilih teman dan menjaga kehormatan sendiri. Apalagi hidup tanpa awasan orangtua. Seketika berada dipergaulan yang akan salah langkah, setidaknya belajar sadar untuk menyadarinya. Mungkin saat itu kehidupan teknologi tak seekstrem saat ini. Tak ada media sosial setumpuk ini. Dulu hanya ada chatting di sebuah aplikasi Chat Room dengan ratusan pengguna dengan nama-nama alay, sebuah sosial media pertemuan teman pertama dengan fitur yang seadanya, dan hanya ada warung internet untuk bisa mengakses semua itu. Handphone mu terlalu "lemot" untuk kamu membukanya atau tidak bisa. Beruntungnya aku saat itu bisa hidup diantara "gaya hidup" yang menuntut untuk bebas semau gue. Kenakalan remaja saat itu masih dapat dicegah dan diluruskan. Tapi kini?

Teknologi membawa Mawar menjadi pribadi yang ekstrem. Semua orang bisa melihat apa yang disebarkan melalui semua media sosialnya. Gaya hidup dan pergaulannya menjadi tontonan anak-anak remaja. Bahkan menjadi "idola" bagi mereka. Mengunggah kegiatan sehar-harinya di media sosial yang ditonton jutaan bahkan ribuan pasang mata.  Apakah tak ada lagi tokoh idola yang bisa membawa perubahan lebih baik? Dia menuliskan dan memposting bagaimana hidup yang sesungguhnya. Bebas. Gaya pacarannya yang tak lazim, bebas layaknya budaya barat, cara pakaiannya yang tak sepatutnya, dan tulisan-tulisannya yang kasar mengintimidasi suatu golongan. Kepintarannya menjadikan ia kemudian salah langkah yang merubah segala kehidupannya. Lebih menikmati hidup seperti ini ketimbang mengasah kepintarannya dan melepasnya cita-citanya demi kebebasan semata. Miris sungguh miris. Mungkin telinga sudah bebal atas nasehat yang diberikan keluarganya, sudah tak perduli. Bahkan dia sudah tak perduli hujatan yang didapatkan. Saya yakin bahwa ada dorongan kuat yang menjadikan dia seperti ini. Ataukah sebuah obsesi? entahlah. Lebih miris lagi adalah ketika dia sudah diundang diberbagai radio, menceritakan penghasilan endorsenya yang berjuta-juta dan life style nya yang "bebas". Apakah patut didengarkan dan kemudian diikuti? hmhm.... Akankah kemudian akan menjadi "artis" dadakan, mengisi beberapa talkshow, membintangi sinetron yang kemudian dinonton anak-anak? Ketika sebuah komunitas akan memanfaatkan kesempatan ini untuk mengambil keuntungan dengan tidak memperlihatkan kualitas yang baik. Aduhh entahlah akan seperti apa generasi ini. Ketika saya mengetahui soalnya ini saya tak hentinya menggelengkan kepala, beristigfar, dan menghela nafas. Apakah generasi muda saat ini sudah kehabisan ide? atau lagi-lagi teknologi yang lebih senang mengekspos kegiatan seperti ini daripada segudang prestasi anak-anak muda yang sehari saja beritanya sudah tenggelam?

Ini adalah salah satu contoh dampak buruk teknologi atau sosial media, terutama bagi kalangan anak-anak remaja yang masih "labil". Saya tak menyalahkan teknologi karena ini adalah perjalanan dunia yang semakin lama akan semakin pintar. Tapi apakah seburuk ini dampaknya ketika mata, telinga, dan hati tak lagi bisa sejalan baik? Siapa yang dapat disalahkan? Hmhm.. Mulailah dari diri sendiri, menyaring sendiri, saling memberitahu dan mengingatkan terutama bagi orangtua muda yang memiliki anak. Selektif menggunakan teknologi. Memberikan pengetahuan tentang teknologi apa yang boleh dan apa yang tidak boleh. Kini apapun bisa diakses melalui media apapun, ketika mereka tak diberi tahu ia akan mencari tahu sendiri tanpa penjelasan yang sesungguhnya. Maka sebelum mencari tahu, maka harus diberi tahu. Saya yakin bahwa semua ada positif dan negatifnya. Maka pergunakanlah teknologi atau sosial media ini dengan baik, misalnya sebagai tempat silaturahim bersama teman, sahabat, dan keluarga, wadah mengekspresikan tulisan dan pendapatnya, dan sebagainya. Maka ketika "kepintaran" kita dipergunakan dengan baik, saya yakin dunia akan lebih indah dengan teknologi. Teknologi tidaklah bisa memfilternya, tapi kita sendirilah yang bisa memfilternya :)


umairqureshi.com

  

5 komentar:

Si Harahap mengatakan...

Kalau saya melihatnya tidak pada tataran moral, lebih kepada ekspresi si mawar saja. Mungkin dia sebenarnya ingin melakukan sesuatu yang beda dari sebelumnya. Dari terkungkung dan bebas, lalu menemui banyak teman yang lain. Kamu adalah siapa teman yang kamu pilih. Mau tidak mau dia pun mengikuti lingkungan dan teman sepermainannya. :)

.dedeph. mengatakan...

iyaaa betul bang hehee tapi menurut saya medsos lebih menyediakan "wadah" untuk dia berekspresi hehee coba kalau jaman dulu. Pasti ga akan ngehits seperti skrg hahahhaaa
hooh makanya harus lebih bisa membawa diri dan memilih teman ya :)

berbagicerita mengatakan...

"Maka pergunakanlah teknologi atau sosial media ini dengan baik, misalnya - See more at: http://devifabiola.blogspot.co.id/2016/08/berubah-karena-teknologi.html#sthash.mSESzXv9.dpuf "

misalnyaaaa untuk ikut support grup #1minggu1cerita

*ngiklan program mah dimana wehhhh*

evasrigustiya mengatakan...

jaman sekarang memang harus bijak dalam menggunakan medsos, saya jadi menerawang gimana jaman nya anak saya nanti yak?

tatats mengatakan...

Halo,

Cerita hidup si mawar ini penting buat pelajaran para ortu, bagaimana cara menyikapi remaja dan teknologi. Walopun ini ada hasil wawancara langsung dengan dia, untuk klarifikasi bbrp hal yang simpang siur.

https://beritagar.id/artikel/bincang/selebgram-karin-awkarin-novilda-aku-ingin-menjadi-10-orang-berpengaruh-di-dunia