Rabu, 25 Januari 2017

Painan: Kampuang Nan Jauh di Mato

Posted by with 8 comments
Saya lahir dan besar dari kota-kota yang berbeda di Indonesia. Saya lahir di Bandung, dibesarkan dibeberapa kota di Indonesia, dan dari garis keturunan Minangkabau yang tak pernah tinggal di sana. Ini karena pekerjaan ayah saya yang selalu berpindah-pindah. Mungkin hal yang membuat saya bingung ketika menulis CV adalah saat menuliskan riwayat sekolah. Mengapa? karena saya masuk di sekolah di mana lalu bisa lulus di sekolah yang berbeda. :D

Lahir di Bandung karena ibu saya melahirkan saya berdekatan dengan hari setelah Idul Fitri padahal kami masih tinggal di Surabaya karena ayah saya bekerja di sana. Ikut lahir di Bandung, karena saat itu ikutan "mudik" yang notabene keluarga ibu saya sudah merantau dari Sumatera Barat ke Bandung sejak puluhan tahun lalu. Setelah beberapa bulan saya harus mengikuti orangtua untuk pulang kembali ke Surabaya. Selama 5 tahun saya menetap di Surabaya dan akhirnya harus kembali ke Bandung selama 1,5 tahun itupun karena ayah saya. Pada saat duduk di Sekolah Dasar kelas 2 saya harus menerima untuk kembali ke Surabaya. Setelah memasukki kelas 4 saya ditakdirkan untuk kembali berpindah ke kota tetangga, yaitu Sidoarjo. Saya menetap di sana selama 5 tahun. Setelah beranjak besar saya kembali harus waspada kemana lagi saya harus pindah. Saya kembali harus berhadapan dengan kabar orangtua yang harus pindah menyebrang Pulau. Saya akhirnya mengharuskan menetap selama 3 tahun di kota kecil di Sumatera Utara, yaitu Pematang Siantar. Kota yang juga dihuni oleh berbagai orang perantauan. 

Lalu, pada akhirnya saya memutuskan untuk merantau ke Bandung agar SMA saya tidak lagi pindah-pindah, karena saat itu ada isu bahwa orangtua saya akan dipindahkan kembali ke beda kota, termasuk Aceh yang saat itu sedang konflik. Ketika saya pindah ke Bandung, keluarga sayapun pindah ke Kota Medan. Kini, sudah 13 tahun saya menetap di kota yang penuh dengan kenangan ini, Bandung. Begitupun orangtua saya sudah menetap di sini.

Saya merasa semua kota yang saya singgahi adalah kampung halaman saya. Di sana saya memiliki banyak teman, sahabat, dan keluarga baru. Dulu, jika masa liburan sekolah/semester tiba, saya memilih pulang mengunjungi orangtua saya di Medan. Begitupun mereka, saat liburan lebaran tiba, mereka pulang ke Bandung atau ke Pekanbaru. Singkat cerita, mengapa Pekanbaru? itu karena ayah saya dibesarkan di sana dan kini keluarga besar ayah saya berdomisili di sana. Itulah mengapa kami disebut perantau sejati. hehehe 


Bicara soal kampung halaman, saya adalah perempuan asli Minangkabau. Ayah dan Ibu saya adalah orang Minang, walau mereka merantau ke kota lain. Saya masih memiliki kampung halaman di sana, tepatnya Batang Kapas (Batang Kapeh), Kabupaten Painan, Pesisir Selatan. Letakknya berada di tepi pantai, itu mengapa disebut pesisir. Jika ingin main ke pantai cukup berjalanan kaki saja sekitar 10-15 menit atau 2-3 KM saja. Bagi sebagian besar banyak yang tak mengetahui kampung saya ini. Kalau di Sumatera Barat yang terkenal kota Padang, Bukit Tinggi, ataupun Padang Panjang. Jangan salah, kini kampung saya menjadi tempat destinasi wisata. Saya ingin kembali ke kampuang, setelah kurang lebih 12 tahun tak mengunjunginya. :) Jika ingin pulang, masih ada om dan tante serta adik nenek saya di sana serta keluarga lainnya. 

Di sana keluarga saya masih memiliki rumah kayu khas padang seperti rumah gadang yang usianya sudah ratusan tahun dan rumah ubin. Rumah kayu yang dihuni oleh nenek saya, saat masih kecil dan yang jadi saksi kunci saat jaman penjajahan Jepang dulu. Rumah itu yang jadi tempat silaturahim para keluarga saat berkunjung.  

Saat gempa terjadi tahun 2009 itu mengakibatkan rumah kami hancur pada bagian belakang. Belum lagi rumah om saya di Padang, juga ikut hancur hanya bersisa ruang tamu saja. Kami tak bisa menghubungi siapapun di sana karena jaringan telekomunikasi terputus selama beberapa hari. Hanya memantau lewat saluran TV. Posisi rumah kami yang sangat dekat dengan pantai, membuat goncangan gempa sangat terasa apalagi berpotensi tsunami. Namun rumah kayu kami tetap kokoh berdiri. :) Pascagempa saya dan keluarga masih belum berkesempatan untuk kembali pulang ke sana menikmati indahnya pantai dan alam sekitar.. 

Mendengar Padang mungkin semua masyarakat Indonesia bahkan luar negeri menyukai masakan khas kota ini. Di mana-manapun bertebaran rumah makan padang. Mulai dari makanan favoritnya rendang, gulai, balado, lontong padang, dendeng batokok, soto atau sate padang. Dalam keseharianpun saya tak bisa lepas dari salero tersebut. Setiap hari akan selalu ada hidangan khas Padang di meja makan. Faktanya, karena kami berasal dari keluarga asli Minangkabau. 

Bicara soal kebudayaan urang Minang, kami memiliki kebudayaan yang beragam. Merantau adalah sebuah keharusan bagi kaum laki-laki Minang. Pepatah Minang yang mengatakan Karatau madang dahulu, babuah babungo alun, marantau bujang dahulu, di rumah paguno balun (lebih baik pergi merantau karena di kampung belum berguna) mengakibatkan pemuda Minang untuk pergi merantau sedari muda. Kini wanita Minangkabau pun sudah lazim merantau. Tidak hanya karena alasan ikut suami, tapi juga karena ingin berdagang, meniti karier dan melanjutkan pendidikan. Minangkabau memiliki suku-suku di antaranya, piliang, chaniago, sikumbang, koto, panai, dan sebagainya. Saya bersuku panai. Itu mengapa saya lebih dikenal dengan nama @dedepanai; dedeph adalah nama panggilan saya, panai adalah suku di mana saya berasal. Dalam budaya Minangkabau ini menganut sistem Matrilineal di mana garis keturunan dirujuk kepada ibu yang dikenal dengan Samande (se-ibu), sedangkan ayah mereka disebut oleh masyarakat dengan nama Sumando (ipar) dan diperlakukan sebagai tamu dalam keluarga. Untuk bahasa sehari-hari urang Minang menggunakan bahasa Minang yang juga memiliki bahasa yang beragam sesuai dengan daerahnya masing-masing. Mulai dari bahasa, cara pengucapan, arti, serta kecepatan dalam melafalkannya. 

Pada kesenian di budaya Minang, ada talempong, salah satu alat musik pukul tradisional Minangkabau. Biasanya talempong sering terdengar saat acara besar, seperti pernikahan adat.  Ada tari-tarian yang biasa ditampilkan dalam pesta adat maupun perkawinan. Di antara tari-tarian tersebut misalnya tari pasambahan merupakan tarian yang dimainkan bermaksud sebagai ucapan selamat datang ataupun ungkapan rasa hormat kepada tamu istimewa yang baru saja sampai, selanjutnya tari piring merupakan bentuk tarian dengan gerak cepat dari para penarinya sambil memegang piring pada telapak tangan masing-masing, yang diiringi dengan lagu yang dimainkan oleh talempong dan saluang. Satu lagi yang terkenal adalah silek atau silat Minangkabau merupakan suatu seni bela diri tradisional khas suku ini yang sudah berkembang sejak lama dan berkembang juga di luar negeri. 


Bagi yang sudah melancong ke sini mungkin sudah ada yang mengunjungi Lembah Harau, Lembah Anai, Ngarai sianok, Pantai Padang, Jam Gadang Bukit Tinggi, Istana Pagaruyung, Danau Singkarak, Danau Maninjau, dan berbagai obyek wisata lain. Kabupaten Pesisir Selatan pun tak sedikit pula menghadirkan objek wisata, di antaranya Pantai Carocok Painan, Bukit Langkisau, Jembatan Akar Bayang, Air Terjun Bayang Sani, dan Bukit Mandeh. Sumber: > travel kompas <;

Sebagian besar masyarakat minangkabau adalah pedagang atau pengusaha, Itu kenapa tak jarang orang lain menyebutkan kami sebagai yang jago menjual apapun. Apapun bisa dijadikan barang dagangan. Begitulah kurang lebih bahasanya. hehehhe *masih dalam konteks barang dagangan* Selain itu masyarakat minang juga hidup sebagai sastrawan dan politisi.

Soal hidup saya yang senang merantau. Bukan kami kalau tak merantau. Saya senang untuk menyusuri setiap kota dengan budaya yang berbeda. Tak heran jika saya bisa mengusai berbagai macam bahasa daerah. Nomadenlah istilahnya begitu. Tapi semoga sekarang akan nomaden. hehehe 



Rindu.. itulah yang ingin saya katakan saat ini, merindukan untuk balik kampung. Sekedar nostalgia, mengingatkan akan keaslian saya pada adat ini. Menikmati suara alunan pantai dan pemandangan bukit sekitar. Lalu mampir ke Pekanbaru kota di mana ayah saya dibesarkan dan keluarga besar ayah saya tinggal. Inilah aku dengan berbagai pengalaman tinggal di kota lain dan kampung halaman yang jauh di mata. *Kampuang Nan Jauh di Mato* Semoga segera menjelajahi kampung tercinto, Sumatera Barat.

*cheers!* Syukriya* :) 

gambar:http://www.kelilingnusantara.com/wp-content/uploads/2014/04/Rumah-Gadang-Istana-Pagaruyung-Sumtra-Barat.jpg dan https://wisatapainan.files.wordpress.com/2012/04/pantai-carocok-painan44.jpg

8 komentar:

evasrigustiya mengatakan...

asyik ya, banyak pindah banyak temen, banyak yg jadi keluarga juga kayaknya.... aku baca nya kayak belajar antropologi teh hehehhe...

Jejak Katumbiri mengatakan...

Selalu ingin berkunjung ke Sumatera Barat. Semoga tahun ini tercapai. Makasih ya sharingnya..jadi makin pengen kesana :D

.dedeph. mengatakan...

hahhaa jadi blajar sejarah ya? ✌ iya alhamdulillah jadi byk keluarga baru, teman ada tersebar di penjuru jawa sumatera. haha

.dedeph. mengatakan...

ayoooo teh. berkunjung ke sumbar. kota nan elok 😄

Chika Hs mengatakan...

Keren.. Merantau dr jaman SMA... (y)

sutanrajodilangik mengatakan...

Haaaaa, samo-samo urang awak... *toss

.dedeph. mengatakan...

hehehe sejak dulu teh...

.dedeph. mengatakan...

hahhaa iyooo ✌