Jumat, 24 Februari 2017

CerPen: Air Mata Ayah

Posted by with 5 comments
Pagi ini aku bahagia sekali. Sudah 27 tahun aku menikah dengan istriku, Dena. Tidak terasa waktu semakin lama semakin cepat. Kali ini semua terasa sangat istimewa. Tepat di hari ini, anakku satu-satunya Rahma dilamar kekasihnya. Kekasih yang selama 6 tahun ini bersamanya. Lelaki yang dikenalnya saat duduk di bangku kuliah. Selama ini aku mengenal Fajar sebagai laki-laki yang baik, yang bisa membuat Rahma bahagia dan melindunginya saat aku tak berada di sampingnya. Aku berharap selamanya. Mungkin bagiku ini adalah hal yang paling berat. Melepaskan anak perempuan yang selama ini tumbuh bersama aku dan istriku. Aku tahu bagi seorang ayah ini takkan pernah mudah, takkan ada lagi senyum Rahma yang ku lihat setiap kali aku akan berangkat kerja. Rasanya ini terdengar seperti berlebihan, karena Rahma pasti akan selalu datang ke rumah ini, tapi tak setiap hari. Fajar saat ini bekerja di luar kota dan Rahma akan mengikutinya. Aku kadang berpikir apakah aku berlebihan? Sebagai seorang ayah harusnya aku bahagia, bukan sedih karena anaknya akan dipinang laki-laki pilihannya.

Rahma adalah seorang gadis manis yang tumbuh dari seorang akuntan di perusahan swasta. Aku bersyukur dengan kehidupan yang serba berkecukupan aku bisa menyekolahkannya sampai kini dia menjadi seorang arsitek lulusan terbaik di kampusnya. Dia tidak pernah mengeluh, tidak pernah meminta banyak, dia hanya memintaku untuk tetap tenang dan selalu sehat. Itu mengapa aku begitu menyayanginya. Sudah 25 tahun gadis kecilku kini. Gadis yang selalu tersenyum disaat keadaan apapun.

“Rahma, ayah bahagia memilikimu.” “Rahma juga ayah. Memiliki ayah hebat  ayah itu rahasia rahma selalu bahagia, yah”.

Ini adalah anugerah Tuhan yang tak pernah aku lupakan, memiliki Rahma. Sejak dulu aku berjuang untuk selalu bisa membuatnya bahagia. Yang selalu aku ingat sampai sekarang setelah umur dua tahun dia memintaku untuk merayakan ulang tahunnya setiap tahun. Dia tidak memintaku untuk merayakan bersama orang-orang atau teman-temannya. Dia menyiapkan sendiri kue dan lilinnya dan meminta kami untuk duduk bersama meniupkan lilin. Betapa aku mencintainya Tuhan. Itu masih kami lakukan sampai ulang tahun ke-25.

     “Yah, kita tidak perlu mengajak siapapun dihari ulang tahun Rahma yang ke-17.
     Aku hanya ingin kita duduk bertiga saja, berdoa bersama dan meniupkannya
     bersama. Bahagia itu sederhana kok yah, bun. Memilikimu adalah harta terbesar
     Rahma.”

Dan yang selalu aku ingat ketika dia dan ibunya bercanda lalu ibunya sedikit ngambek, dia datang tidur dipangkuanku.

     “Yah, bunda marah tuh gara-gara aku bercanda dan ledekin bunda. Bantu aku ya
       yah supaya bunda gak ngambek lagi.”

Begitulah setiap saat ketika bercanda dan ibunya lagi sensitif lalu ngambek, akulah menjadi penengah mereka. Rasanya kebersamaan ini yang mungkin lambat laun akan hilang dalam kehidupanku. Seandainya saja Fajar tidak bekerja di luar kota, mungkin kebersamaan ini takkan memudar. Aku selalu takut, takut kehilanganmu.

Ini hari dimana kamu dilamar kekasihmu. Ayah sedih nak. Perasaan ayah bercampur aduk. Hari ini ayah harus memutuskan apakah ayah menerima pinangan kekasihmu.

     “Yah, ayah itu tidak boleh sedih. Rahma akan baik-baik saja. Doakan saja supaya
     aku bisa sekuat ayah dan bunda menjalani rumah tangga ini. Aku hanya minta
     restu dan doa dari ayah dan bunda”.

Mungkin kata-kata yang selalu membuatku tegar untuk dapat menjalankan semua acaranya sampai akhir. Satu demi satu acara berlalu. Akhirnya ku menerima pinangan Fajar. Rahma menunduk dan meneteskan air mata kemudian menyandarkan kepalanya di bahuku dan mengenggam tanganku erat.

     “Terima kasih banyak yah....”

Keadaan ini yang tidak mau aku bayangkan. Aku hanya membiarkan waktu yang akan menunjukkan dan melewatinya. Kami memutuskan untuk mengambil tanggal pernikahan yang akan dilangsungkan dua bulan setelah lamaran ini. Rahma dan Fajar sudah mempersiapkan dengan baik setiap detail pernikahannya. Aku hanya menunggu apa yang dibutuhkan Rahma. Katanya aku tidak usah memikirkan semuanya. Biarkan saja dia yang mempersiapkannya, aku hanya memberikan beberapa saran-saran.  Aku merasa dia merasa begitu bahagia.

Setiap hari Dena istriku menangis. Setiap aku tanya,dia hanya menjawab.

“Aku hanya sedih, waktu begitu cepat berlalu... Tanpa terasa Rahma tumbuh
menjadi perempuan, gadis yang begitu mempesona.” Dia memelukku erat.
“Aku tahu ini titipan yang paling sempurna yang telah Tuhan beri, termasuk memiliki kamu, yah. Aku takkan pernah tahu apa jadinya aku tanpa kamu. Kamu memberikan semua kebebasan itu, ikhlas menerima semuanya dan tetap untuk bersamaku hingga Rahma akan menikah.”
“Kita memang hidup serba berkecukupan tapi memiliki Rahma saat itu membuat hidup kita lebih dari cukup.”

Dena, terus menerus meneteskan air mata. Dia terus menyandarkan kepalanya padaku. Ini mengapa aku begitu takut kehilangan.

     “Percaya padaku, Den. Semua akan berakhir indah.”

Tuktuk...
     “Ini aku Rahma yah bun..”
Rahma memeluk kami erat sekali. Sesekali dia menatap kami. Menghapus air mata yang jatuh di pipi kami dengan tangannya.
     “Sampai kapanpun, Rahma akan tetap mencintai kalian. Apapun keadaannya
     Rahma akan tetap ada di sini. Percaya padaku, walau nanti aku jauh tapi kalian
     akan tetap di hatiku. Karena aku selalu berdoa agar selalu dekat dengan kalian.”

***
Dua bulan terasa begitu cepat. Besok hari pernikahan anakku. Dia tampak tetap tenang. Semua persiapannya sudah matang. Aku hanya mempersiapkan mental dan hatiku untuk hari bahagia Rahma.
     “Yah, doakan aku besok ya.. Aku gak ingin lihat ayah dan ibu sedih. Besok kita
     harus bahagia ya.. Maafkan aku kalau selama 25 tahun ini selalu menyusahkan
     ayah, membuat ayah harus mengakurkan aku dan bunda kalau lagi berantem.” Dia tersenyum manis sekali.
     “Iya anakku.... Kayaknya ayah jarang-jarang nih liat kalian berantem” sambil
     kupegang kepalanya.
     “Ah... ayah”
     “Bunda... Maafkan aku kalau selama ini kita selalu sering berantem, buat bunda
     ngambek karena sering ledek-ledekan dengan Bunda, terus bunda kalah ngambek
     deh”
     “Rahma... Bunda hanya menitipkan ini” ku letakkan tanggannya tepat di dadanya
     “Bunda nitip, supaya kamu selalu jaga hatimu dimana pun kamu berada. Tetaplah
     istiqamah. Jadilah perempuan yang hebat untuk suami dan anak-anakmu. Selalu
     perbaiki diri dalam hal apapun..”
     “Iya bunda... aku selalu ingat semua pesan-pesan bunda. Selalu tersimpan disini,
     hati dan pikiranku.. Aku ingin sepertimu, Bunda. Wanita hebat dan tegar.”

Airmata keduanya tiba-tiba jatuh. Rahma memegang tangan Dena dan memeluknya erat. Tuhan, rasanya kebahagian ini rasanya terlalu cepat berlalu. Aku berharap ini tetap ada di keluargaku.

***
     “Doakan aku Ayah!”

Itu kata-kata yang pagi ini aku dengar. Dia terlihat sangat cantik mengenakan kebaya berwarna abu-abu. Tuhan berilah aku kekuatan, sekuat perjalanan hidup ini. Fajar tampak gagah bersiap untuk menyunting putri kesayanganku. Fajar terlihat begitu gugup dan cemas.  Prosesi akad nikah tinggal sejam lagi. Aku belum lagi melihat putriku. Aku duduk diantara barisan keluarga. Perasaan deg-degan muncul dari tadi subuh hingga saat ini.

Fajar kini duduk di antara penghulu, wali dan juga para saksi. Hatiku semakin tak menentu. Ya Tuhan aku harus kuat.

     “Ingat ya yah, ayah jangan tegang dan tetap kuat. Aku mencintaimu.”

Rahma, rasanya ayah begitu tak kuasa. Diapun keluar dari kamarnya duduk bersanding tepat disebelah Fajar. Prosesi akan segera dimulai.

Aku duduk di depan Fajar. Menatap keduanya begitu bahagia. Akupun berurai air mata. Istrikupun demikian.  Fajar menjabatkan tangannya. Wali hakimpun menerima jabatan tangannya. 

     “Tuhan, aku tahu ini tak mudah untukku, tapi ijinkan aku untuk tetap tersenyum
     dihadapan mereka. Memberikan doa yang tulus. Merawat, membesarkan,
     menjaga dan menyekolahkannya sudah aku lakukan hingga mengantarkannya ke
     hari pernikahnnya. Semua ini hanya titipanmu yang harus aku jaga.”
     “Bagi orang lain ini terlihat aneh. Mengapa bukan aku yang berjabat tangan
     dengan Fajar. Iya, aku bukanlah ayah kandung Rahma. Kami hanya dititipkan
     Tuhan untuk menjaganya dari bayi hingga dewasa. Istriku, Dean tidak bisa
     memberikan aku  keturunan. Tapi aku tak pernah menyesali karena aku telah
     memilihnya untuk mendampingi sepanjang hidupku. Aku bahagia memiliki istri
     seperti dirinya. Kuat, tegar dan ikhlas. Bagiku dia istri yang luar biasa.“
     “Mungkin hari ini adalah hari terberat yang harus dia rasakan, melepas putri
     kesayangannya. Sekali lagi aku bahagia karena memiliki Dean dan Rahma.”

Fajar mengucapkan dengan sangat fasih. Aku melihat Rahma menatapku lama sekali. Mengisyaratkan bahwa, dia akan baik-baik saja. Setelah selesai, Rahma beurai air mata sesekali dia menatapku dan memberikan senyuman.

“Ayah,,, terima kasih banyak.  Aku pernah berharap ayahlah yang bisa menjabat tangan Fajar. Melepaskanku dan memberikanku pada Fajar, tapi aku tahu Tuhan selalu memberikan kebahagian yang tak pernah diduga oleh kita. Ayah dan Bunda tahu tidak apa itu? Memiliki kalian itu hal yang paling indah yang tak pernah terpikirkan olehku. Aku tahu dan aku menerimanya dengan penuh kebahagiaan. Terima kasih atas semua pelajaran hidupnya. Aku ingin sepertimu, Bunda. Sekuat batu karang menghadapi kerasnya kehidupan. Aku ingin sepertimu, Ayah. Setulus engkau mencintai bidadari-bidadari hidupmu.”

Itu mengapa aku selalu bersyukur walau aku selalu berharap aku bisa menikahkan anakku sendiri. Tuhan punya rencana yang jauh lebih indah dari hari ini.  J
Aku menitipkannya padamu, Fajar. Jaga dia seperti aku menjaganya. Menjaga hati dan senyumnya... 


gambar dari: https://gedubar.com/wp-content/uploads/2016/12/kaper-ayah.jpg

5 komentar:

nhae gerhana mengatakan...

Arti sebuah ketulusan yaaa.. Gak nyangka ternyata bukan ayahnya :)

.dedeph. mengatakan...

@nhae: mba...terima kasih ya sudah berkunjung.. hihii iyaaa

immaimang mengatakan...

begitu yaa perasaan orangtua ketika anaknya menikah. Saya kepikiran, tapi tak sedalam itu... Salam kenal

Jejak Katumbiri mengatakan...

Ahh...so sweet..walopun ternyata bukan anak kandung 😢

Tatat

.dedeph. mengatakan...

@immaimang: huhu iya.. terima kasih sudah berkunjung
@mb tatat: hehehe iya. mencari sesuatu yg berbeda :)