Sabtu, 13 Mei 2017

Critical Eleven: Cinta Utuh Ale dan Anya

Halo rasanya saya sudah lama sekali tidak membuat resensi film Indonesia. heehhee ya mungkin saya belum menemukan film yang "berkelas" yang saya bisa jadikan referensi tontonan. Iya kali ini saya akan mencoba membuat resensi atau mereview film Indonesia. Ini bukan spoiler tapi buat kalian penasaran menonton.

Saya sangat antusias ketika film ini akan dijadikan film layar lebar.  Saya termasuk penggemar novel-novel mbak Ika Natassa yang berasal dari kota Medan. Novelnya sederhana tapi bermakna. Tentunya ekspektasi saya cukup tinggi terhadap film ini. Film yang diadapatasi dari novel berjudul yang sama ini, membuat para pecinta novelnya tak sabar ingin segera menontonnya. Critical Eleven itulah judul film yang kini sedang digandrungi para penonton Indonesia khususnya para pemuda/i. Film ini tanyang pada tanggal 10 Mei 2017 di semua bisokop di Tanah Air. 

Critical Eleven ini diambil dari istilah penerbangan, yaitu sebelas menit paling kritis di pesawat. Momen critical eleven adalah tiga menit setelah lepas landas, dan delapan menit sebelum mendarat. Secara statistika, 80% kecelakaan pesawat terjadi dalam rentang sebelas menit tersebut. Kemudian, Ika Natassa memaknai istilah ini pada hubungan manusia lewat novel Critical Eleven. Saat pertemuan pertama, tiga menit awal adalah masa untuk menimbulkan kesan baik atau buruk, sedangkan delapan menit terakhir menjadi momen penentuan. Apakah ingin bertemu dan mengenal lebih jauh lagi, atau malah tidak ingin untuk bertemu lagi. 

Sebelum pemilihan karakter Aldebaran Risjad (Ale) dan Tanya L. Baskoro (Anya) saya sudah memprediksi bahwa yang memerankan adalah Reza Rahadian dan Adinia Wirasti. Rasanya espektasi saya pada film ini semakin tinggi, karena keduanya sama-sama adalah para pemain film yang terbaik di Indonesia. Saya pernah menonton chemistry Reza dan Asti di film sebelumnya, yaitu pada Jakarta Maghrib (2010) dan Kapan Kawin (2015) yang menurut saya mereka sangat pas dipasangkan dalam film kali ini. 

Ketika film ini akan ditayangkan menjadi layar lebar, tentu ada beberapa bagian-bagian yang tidak diambil menjadi sekuel di film. Begitupun dengan beberapa penambahan karakter-karakter baru dalam film. Ada beberapa hal yang diubah, namun jalan cerita dalam novel bisa tersampaikan dengan baik pada film ini.  Menurut saya film ini berhasil diadaptasi dan dikemas dengan baik oleh tim penulis skenario yang ditulis oleh Jenny Jusuf, sutradara Monty Tiwa, dan juga produser Legacy Pictures Robert Ronny sekaligus sutradara, serta penulis novel Critical Eleven Ika Natassa. Keempatnya berhasil menuangkan tokoh yang berawal dari fiktif menjadi nyata.

Pesawat menjadi tempat bertemu untuk pertama kalinya Anya Baskoro (Adinia Wirasti) dan Ale Risjad (Reza Rahadian) pada sebuah penerbangan dari Jakarta menuju Sidney. Bagi Anya, bandara adalah rumah keduanya karena pekerjaannya sebagai Konsultan Keuangan Senior, tetapi sebenarnya dia takut terbang. Sementara itu, Ale memiliki hidup di rig atau pengeboran minyak lepas pantai yang membuat dia jarang sekali untuk pulang ke Indonesia. Takdir mempertemukan mereka untuk sama-sama meninggalkan kesan baik dan jatuh cinta. Tiga menit pertama, mereka langsung asyik berbincang. Delapan menit terakhir, mereka menjadi teman baik. Keduanya lantas menikah dan pindah ke New York, tempat Ale bekerja di sebuah kilang minyak. Sejak awal, penonton akan dengan mudah jatuh cinta melihat kemesraan Reza dan Asti saat mereka pertama kali bertemu di pesawat. Kota New York ternyata membawa berkah bagi keduanya: kehamilan Anya yang mengubah hidup mereka.

Ale adalah sosok suami yang mencintai anya dengan keadaan apapun, sekalipun Anya hanya bisa memasak telur dadar. Namun, ale tetap mencintainya. Tak banyak menuntut.  Anya yang independent tidak membuat Ale merasa tersaingi. Anya seorang istri yang rela menunggu suaminya berbulan-bulan untuk kembali ke rumah. Nah suatu ketika, Ale dan Anya diterjang sebuah insiden yang membuat mereka tidak hanya mempertanyakan cinta, namun juga bergejolak dengan ego dan harus memilih atara menyerah dalam amarah atau menyembuhkan luka dan bertahan dalam ketidakpastian. Pilihan sulit itu bertambah pelik dengan kehadiran seseorang yang sudah lama mencintai Anya. [1] Ketika sebuah kata bisa membuat luka dalam hati. Perubahan sikap keduanya juga membuat hubungan mereka menjadi "hambar". Ketika keduanya saling menyalahkan dan berusaha bangkit dari kejadian masa lalu untuk menghadapi masa depan mereka.



Oh iya film ini adalah film kategori dewasa, 18++, sebaiknya tidak membawa anak di bawah umur 18 hehe. Film yang berdurasi 135 menit ini mampu menghadirkan karakter Ale dan Anya yang natural dan berhasil membuat perasaan penonton seperti naik rollercoaster. Selain karena terus dibuat jatuh cinta, iri dengan keromantisannya, penonton juga bisa ikut hanyut dalam merasakan kepedihan, kemarahan, dan kerapuhan yang dirasakan Ale dan Anya. Naskah yang kuat, didukung ekspresi para aktor dan aktris, membuat Critical Eleven menjadi film drama romantis yang seru untuk ditonton. Keduanya berhasil membuat penonton terbawa perasaan saat Ale dan Anya dalam kebahagian, kesedihan hingga berlinang air mata. Selain Reza dan Asti ada Slamet Rahardjo dan Widyawati membuat film ini menjadi paket lengkap yang kuat secara watak dan juga jalan ceritanya. Ada pemain pendukung lainnya yang menguatkan film ini menjadi lebih hidup. Ada sedih, tawa, kecewa, dan kemudian berujung kebahagian.

Soundtrack berjudul Sekali Lagi yang dibawakan penyanyi Isyana Sarasvati juga berhasil membuat nuansa romantis dan dramatis dibangun oleh film ini. Lirik dan juga suara khas Isyana mampu menarik hati para penonton hanyut dalam karakter keduanya.

Aku tak bisa terus begini, aku tak bisa mengatakan yang sesungguhnya Tak bisa menunggu lagi, pesan ini ku sampaikan sekali lagiKu beri kesempatan terakhirmu.

Film ini menceritakan sebuah hubungan antara suami dan istri dalam menjalani kehidupannya. Hidup seperti roda yang terus berputar. Walau saya belum berumah tangga, setidaknya saya bisa juga mengambil banyak pelajaran dari film ini.  hehe :D Critical Eleven adalah cerita cinta sederhana yang menjadikannya utuh dalam kekuatan cinta di dalamnya. Sesulit apapun masalah dan sekeras apapun keadaan selagi masih ada cinta dan menjaga komitmen, semua itu bisa teratasi bersama. Karena cinta takkan pernah salah memilih. Selamat untuk Reza dan Asti yang sudah menghidupkan tokoh Ale dan Anya dan semua tim CE termasuk mba Ika yang sudah membuat novel cantik ini ;)

Best Quotes:
"Orang yang membuat kita paling terluka biasanya adalah orang yang memegang kunci kesembuhan kita.” -Tara

"Istri itu seperti biji kopi. Kalau kita sebagai suami yang membuat kopi – memperlakukannya tidak tepat, rasa terbaiknya tidak akan keluar.” -Ayah Ale, Jend. Risjad

"Kalau aja rasa cinta aku sebesar Ale mencintai Anya, aku takkan pernah takut merasa kehilangan" -Harris Risjad 



Critical Eleven | 2017 | Sutradara: Monty Tiwa & Robert Ronny| Penulis skenario: Skenario Jenny Jusuf, Monty Tiwa, Robert Ronny, Ika Natassa  | Pemain: Reza Rahadian, Adinia Wirasti, Slamet Raharjo, Widyawati Sophiaan, Revalina S. Temat, Refal Hady, Astrid Tiar, Hanna Alrasyid, Hamish Daud,  dll.





Share:

7 komentar:

immaimang mengatakan...

Baru lihat liputan di Metro, makin pengen lihat .
Reviews yang bagus, salam kensl

immaimang mengatakan...

Baru lihat liputan di Metro, makin pengen lihat .
Reviews yang bagus, salam kensl

.dedeph. mengatakan...

hehhe ayo nonton di bioskop ya. rasakan ke baperan saat selesai menontonnya.

salam kenal 🙏. Terima kasih sudah berkomentar yaaa

Nhae Gerhana mengatakan...

malem sabtu kmren nonton.. dan sukses dibikin bapeeer..eeeaa

Rinda Gusvita mengatakan...

Huhuuuu asli akspektasi utk film ini emang tinggi banget.

.dedeph. mengatakan...

iyaaa 😄👏👏
good job. bakal jadi box office di Indonesia nih..

.dedeph. mengatakan...

iya mbaa.. untungnya novel dan filmnya gak meleset jauh. Ale Anya jadi hidup krn mereja berdua. ☺

Film indonesia yg buat saya pengen nonton lagi heu