Traveling ke Malaysia: Menyusuri Masjid Jamek, Menara Petronas, dan Bukit Bintang [Part 2]

Haaii setelah membahas perjalanan saya sebelumnya tiba di Kuala Lumpur beserta tips dan triknya mari kita masuk ke destinasi pertama saya di sana ya. Harusnya hari pertama kami bisa mengunjungi beberapa destinasi, karena ada permasalahan pada saat check-in maka waktu kami banyak yang terbuang. Akhirnya di waktu yang terbatas kami memutuskan untuk memilih tiga tempat yang menjadi "hits" di Kuala Lumpur.

Pertama, kami mengunjungi tempat bersejarah umat islam di sana,  Masjid Jamek Sultan Abdul Samad. Masjid Jamek atau Jami Sultan Abdul Samad terletak di Jalan Tun Perak, City Centre, 50050 Kuala Lumpur, Wilayah Persekutuan Kuala Lumpur, Malaysia. Masjid ini merupakan masjid yang tertua di Kuala Lumpur. Masjid ini dibangun pada tahun 1909 oleh Arsitek asal Inggris, Arthur Benison Hubback yang tertarik merancang masjid dengan gaya arsitektur Mughal Muslim India. [1] Masjid ini terletak di antara pertemuan Sungai Klang dan Gombak. Jika anda turun di Stasiun Masjid Jamek akan terlihat sungai yang menghubungkannya. Masjid ini persis di sebelah tempat anda keluar dari LRT Masjid Jamek. Saat pertama datang ke masjid ini anda akan disungguhkan dengan tampilan gaya Arab India. Ada beberapa pohon kelapa yang mengitari masjid ini. Di dalam anda akan merasakan berada di Mekah dan berada diantara sungai biru yang indah. Alhamdulillah, kami tiba pukul 19.30an waktu KL di mana adzan magrib sedang berkumandang dan menikmati alunan suara imam yang merdu. Oh iya sebagai informasi untuk yang perempuan diharuskan menggunakan hijab atau minimal baju panjang dan pashmina untuk menutupi rambut, karena penjagaan di sini agak ketat. Kalau yang laki-laki harus pakai celana panjang ehee Kalau tidak, ya tidak boleh memasuki area dalam masjid.

halaman depan Masjid Jamek


Masjid Jamek dari Stasiun dan malam hari 


Untuk menuju ke sana  naik RapidKL LRT dari KL Sentral Stasiun dengan menggunakan rute Kelana Jaya Line dan turun di Masjid Jamek Stasiun. Single tiket dengan menggunakan mesin tiket seharga 1,6 RM. Saat itu kami ingin menggunakan kartu Touch n Go namun karena sedang habis maka kami menggunakan tiket sekali jalan menggunakan koin biru. Untuk daftar harga per tujuan bisa liat di website RapidKL. Nah, sebelum datang ke tempat yang ingin dikunjungi bisa unduh peta RapidKL di KL City Guide.

Gambar dari: KL City Guide



Setelah sejenak menenangkan hati dan pikiran di Masjid Jamek kami berlanjut menuju Kuala Lumpur City Centre (KLCC) untuk melihat maskot dari Kuala Lumpur ini. Menara kembar Petronas. Untuk mencapai Menara Petronas, naik LRT  RapidKL dari Stasiun Masjid Jamek dan turun di Stasiun KLCC dengan waktu tempuh sekitar 10 menit dan ongkos RM 1,9. Setelah tiba di stasiun KLCC anda perlu berjalan sedikit sekitar 5-10 menit untuk menuju komplek KLCC. Jika anda merasa bingung alangkah lebih baik bertanya pada petugas di sana :D supaya tidak tersasar seperti kami. Karena anda akan tiba di Mall KLCC. Setelah sampai di depan Mall, anda bisa memilih untuk jalan menuju area mall atau area depan Menara Petronas ini. Jika ingin terlihat sempurna anda bisa menggunakan area pinggir dari Mall. Jaraknya mungkin sekitar 1 Km. Jika ingin melihat air mancur dan hanya ujung menara anda bisa mengambil akses Mall SURIA KLCC. Jika ingin naik ke menara tersebut akan dikenakan biaya RM 85 😁 Kalau saya sih asal udah lihat dan foto-foto sudah oke. Menara Petronas atau Menara Kembar Petronas (bahasa Melayu: 'Menara Berkembar Petronas') di Kuala Lumpur Malaysia adalah sepasang menara kembar yang pernah menjadi bangunan tertinggi di dunia pada tahun 1998-2004, sebelum dilampaui oleh Burj Khalifa dan Taipei 101.  Di bawah bangunan ini, terdapat sebuah Taman KLCC seluas 17 acre (69.000 m2) yang menyediakan jalur untuk berjoging dan berekreasi, kolam air mancur yang dihiasi pertunjukan cahaya, kolam rendam, dan arena bermain anak-anak. Suria KLCC adalah salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Malaysia. [2]







Setelah puas untuk berfoto malam hari di Menara Petronas kami memutuskan untuk mengisi kekosongan hati, eh perut 😛 Kami memutuskan untuk menuju Bukit Bintang. Untuk menuju Bukit Bintang kami menggunakan bus GOKL (gratis) Rute Hijau (KLCC – Bukit Bintang). Perjalanannya memakan waktu hampir 10-15 menit. Bus GoKL ini memang dipersiapkan secara gratis khususnya untuk paara wisatawan yang berkunjung ke sana. Untuk rute yang dilewatinya bisa cek di sini. Bukit Bintang juga menjadi salah satu destinasi wisatawan datang ke Kuala Lumpur. Bukit Bintang Kuala Lumpur merupakan pusat perbelanjaan, kafe al-fresco, bar, pasar malam, serta restoran jenis jajanan.[3] Nah, Arab Street ini juga berada di kawasan Bukit Bintang, banyak penduduk keturunan Arab yang tinggal di daerah ini. Tujuan kami bukanlah untuk berbelanja tapi mencoba menyusuri kawasan pasar malam dan jajanan malamnya, lebih tepatnya ke Jalan Alor. Untuk menuju kawasan ini, kami berjalan sekitar 500 m-1 km. Sepanjang perjalanan kami banyak melihat banyak penjual yang berjualanan disepanjang jalan, mulai dari jual pernak-pernik, makanan, baju, dan lainnya. Oh iya, untuk mencari makan di Jalan Alor cukup susah. Di sana mayoritas menjual masakan chinese food non halal. Nah, kalau mau berkunjung ke sini harus sudah tahu mau makan di restoran mana. Tak banyak yang menyajikan menu halal di sini. Mungkin karena sudah sangat lapar, kami tak menemukan restoran yang kami cari. Akhirnya kami menemukan restoran halal dan banyak orang muslim yang makan di sana.  Ternyata rumah makan Noy THAI bersebelahan dengan restoran kami. hahhaa. Saya mendapatkan rekomendasi dari suami teman saya yang orang KL bahwa Noy THAI juga bisa menjadi alternatif untuk makan halal di Jalan Alor.


bersama #UPIHKICrew

Setelah selesai makan tak terasa waktu menunjukkan pukul  setengah 12 malam. hahaa 😁 Semua transportasi di sini berhenti beroperasi pada pukul 11 malam. Akhirnya kami memutuskan untuk menggunakan transportasi online. Butuh beberapa kendaraan untuk mengangkut kami semua. Di Bukit Bintang pada jam 11-12 masih terlihat macet dan masih banyak orang yang beraktivitas di sana, mungkin karena menjadi pusat belanja dan hiburan. Kami tiba di penginapan sekitar 12 malam. Ternyata jarak Jalan Alor menuju penginapan kami tidaklah terlalu jauh.

Bagaimana dengan hari ke-2 kami di Kuala Lumpur ya? Setelah seharian full energi kami terkura. Beruntungnya saya sudah minum Milo panas pas makan malam hahahaa *milo Malaysia. 💪 Tunggu cerita selanjutnya ya...

..to be continued..


Part 1 Tips Tanpa Guide



Dwi Arum mengatakan...

Konon katanya sulit ya untuk mendapatkan foto hingga puncak petronasnya terlihat sempurna, hee

.dedeph. mengatakan...

iyaa bangeeett :)
susah, karena terlalu tinggi ahahaa

andyna andyna mengatakan...

Mesti bawa lensa super lebaaaarrrr.... Hahahaha... Lanjutin lagi ceritanya...

.dedeph. mengatakan...

tapi aku dapet sih puncaknya, tapi dengan beberapa kali jepret hahaha

siiappp ditunggu :)

Unknown mengatakan...

mbaaaak, lanjutannya dooong.
pengen baca edisi s'pore nyaaa, hehee

dedeph mengatakan...

silakan baca di part 4 ya. di bawahnya ada part2 sebelumnya http://devifabiola.blogspot.com/2017/11/malaysia-pasarseni.html

dedeph mengatakan...

https://devifabiola.blogspot.com/2017/11/berkunjung-ke-masjid-sultan-singapura.html

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates