Berkunjung ke Masjid Sultan Singapura, Singapore Zam Zam, dan Haji Lane [Part 2]

Setelah berpanas-panasan dari Patung Merlion atau kawasan Merlion, kami berpindah tempat menuju Arab Street/Kampong Glam. Kampong Glam sendiri berasal dari pohon gelam yang dulunya banyak tumbuh di daerah ini. Dahulu, kawasan ini menjadi pusat kerajaan Melayu di Singapura. Sejak tahun 1822 kawasan ini dialokasikan untuk suku melayu dan umat muslim lain termasuk Arab maka tak heran jika kawasan ini memiliki bangunan aristektur yang eksotik dan tersedia kuliner yang lezat khas Arab. [1

Untuk ke Kampung Glam dari Merlion Park, kami kembali menggunakan MRT menuju Stasiun Bugis. Tarif dari Stasiun Raffles Place ke Bugis adalah $0.77. Setelah keluar dari Stasiun Bugis kami memutuskan untuk berjalan kaki sekitar 600 meter dari stasiun menuju Masjid Sultan. Panas terik dan lapar, bagi kami 600 meter adalah suatu tantangan yang harus dilewati.  hehee 😀 Sepanjang perjalanan kami sangat menikmati arti berjalan kaki. Maklum di Indonesia, khususnya Bandung tak ada seistimewa ini untuk para pejalan kaki. Hanya sebagian trotoar saja. Singapura juga terkenal dengan warga yang senang berjalan kaki. Tak ada  sesak polusi udara, tak ada macet, dan tak ada kebisingan. Ini kenapa sejauh apapun jarak di sana, tetap menikmati. Trotoar di sana cukup lebar dan sepanjang perjalanan kaki kami ditemani oleh gedung-gedung tinggi yang tertata apik.

Ketika sampai di perempat jalan kami menemukan titik terang bahwa Masjid Sultan sudah di depan mata. Namun, kami memutuskan untuk mengisi kekosongan perut dulu. Sebagai warga muslim, Singapura termasuk Negara yang cukup sulit mencari makanan halal. Tapi karena kami sedang berada di daerah Bugis, tak begitu sulit menemukan restoran halal. Resto terkenal di daerah ini  ada Hj. Maimunah Restaurant dan Zam Zam Restaurant. Oia, sebagai informasi di kawasan ini juga banyak restoran yang menyediakan masakan Indonesia termasuk Rumah Makan Padang. Akhirnya kami memutuskan untuk makan di Zam Zam Restaurant. Zam zam Restaurant terletak di 697 - 699 North Bridge Rd, Singapore buka setiap hari pukul 7 pagi sampai jam 11 malam. Di sana kami disajikan varian menu khas Arab-India. Makanan yang terkenal dan enak di Zam Zam Restauran, yaitu Nasi Briyani dan Deer Martabak. Bagi yang memiliki perut sempit alias makannya sedikit, pastikan Anda memesan nasi biryani berdua dengan teman, karena porsi di sana sangatlah besar. Lihat ayamnya saja, kenyang. Jumbo hahaha 😋😁 Untuk kisaran harga restaurant ini tak membajak wisatawan alias standar Singapura. Deer Martabak sekitar  SGD 10 untuk ukuran kecil dan SGD 20 untuk yang ukuran besar. Nasi Briyani berkisar SGD 6 sampai 12 per porsi. Mau tahu apa saja menu selain ini, Anda bisa cek di http://zamzamsingapore.com/

 

Selanjutnya karena sudah pukul 2 siang, kami menyebrang jalan menuju Masjid Sultan. Pintu masuk Masjid ini bukanlah yang bersebrangan dengan Zam Zam Restauran. Kami perlu berjalan sedikit lagi ke belakang. Nah sepanjang menuju Masjid Sultan ini Anda akan menjumpai berbagai makanan Indonesia terutama yang rindu Nasi Padang. :D Dekat kawasan ini juga terdapat berbagai macam toko yang menjajakan buah tangan untuk para wisatawan. Untuk masuk ke dalam masjid Anda harus menggunakan pakaian tertutup atau menutu aurat. Namun, pihak masjid juga menyediakan jubah gratis bagi wisatawan. 
 
Masjid Sultan merupakan masjid pertama dan tertua di Singapura. Masjid ini dibangun pada tahun 1824 untuk Sultan Hussein Shah, sultan pertama Singapura. Kemudian pada 1920-an ia dibangun kembali seperti sekarang. Dan kini ia telah direnovasi dan ditetapkan sebagai produk pariwisata Singapura. Masjid ini dirancang oleh Denis Santry dari Swan dan Maclaren, firma arsitektur tertua di Singapura. [2] Masjid ini juga identik Kerajaan Mughal, India. Jika Anda berada di sana, lihatlah lebih dekat kubah berbentuk bawang. Setiap dasar kubah didekorasi dengan ujung botol kaca yang disumbangkan oleh umat Muslim yang kurang mampu selama masa pembangunannya, tidak hanya umat yang kaya saja yang dapat berkontribusi. [3] Alhamdulillah saya berkesempatan untuk melakukan shalat di Masjid ini, arsitektur di dalamnya pun tak kalah indah dengan luar. Arsitek Denis Santry mengadopsi gaya Sarasenik atau gaya Gotik Mughal lengkap dengan menara menggantikan masjid lama yang berarsitektur Indonesia pada masjid sebelumnya. Masjid ini juga dapat menampung sekitar 5.000 jamaah. MasyaAllah.




 


Lalu, karena sudah pukul 4 sore kami memutuskan untuk segera kembali ke Bandara untuk menuju Kuala Lumpur. Kami harus tiba di sana pada pukul 6 sore. Saat itu keinginan saya untuk bisa jalan sekedar melewati Haji Lane Street yang lagi hits. Namun, karena dirasa tak memungkinan maka kami terus berjalan menunju Stasiun Bugis. Tapi Tuhan menakdirkan lain, doa Tour Leader dihijabah hahaha tanpa sengaja kami melintasi kawasan tersebut tanpa pikir panjang maka beberapa aksi swafoto pun dilakukan. Haji Lane terletak  mirip sebuah lorong kecil yang tidak terlalu panjang Untuk penggemar mall ber-AC jalan ini bisa dibilang kurang menarik. Apa yang menarik dari tempat ini? Di sana banyak terdapat toko-toko seperti butik dan café sederhana. Sepanjang temboknya dihiasi oleh lukisan-lukisan artistic cocok untuk spot foto yang lagi hits. :D

 


 Haji Lane
Ternyata kami tidak melewati jalan yang sama menuju Stasiun Bugis. Jaraknya lebih jauh. Mungkin sekitar 150 meter perbedaannya. Stasiun Bugis ini juga cukup luas. Kami masuk melalui alternatif pintu lain yang akhirnya kami jalan cukup jauh untuk sampai di jalur ke Bandara Changi. Kalau tak sekarang kapan lagi bisa jalan-jalan seperti ini kan? hahaha Sayangnya, karena waktunya terbatas kami tak sempat berkunjung ke Bugis Street Junction atau ke Mustafa Centre untuk sekedar berbelanja oleh-oleh. Semoga lain kali saya bisa kembali ke sini. Aamiin. Untuk menju kembali ke Bandara Changi tetap gunakan jalur East West Line tujuan akhir Pasir Ris. Nanti, turun di Tanah Merah lalu naik MRT tujuan Changi Airport  ini membutuhkan waktu sekitar 30 menit dan ongkosnya $1.65.  Untuk itu Anda harus mempersiapkan waktu agar tidak terlambat sampai di Bandara. Destinasi kami ke Orchard Road dan Universal kali ini tidak lah kesampaian. Mungkin lain waktu ya Guys! Ayo nabung. 😁 Kami tiba di Kuala lumpur pada pukul 8 malam. Kali ini kami mencoba untuk menggunakan Bus menuju dekat penginapan kami di NU Mall. Tarif per orangnya sekitar 11 RM saja dan membutuhkan waktu sekitar 90 menit. Jika tidak sedang terburu-buru atau tak sedang menuju Bandara lebih baik menggunakan Bus. Selain itu kan juga lebih hemat. hehehee

Kami berjalan menuju penginapan tidaklah terlalu jauh, kami berjalan sekitar 300 meter dari Terminal Bus. Hari itu sudah sekitar jam 10 malam kami memutuskan ingin memesan makanan cepat saji delivery. Alhasil, kami tak jadi karena susahnya untuk pesan makanan online. hahaha Tak ada Go-Food atau telepone delivery. Ya, Indonesia emang paling top deh. :D Mungkin masyarakat di sana dididik untuk tidak malas berjalan kaki dan memesan makanan pada tempatnya sebelum masuk rumah atau penginapan. hehhee  Hotel kami dekat dengan penjual kaki lima khas India maka kami memutuskan untuk membeli nasi goreng dan mie goreng seperti mie aceh yang khas rempah-rempah. Rasanya masih cocok untuk lidah orang Indonesia dan harganya hanya sekitar 3 RM saja per bungkus. Teh tariknya juga enak lho. Apalagi dimakan jam 1 malam :D (bukan curhat)

Selamat Berkelana ya Guys! 🙆

..to be continued..

Lihat Part 1
Lihat Part 2
Lihat Part 3

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates